Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah petunjuk Nabi ﷺ tentang pengobatan dengan kemenyan India (al-‘ud al-Hindi). Beliau menyebutkan bahwa di dalamnya terdapat tujuh macam obat, dan beliau memberi contoh dua di antaranya: dihirup (istithaath) untuk penyakit ‘udzrah (radang tenggorokan/amandel) dan ditelan/dimulutkan (ladud) untuk penyakit dzatul-janb (radang selaput dada/pleuritis). Hadits ini juga mengajarkan tata cara membersihkan najis bayi yang belum makan makanan padat, yaitu cukup dengan memercikkan air.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Kedokteran, Bab Menggunakan Kemenyan India, nomor 5693, dari sahabat Ummu Qais binti Mihshan radhiyallahu ‘anha.
Teks Arab Hadits (dengan harakat lengkap):
عَنْ أُمِّ قَيْسٍ بِنْتِ مِحْصَنٍ، قَالَتْ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ: «عَلَيْكُمْ بِهَذَا الْعُودِ الْهِنْدِيِّ، فَإِنَّ فِيهِ سَبْعَةَ أَشْفِيَةٍ، يُسْتَعَطُ بِهِ مِنَ الْعُذْرَةِ، وَيُلَدُّ بِهِ مِنْ ذَاتِ الْجَنْبِ»
Terjemahan: "Gunakanlah kemenyan India ini, karena di dalamnya terdapat tujuh obat. Ia dihirup oleh orang yang mengalami masalah tenggorokan ('udzrah), dan dimasukkan ke dalam mulut orang yang menderita pleuritis (dzatul-janb)."
Ayat Al-Qur'an yang relevan tentang pengobatan dan penyembuhan dari Allah:
QS. Asy-Syu'ara' [26]: 80
وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ
"Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku."
Ayat ini mengajarkan bahwa kesembuhan sejati datangnya dari Allah, sedangkan obat hanyalah sebab yang diperintahkan untuk diusahakan.
Kaitan dengan ulama: Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Az-Zuhri (Muhammad bin Shihab az-Zuhri) dari Ubaidullah dari Ummu Qais. Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah seperti Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya Zad al-Ma'ad menjelaskan hadits ini secara panjang lebar sebagai dalil bolehnya berobat dengan bahan-bahan alami yang bermanfaat.
Penjelasan Rinci
1. Makna "al-‘ud al-Hindi" (Kemenyan India)
Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah kayu gaharu atau cendana India yang harum dan berkhasiat. Imam Ibnul Qayyim dalam Zad al-Ma'ad menyebutkan bahwa kayu ini memiliki sifat hangat dan kering, serta berkhasiat untuk menguatkan organ tubuh, melancarkan pernapasan, dan membersihkan tubuh dari lendir berlebih.
2. Makna "tujuh obat" (sab'atu asyfiyah)
Angka tujuh di sini menunjukkan banyaknya manfaat, bukan berarti hanya tujuh macam penyakit. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa Nabi ﷺ menyebutkan dua contoh saja, dan sisanya tidak disebutkan karena mungkin belum diketahui atau tidak perlu disebutkan saat itu. Ini menunjukkan bahwa kemenyan India memiliki banyak khasiat pengobatan.
3. Dua contoh pengobatan yang disebutkan:
- Istithaath (يُسْتَعَطُ) — yaitu menghirup/memasukkan obat ke hidung. Ini untuk penyakit 'udzrah, yaitu radang tenggorokan atau amandel yang sering menyerang anak-anak. Caranya dengan menghirup asap atau tetesan kemenyan yang dihaluskan.
- Ladud (يُلَدُّ) — yaitu memasukkan obat ke mulut dari sisi mulut (disuapkan/ditelan). Ini untuk penyakit dzatul-janb, yaitu radang selaput dada (pleuritis) yang menyebabkan nyeri di bagian dada. Caranya dengan mencampur kemenyan dengan air atau madu lalu diberikan kepada pasien.
4. Pelajaran dari kisah Ummu Qais
Di akhir hadits, Ummu Qais menceritakan bahwa ia membawa anaknya yang masih bayi (belum makan makanan padat) kepada Nabi ﷺ, lalu bayi tersebut buang air kecil di pangkuan beliau. Nabi ﷺ tidak marah, tetapi meminta air dan memercikkannya ke tempat yang terkena najis tersebut.
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa ini adalah dalil bahwa air kencing bayi laki-laki yang belum makan makanan padat cukup dibersihkan dengan memercikkan air saja, tidak perlu dicuci berulang kali. Ini adalah keringanan (rukhsah) dari Allah bagi umat Islam.
5. Pelajaran adab dan akhlak
Hadits ini juga mengajarkan:
- Kasih sayang Nabi ﷺ kepada anak kecil — beliau tidak marah ketika bayi buang air kecil di pangkuannya.
- Kesabaran dan kelembutan dalam menghadapi gangguan kecil.
- Pentingnya kebersihan dalam Islam, bahkan untuk najis sekalipun ada tata caranya.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang pengobatan, maka beliau menjawab dengan hadits-hadits pengobatan Nabi ﷺ, termasuk hadits kemenyan India ini. Beliau tidak menolak pengobatan medis, tetapi mengajarkan bahwa pengobatan terbaik adalah yang sesuai dengan tuntunan Nabi ﷺ.
Ada juga kisah dari Imam Az-Zuhri — perawi hadits ini — bahwa beliau adalah ulama yang sangat memperhatikan kesehatan dan kebersihan. Beliau berkata: "Barangsiapa yang menjaga perutnya, maka ia akan selamat dari banyak penyakit." Ini menunjukkan bahwa para ulama salaf sangat memperhatikan kesehatan sebagai bagian dari syukur atas nikmat Allah.
Kesimpulan Praktis
- Berobat adalah sunnah Nabi ﷺ — Islam tidak melarang pengobatan, bahkan menganjurkannya sebagai bentuk ikhtiar.
- Kemenyan India (gaharu/cendana) memiliki khasiat pengobatan — bisa digunakan untuk radang tenggorokan, batuk, dan masalah pernapasan lainnya.
- Cara membersihkan najis bayi laki-laki yang belum makan makanan padat — cukup dengan memercikkan air, tidak perlu dicuci berulang.
- Meneladani akhlak Nabi ﷺ — bersikap lembut kepada anak kecil dan tidak mudah marah.
- Obat hanyalah sebab, kesembuhan dari Allah — kita wajib berikhtiar dan berdoa.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.