Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 5666 tentang Kebolehan mengeluh sakit dan wasiat kepemimpinan saat sakit

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan betapa lembutnya akhlak Nabi ﷺ dalam menghadapi keluhan istrinya, Aisyah radhiyallahu 'anha, saat beliau sakit. Hadits ini juga mengajarkan bahwa mengeluhkan rasa sakit itu diperbolehkan selama tidak berbentuk protes kepada takdir Allah, dan di dalamnya terdapat isyarat penting tentang penunjukan Abu Bakr sebagai khalifah pengganti Nabi ﷺ.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Mardha (Penyakit), Bab "Qaul Al-Maridh: Inni Wa'ak" (Bab Perkataan Orang Sakit: 'Aku Sakit' atau 'Aduh Kepalaku'). Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al-Jana'iz, Bab "Wasiat An-Nabi ﷺ bi Abi Bakr".

Ayat Al-Qur'an yang Relevan:

QS. Ali 'Imran [3]: 139

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

"Janganlah kamu merasa lemah dan jangan pula bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang yang beriman."

Ayat ini mengajarkan agar seorang mukmin tidak larut dalam kesedihan dan kelemahan, namun tetap tabah menghadapi ujian, termasuk sakit.

Kaitan dengan Ulama:

  • Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya seseorang mengeluhkan rasa sakitnya dengan ungkapan seperti "Aduh kepalaku" atau "Aku sakit", selama hal itu tidak mengandung rasa tidak ridha terhadap takdir Allah. Beliau menukil penjelasan para ulama bahwa hal ini termasuk ikhtibar (mengabarkan keadaan) yang diperbolehkan.
  • Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim juga menjelaskan bahwa mengeluhkan sakit dengan lisan itu tidak dilarang, karena hal itu hanyalah mengabarkan keadaan diri, dan Nabi ﷺ sendiri tidak mengingkari Aisyah saat mengucapkan "Wara'sah" (Aduh kepalaku).

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama:

1. Bolehnya Mengeluhkan Rasa Sakit

Para ulama membedakan antara tasyakki (mengeluh) yang tercela dan ikhbar (mengabarkan keadaan) yang diperbolehkan. Mengeluh yang tercela adalah ketika seseorang mengeluh dengan nada protes dan tidak ridha kepada takdir Allah. Adapun sekadar mengabarkan rasa sakit seperti "Aku sakit" atau "Aduh kepalaku" adalah perkara yang dimaafkan, bahkan Nabi ﷺ sendiri tidak mengingkari Aisyah ketika beliau mengucapkan hal tersebut.

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil bolehnya seseorang mengeluhkan rasa sakitnya, dan ini adalah pendapat jumhur ulama. Beliau juga menukil perkataan Al-Qurthubi bahwa hal ini tidak bertentangan dengan kesabaran, karena kesabaran itu letaknya di hati, bukan sekadar menahan lisan dari mengabarkan keadaan.

2. Kelembutan Akhlak Nabi ﷺ

Saat Aisyah mengeluh "Wara'sah" (Aduh kepalaku), Nabi ﷺ merespons dengan candaan yang lembut: "Seandainya itu terjadi (engkau meninggal) saat aku masih hidup, maka aku akan meminta ampunan Allah untukmu dan mendoakanmu." Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidak marah atau mencela istrinya, melainkan merespons dengan kelembutan dan humor yang menenangkan.

3. Isyarat Penunjukan Abu Bakr sebagai Khalifah

Bagian akhir hadits ini sangat penting. Nabi ﷺ bersabda bahwa beliau sempat berkeinginan untuk mengirim utusan kepada Abu Bakr dan putranya (Abdurrahman) untuk menulis wasiat agar Abu Bakr menjadi pengganti beliau, agar tidak ada orang yang mengklaim atau berharap sesuatu (menjadi khalifah). Namun kemudian Nabi ﷺ mengurungkan niatnya karena yakin Allah dan kaum mukminin akan mencegah hal tersebut.

Imam Ibnu Hajar menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan Abu Bakr dan menjadi dalil bahwa beliau adalah orang yang paling berhak menjadi khalifah setelah Nabi ﷺ. Para ulama menyebutkan bahwa Nabi ﷺ akhirnya tetap menegaskan hal ini di akhir hayatnya dengan memerintahkan Abu Bakr untuk menjadi imam shalat menggantikan beliau.

4. Pelajaran tentang Sakit dan Kematian

Saat Aisyah berkata "Wa tsukliyah" (ungkapan kesedihan karena kehilangan orang tercinta), ini menunjukkan bahwa seorang mukmin boleh merasakan kesedihan saat menghadapi sakit atau kematian, selama tidak sampai pada tingkat protes kepada Allah. Nabi ﷺ tidak mencela Aisyah atas ucapan ini, melainkan terus merespons dengan kelembutan.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa ketika Nabi ﷺ sakit menjelang wafatnya, beliau tetap memperhatikan kepentingan umatnya. Beliau bersabda kepada para sahabat yang hadir:

"أَرِيدُ أَنْ أَكْتُبَ لَكُمْ كِتَابًا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ أَبَدًا"

"Aku ingin menuliskan untuk kalian sebuah wasiat yang kalian tidak akan tersesat setelahnya selama-lamanya."

Namun kemudian terjadi perbedaan pendapat di antara para sahabat yang hadir, dan Nabi ﷺ memilih untuk tidak menulisnya. Para ulama menjelaskan bahwa Nabi ﷺ mengurungkan niatnya karena Allah telah menjaga agama ini, dan kaum mukminin akan bersatu di atas kebenaran.

Kisah ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ sangat memperhatikan umatnya hingga akhir hayatnya, dan bahwa Allah menjaga agama ini dari perpecahan. Ini juga menjadi dalil bahwa Abu Bakr ash-Shiddiq adalah khalifah yang sah, karena Nabi ﷺ telah mengisyaratkan hal tersebut dan kaum mukminin pun sepakat membaiatnya.

Kesimpulan Praktis

  1. Boleh mengeluhkan rasa sakit dengan ungkapan seperti "Aku sakit" atau "Aduh kepalaku", selama tidak disertai protes kepada takdir Allah.
  2. Meneladani akhlak Nabi ﷺ dalam menghadapi keluhan orang lain, yaitu dengan kelembutan dan tidak mencela.
  3. Menjaga adab berbicara dengan suami/istri dengan cara yang lembut dan penuh kasih sayang, meskipun dalam keadaan sakit.
  4. Meyakini keutamaan Abu Bakr ash-Shiddiq sebagai khalifah pertama yang sah, sebagaimana diisyaratkan oleh Nabi ﷺ dalam hadits ini.
  5. Bersabar dalam sakit dan tidak larut dalam kesedihan, karena kesabaran itu di hati, bukan sekadar menahan lisan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.