Penjelasan Hadits Bukhari No. 5705 tentang Tujuh puluh ribu umat masuk surga tanpa hisab

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan keutamaan besar bagi 70.000 orang dari umat Nabi ﷺ yang masuk surga tanpa hisab. Ciri utama mereka adalah: tidak meminta ruqyah (jampi), tidak percaya pada thiyarah (ramalan buruk dari burung/kejadian), tidak melakukan kauterisasi (kay), dan hanya bertawakkal kepada Allah. Ini bukan larangan berobat, tetapi pujian bagi kesempurnaan tauhid dan tawakkal.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Ma'idah [5]: 23

وَقَالَ رَجُلَانِ مِنَ الَّذِينَ يَخَافُونَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمَا ادْخُلُوا عَلَيْهِمُ الْبَابَ فَإِذَا دَخَلْتُمُوهُ فَإِنَّكُمْ غَالِبُونَ ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Terjemahan: "Dan berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: 'Serbulah mereka melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.'"

QS. At-Talaq [65]: 3

وَارْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Terjemahan: "Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Ath-Thibb (Kedokteran), no. 5705, dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma. Juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ibnu Abbas dan Imran bin Hushain.

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan tawakkal dan tauhid yang sempurna.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan makna "لا يسترقون" (tidak meminta ruqyah) dan kaitannya dengan kesempurnaan tawakkal.

Penjelasan Rinci

Makna hadits secara umum:

Hadits ini memiliki dua bagian. Bagian pertama adalah perkataan Imran bin Hushain: "لاَ رُقْيَةَ إِلاَّ مِنْ عَيْنٍ أَوْ حُمَةٍ" — "Tidak ada ruqyah kecuali untuk 'ain (mata jahat) atau humah (sengatan binatang beracun)." Ini adalah pendapat Imran bin Hushain yang kemudian ia sampaikan kepada Sa'id bin Jubair, lalu Sa'id bin Jubair menyampaikan hadits Ibnu Abbas yang lebih lengkap.

Bagian kedua adalah hadits marfu' dari Ibnu Abbas tentang penyampaian Nabi ﷺ mengenai umat-umat yang ditampilkan di hadapannya, dan tentang 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab.

Penjelasan para ulama:

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa sabda Nabi ﷺ "هُمُ الَّذِينَ لاَ يَسْتَرْقُونَ" (mereka yang tidak meminta ruqyah) maksudnya adalah mereka tidak meminta orang lain untuk menjampi mereka. Ini bukan larangan ruqyah secara mutlak, karena Nabi ﷺ sendiri pernah diruqyah dan pernah meruqyah. Yang dipuji di sini adalah meninggalkan permintaan ruqyah karena kesempurnaan tawakkal kepada Allah.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang makna "لا يسترقون":

  • Pendapat pertama: mereka tidak meminta ruqyah kepada orang lain
  • Pendapat kedua: mereka tidak melakukan ruqyah sama sekali

Namun yang rajih (kuat) menurut Ibnu Hajar adalah pendapat pertama, karena Nabi ﷺ sendiri pernah diruqyah oleh Jibril dan pernah memerintahkan ruqyah.

Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya "Zad al-Ma'ad" menjelaskan bahwa empat sifat yang disebutkan dalam hadits ini — tidak meminta ruqyah, tidak bertathayyur, tidak ber-kay, dan bertawakkal — adalah bentuk kesempurnaan tauhid. Beliau menjelaskan bahwa meninggalkan hal-hal ini bukan karena haram, tetapi karena kesempurnaan iman dan tawakkal.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa tawakkal yang sempurna adalah menyandarkan hati sepenuhnya kepada Allah dalam mendatangkan manfaat dan menolak mudharat, disertai usaha yang dibolehkan syariat.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa berobat itu dibolehkan, tetapi ada tingkatan iman yang lebih tinggi, yaitu orang yang meninggalkan sebagian sebab karena kesempurnaan tawakkalnya.

Tentang 'Ukashah bin Mihshan:

Dalam hadits ini, 'Ukashah bin Mihshan bertanya apakah ia termasuk dari 70.000 orang tersebut, dan Nabi ﷺ menjawab "Ya." Kemudian orang lain bertanya, dan Nabi ﷺ menjawab "Ukashah telah mendahuluimu." Ini menunjukkan bahwa keutamaan ini tidak terbatas pada jumlah tertentu, tetapi bisa diperoleh oleh siapa saja yang memiliki sifat-sifat tersebut.

Kaitan dengan bab:

Imam Al-Bukhari meletakkan hadits ini dalam Kitab Ath-Thibb, Bab tentang siapa yang ber-hijamah atau meminta hijamah, dan keutamaan orang yang tidak melakukannya. Ini menunjukkan bahwa hijamah (bekam) dan ruqyah adalah hal yang dibolehkan, tetapi ada keutamaan bagi yang meninggalkannya karena tawakkal yang sempurna.

Story Telling

Dikisahkan bahwa setelah Nabi ﷺ menyampaikan tentang 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab, beliau masuk ke rumah tanpa menjelaskan siapa mereka. Para sahabat pun mulai membicarakannya. Sebagian berkata, "Kamilah yang beriman kepada Allah dan mengikuti Rasul-Nya, maka kamilah yang dimaksud." Sebagian lain berkata, "Mungkin anak-anak kami yang lahir dalam Islam, karena kami lahir di masa Jahiliyah."

Ketika Nabi ﷺ mendengar perbincangan mereka, beliau keluar dan menjelaskan ciri-ciri mereka: "Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta ruqyah, tidak bertathayyur, tidak ber-kay, dan hanya bertawakkal kepada Tuhan mereka."

Mendengar itu, 'Ukashah bin Mihshan radhiyallahu 'anhu segera berdiri dan bertanya, "Apakah aku termasuk dari mereka, ya Rasulullah?" Nabi ﷺ menjawab, "Ya." Kemudian seorang sahabat lain berdiri dan bertanya hal yang sama, dan Nabi ﷺ menjawab, "Ukashah telah mendahuluimu."

Hikmah dari kisah ini: keutamaan ini terbuka bagi siapa saja yang menghadirkan tauhid dan tawakkal yang sempurna dalam hatinya. 'Ukashah bin Mihshan adalah sahabat yang dikenal keberaniannya dan keimanannya yang kuat, dan ia termasuk salah satu dari 70.000 orang tersebut.

Kesimpulan Praktis

  1. Berobat itu dibolehkan — Nabi ﷺ berobat, memerintahkan berobat, dan membolehkan ruqyah serta hijamah.
  2. Ada keutamaan lebih tinggi — yaitu meninggalkan permintaan ruqyah, thiyarah, dan kay karena kesempurnaan tawakkal kepada Allah.
  3. Tawakkal bukan berarti meninggalkan usaha — tetapi menyandarkan hati kepada Allah setelah melakukan usaha yang dibolehkan.
  4. Jangan bertathayyur — jangan percaya pada ramalan buruk dari burung, angka, hari, atau kejadian tertentu.
  5. Perbanyak tawakkal — serahkan hasil kepada Allah setelah berusaha, karena Allah adalah sebaik-baik pelindung.
  6. Keutamaan ini terbuka — siapa saja yang menghadirkan sifat-sifat ini dalam hatinya dapat memperoleh keutamaan 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?