Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 5675 tentang Bab Doa Orang yang Menjenguk Orang Sakit

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan doa yang dibaca oleh Rasulullah ﷺ ketika menjenguk orang sakit. Doa ini berisi permohonan agar Allah menghilangkan penyakit dan memberikan kesembuhan yang sempurna, karena hanya Allah-lah satu-satunya Penyembuh. Hadits ini menunjukkan adab dan tuntunan dalam menjenguk orang sakit, serta menguatkan tauhid dalam hati bahwa kesembuhan datang hanya dari Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an terkait (tentang kesembuhan dari Allah):

QS. Asy-Syu’ara’ [26]: 80

<details>

<summary>Teks Arab dengan Harakat</summary>

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

</details>

Artinya: “Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku.”

Hadits yang dimaksud:

Shahih al-Bukhari, no. 5675, dari ‘Aisyah radhiyallahu 'anha:

<details>

<summary>Teks Arab dengan Harakat</summary>

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ، حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، عَنْ مَنْصُورٍ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ مَسْرُوقٍ، عَنْ عَائِشَةَ ـ رضى الله عنها أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ كَانَ إِذَا أَتَى مَرِيضًا ـ أَوْ أُتِيَ بِهِ ـ قَالَ ‏"‏ أَذْهِبِ الْبَاسَ رَبَّ النَّاسِ، اشْفِ وَأَنْتَ الشَّافِي لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا ‏"‏.

</details>

Rujukan dari ulama dalam daftar:

  1. Ibnu Hajar al-‘Asqalani (w. 852 H) dalam Fath al-Bari (10/118-119) menjelaskan makna doa ini, bahwa “al-ba’s” berarti penyakit yang berat atau penderitaan, dan doa ini mencakup permohonan penghilangan penyakit serta kesembuhan total. Beliau juga membahas perbedaan riwayat tentang lafaz “idza utiya bihi” (jika orang sakit dibawa kepada beliau).
  2. Imam an-Nawawi (w. 676 H) dalam al-Adzkar (bab doa menjenguk orang sakit) menyebutkan hadits ini dan menegaskan bahwa disunnahkan membaca doa ini dengan penuh keyakinan bahwa hanya Allah yang menyembuhkan.
  3. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah (w. 751 H) dalam Zad al-Ma’ad (4/186-187) membahas hadits ini sebagai salah satu doa yang mustajab karena mengandung pengakuan tauhid dan ketundukan mutlak kepada Allah.
  4. Imam al-Bukhari sendiri meriwayatkan hadits ini dalam Shahih-nya pada Kitab al-Maradha (Kitab Penyakit), Bab Do’a al-‘A’id li al-Maridh (Bab Doa Orang yang Menjenguk Orang Sakit), menunjukkan pentingnya doa ini sebagai amalan sunnah.

Penjelasan Rinci

Makna doa secara keseluruhan:

Doa ini terdiri dari beberapa kalimat yang saling melengkapi:

  • “Ażhib al-ba’sa” artinya “Hilangkanlah penyakit” atau “Lenyapkanlah penderitaan”. Kata al-ba’s menurut Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari berarti penyakit yang berat atau rasa sakit yang menyiksa. Ini adalah permohonan agar Allah mencabut penyakit tersebut dari tubuh si sakit.
  • “Rabba an-nās” artinya “Wahai Tuhan manusia”. Seruan ini menegaskan bahwa Allah adalah Rabb, Penguasa dan Pemelihara seluruh manusia, sehingga hanya Dia yang berhak dimintai kesembuhan.
  • “Isyfi wa anta asy-syāfī” artinya “Sembuhkanlah, karena Engkau adalah Maha Penyembuh”. Kalimat ini mengakui bahwa sifat asy-syāfī (Maha Menyembuhkan) adalah milik Allah semata, dan tidak ada kesembuhan hakiki selain dari-Nya.
  • “Lā syifā’a illā syifā’uka” artinya “Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan-Mu”. Ini adalah pernyataan tauhid yang kuat, meniadakan segala bentuk kesembuhan dari selain Allah, baik itu obat, dokter, atau usaha lainnya, kecuali jika Allah menghendaki.
  • “Syifā’an lā yughādiru saqaman” artinya “Kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit”. Permohonan ini menghendaki kesembuhan yang sempurna dan total, tidak ada sisa rasa sakit atau efek samping. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Qayyim dalam Zad al-Ma’ad, ini adalah doa yang paling lengkap karena mencakup permohonan penghilangan penyakit dan pemulihan kesehatan secara menyeluruh.

Perbedaan redaksi dalam hadits:

Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari menjelaskan adanya perbedaan lafaz dalam periwayatan. Ada yang meriwayatkan “idza atā marīḍan” (ketika beliau mendatangi orang sakit) dan ada yang “idza utiya bihi” (ketika orang sakit dibawa kepada beliau). Kedua riwayat ini shahih dan menunjukkan bahwa doa ini dibaca baik ketika Rasulullah ﷺ yang datang menjenguk maupun ketika orang sakit diantarkan atau dibawa ke hadapan beliau. Tidak ada pertentangan, tetapi keduanya mencakup situasi menjenguk secara umum.

Kandungan tauhid dan adab menjenguk:

Para ulama dari kalangan salaf seperti Imam Ahmad, Isḥāq bin Rāhawaih, dan al-Bukhārī mengajarkan agar doa ini diamalkan ketika menjenguk orang sakit. Ibnu Rajab dalam Jāmi’ al-‘Ulūm wa al-Ḥikam (meskipun tidak secara langsung membahas hadits ini) mengajarkan bahwa doa untuk orang sakit adalah bentuk kasih sayang dan pengakuan bahwa kesembuhan hanya di tangan Allah.

Doa ini juga mengajarkan agar kita tidak bergantung semata-mata pada faktor medis, tetapi tetap berdoa dengan penuh keyakinan kepada Allah. Sebab, sebagaimana dikatakan Ibnu al-Mubārak (dalam az-Zuhd), orang yang berdoa dengan yakin maka Allah akan memberi kesembuhan.

Story Telling

Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahīh-nya juga dari ‘Aisyah radhiyallahu 'anha, bahwa ketika Rasulullah ﷺ menjenguk salah seorang sahabat yang sakit, beliau membacakan doa ini. Dalam riwayat lain (Shahih Muslim, no. 2191) disebutkan bahwa beliau menjenguk Sa’ad bin Abi Waqqash dan mendoakannya dengan doa ini. Sa’ad sendiri kemudian sembuh dari sakitnya dan menjadi tokoh penting dalam sejarah Islam.

Kisah ini mengajarkan kita bahwa doa adalah senjata orang mukmin. Meskipun sakit itu datang dari Allah, namun kita tetap diperintahkan untuk berusaha mencari kesembuhan melalui doa dan pengobatan yang mubah. Doa ini menjadi warisan berharga dari Nabi ﷺ yang penuh dengan makna tauhid.

Kesimpulan Praktis

  1. Bacalah doa ini ketika menjenguk orang sakit – baik saat Anda datang mengunjungi atau saat orang sakit itu dibawa ke hadapan Anda. Letakkan tangan Anda di bagian yang sakit jika memungkinkan (seperti yang dilakukan Rasulullah ﷺ dalam riwayat lain).
  2. Yakinlah bahwa hanya Allah yang menyembuhkan – obat dan usaha manusia hanyalah sebab, sedangkan kesembuhan sejati mutlak dari Allah.
  3. Jagalah adab dalam menjenguk – jangan membuat orang sakit merasa terbebani, berdoalah dengan suara lembut, dan hiburlah ia dengan kata-kata yang menenangkan.
  4. Jangan berdoa dengan keyakinan yang rapuh – berdoalah dengan penuh harap dan tawakal.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.