Penjelasan Hadits Bukhari No. 567 tentang Keutamaan shalat Isya berjamaah di akhir waktu

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan keutamaan besar shalat Isya berjamaah, terutama ketika dikerjakan di waktu yang berat dan hanya sedikit orang yang melakukannya. Nabi ﷺ memberi kabar gembira kepada para sahabat bahwa mereka mendapat nikmat khusus dari Allah karena tidak ada orang lain yang shalat pada waktu itu selain mereka. Ini mengajarkan kita untuk bersemangat menjaga shalat Isya berjamaah, meskipun lelah atau sibuk.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Waktu Shalat, Bab Keutamaan Shalat Isya, dari sahabat Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu.

Teks hadits lengkap telah disebutkan dalam pertanyaan. Berikut potongan penting sabda Nabi ﷺ:

عَلَى رِسْلِكُمْ، أَبْشِرُوا إِنَّ مِنْ نِعْمَةِ اللَّهِ عَلَيْكُمْ أَنَّهُ لَيْسَ أَحَدٌ مِنَ النَّاسِ يُصَلِّي هَذِهِ السَّاعَةَ غَيْرُكُمْ

"Bersabarlah, bergembiralah! Sesungguhnya termasuk nikmat Allah atas kalian bahwa tidak ada seorang pun dari manusia yang shalat pada waktu ini selain kalian."

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan keutamaan shalat berjamaah dan menjaga waktu shalat:

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

QS. Al-Baqarah [2]: 238

"Peliharalah semua shalat dan shalat wustha, dan berdirilah untuk Allah dengan khusyuk."

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini memerintahkan untuk menjaga semua shalat pada waktunya, termasuk shalat Isya.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:

Pertama: Keutamaan shalat Isya berjamaah di waktu yang sulit.

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa sabda Nabi ﷺ "tidak ada yang shalat pada waktu ini selain kalian" menunjukkan keutamaan khusus bagi orang yang menjaga shalat Isya berjamaah, karena waktu Isya adalah waktu yang berat—orang biasanya sudah lelah dan ingin tidur. Siapa yang tetap bangkit untuk shalat, ia mendapat keutamaan besar.

Kedua: Bergiliran menghadiri majelis Nabi ﷺ.

Abu Musa dan para sahabatnya yang datang dengan perahu (mereka adalah kaum Asy'ariyin) tinggal di Baqi Buthan, agak jauh dari Masjid Nabawi. Mereka mengatur giliran untuk menghadiri shalat Isya bersama Nabi ﷺ, karena tidak semua bisa hadir setiap malam. Ini menunjukkan semangat mereka dalam mencari ilmu dan ibadah, serta hikmah mengatur waktu secara bijak.

Ketiga: Sabar menunggu shalat.

Ketika Nabi ﷺ menunda shalat Isya hingga tengah malam karena sibuk dengan urusan kaum muslimin, para sahabat tetap menunggu dengan sabar. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa menunggu shalat termasuk amal yang berpahala, dan ini menunjukkan bolehnya menunda shalat Isya hingga sepertiga malam atau lebih jika ada maslahat, selama tidak sampai keluar waktu.

Keempat: Kabar gembira sebagai motivasi.

Nabi ﷺ tidak hanya memerintah, tetapi juga memberi kabar gembira (basyir) kepada para sahabat. Ini adalah metode pendidikan Nabi ﷺ yang lembut—memberi semangat sebelum memberi beban. Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya menyebutkan bahwa Rasulullah ﷺ sering menggabungkan antara targhib (motivasi) dan tarhib (peringatan) dalam mendidik sahabat.

Kelima: Perbedaan pendapat tentang waktu Isya.

Para ulama dari daftar rujukan berbeda pendapat tentang waktu terbaik shalat Isya. Imam Asy-Syafi'i dan Imam Ahmad berpendapat bahwa mengakhirkan Isya lebih utama jika tidak memberatkan jamaah, berdasarkan hadits ini. Imam Abu Hanifah dan Imam Malik berpendapat bahwa mengerjakan di awal waktu lebih utama, kecuali jika ada alasan. Pendapat yang paling kuat—sebagaimana dikuatkan oleh Ibnu Hajar dan An-Nawawi—adalah bahwa mengakhirkan Isya lebih utama jika tidak menyulitkan, karena Nabi ﷺ melakukannya dan memberi kabar gembira kepada yang hadir.

Story Telling

Dikisahkan oleh Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu—seorang sahabat yang datang dari Yaman bersama kaumnya dengan perahu, mendarat di Baqi Buthan, sebuah lembah di dekat Madinah. Mereka adalah orang-orang yang jauh dari keluarga dan kampung halaman, namun hati mereka terikat dengan masjid Nabi ﷺ.

Setiap malam, mereka bergiliran: sebagian datang ke masjid untuk shalat Isya bersama Nabi ﷺ, sebagian lain beristirahat atau menjaga tempat tinggal. Malam itu, giliran Abu Musa dan beberapa sahabatnya. Mereka datang ke masjid, namun Nabi ﷺ belum keluar karena sedang mengurus suatu urusan penting.

Mereka menunggu. Malam semakin larut. Langit gelap, angin malam terasa dingin, dan rasa kantuk mulai menyerang. Namun mereka tetap duduk, menunggu dengan sabar. Hingga akhirnya, ketika malam sudah benar-benar gelap—sebagaimana kata Abu Musa "حَتَّى ابْهَارَّ اللَّيْلُ" (hingga malam menjadi sangat gelap)—Nabi ﷺ keluar dan memimpin mereka shalat.

Setelah shalat selesai, Nabi ﷺ tidak langsung pergi. Beliau menoleh kepada jamaah yang hadir dan berkata dengan lembut: "Bersabarlah, jangan buru-buru pergi. Bergembiralah! Sesungguhnya ini adalah nikmat Allah atas kalian—tidak ada seorang pun di muka bumi ini yang shalat pada waktu ini selain kalian."

Bayangkan perasaan Abu Musa dan para sahabatnya. Mereka datang dari jauh, menunggu lama, melawan kantuk dan lelah—lalu mendapat pujian langsung dari Rasulullah ﷺ dan kabar gembira bahwa mereka istimewa di sisi Allah. Abu Musa berkata: "Maka kami kembali dengan gembira setelah apa yang kami dengar dari Rasulullah ﷺ."

Hikmahnya: kelelahan dalam beribadah tidaklah sia-sia. Allah melihat usaha hamba-Nya, dan Nabi ﷺ menghargai kesabaran mereka dengan kabar gembira yang menenangkan hati.

Kesimpulan Praktis

  1. Jaga shalat Isya berjamaah di masjid, terutama ketika waktu sudah larut dan hanya sedikit orang yang shalat—karena di situlah keutamaan besar berada.
  2. Bersabar dalam menunggu shalat dan jangan menganggapnya beban, karena menunggu shalat adalah bagian dari ibadah.
  3. Bergiliran dalam kebaikan jika ada keterbatasan—seperti yang dilakukan para sahabat—agar semua tetap mendapat bagian kebaikan.
  4. Saling memberi semangat dalam beribadah, bukan hanya memerintah, meneladani metode Nabi ﷺ yang memberi kabar gembira sebelum memberi beban.
  5. Jangan remehkan shalat Isya, karena ia adalah salah satu shalat yang paling berat bagi orang munafik, namun paling besar pahalanya bagi orang beriman.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?