Penjelasan Hadits Bukhari No. 566 tentang Keutamaan menunggu shalat Isya

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa shalat Isya boleh dikerjakan agak malam, dan itu pernah dilakukan Nabi ﷺ. Namun beliau tidak menjadikannya kebiasaan wajib, karena memberatkan umat. Keutamaan besar bagi orang yang menunggu shalat Isya berjamaah, karena pada masa itu hanya kaum Muslimin yang mengerjakannya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Waktu Shalat, Bab Keutamaan Shalat Isya, no. 566, dari jalur 'Urwah bin az-Zubair, dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha.

Teks hadits:

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ، قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، عَنْ عُقَيْلٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عُرْوَةَ، أَنَّ عَائِشَةَ، أَخْبَرَتْهُ قَالَتْ، أَعْتَمَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لَيْلَةً بِالْعِشَاءِ، وَذَلِكَ قَبْلَ أَنْ يَفْشُوَ الإِسْلاَمُ، فَلَمْ يَخْرُجْ حَتَّى قَالَ عُمَرُ نَامَ النِّسَاءُ وَالصِّبْيَانُ. فَخَرَجَ فَقَالَ لأَهْلِ الْمَسْجِدِ " مَا يَنْتَظِرُهَا أَحَدٌ مِنْ أَهْلِ الأَرْضِ غَيْرُكُمْ "

Terjemahan: "Aisyah berkata: Rasulullah ﷺ pernah menunda shalat Isya pada suatu malam, dan itu terjadi sebelum Islam menyebar luas. Beliau tidak keluar hingga Umar berkata: 'Para wanita dan anak-anak telah tidur.' Kemudian beliau keluar dan bersabda kepada orang-orang di masjid: 'Tidak ada seorang pun dari penduduk bumi yang menunggu shalat ini selain kalian.'"

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan waktu shalat:

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

(QS. An-Nisa' [4]: 103)

" Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditetapkan waktunya atas orang-orang mukmin."

Penjelasan Rinci

Hadits ini menjelaskan beberapa hal penting:

Pertama: Bolehnya menunda shalat Isya.

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa waktu Isya dimulai setelah hilangnya cahaya merah (syafaq) dan berlanjut hingga pertengahan malam. Menunda hingga sepertiga malam atau pertengahan malam hukumnya boleh, bahkan lebih utama jika tidak memberatkan jamaah. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa Nabi ﷺ terkadang menyegerakan dan terkadang menunda, melihat keadaan.

Kedua: Sabda Nabi ﷺ "Tidak ada yang menunggu selain kalian."

Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ini menunjukkan keutamaan umat Islam saat itu, karena hanya mereka yang menunggu shalat Isya, sementara umat lain tidak. Ini juga isyarat bahwa shalat Isya berjamaah memiliki keutamaan besar. Imam An-Nawawi menambahkan bahwa menunggu shalat berjamaah termasuk amal saleh yang berpahala.

Ketiga: Ucapan Umar bin al-Khaththab.

Umar radhiyallahu 'anhu memberi isyarat kepada Nabi ﷺ bahwa jamaah sudah menunggu lama. Ini menunjukkan adab Umar dalam mengingatkan dengan cara yang lembut, dan Nabi ﷺ tidak marah. Ini menjadi pelajaran bagi kita untuk saling mengingatkan dengan baik.

Keempat: Konteks "sebelum Islam menyebar luas."

Ibnu Hajar menjelaskan bahwa pada masa awal, jumlah Muslim sedikit dan mereka bersabar menunggu. Setelah Islam menyebar dan umat bertambah, Nabi ﷺ mulai menyegerakan shalat Isya agar tidak memberatkan. Ini menunjukkan bahwa syariat memperhatikan kemudahan.

Perbedaan pendapat ulama:

  • Imam Asy-Syafi'i dan Imam Ahmad berpendapat bahwa menunda Isya hingga sepertiga malam lebih utama, selama tidak memberatkan.
  • Imam Abu Hanifah dan Imam Malik berpendapat menyegerakan lebih utama, kecuali jika jamaah sepakat menunda.
  • Pendapat yang paling kuat menurut dalil adalah menyesuaikan dengan keadaan jamaah, sebagaimana dilakukan Nabi ﷺ.

Story Telling

Diriwayatkan oleh 'Aisyah radhiyallahu 'anha bahwa suatu malam Nabi ﷺ terlambat keluar untuk shalat Isya. Para sahabat sudah menunggu di masjid, sementara para wanita dan anak-anak mulai tertidur. Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu kemudian berkata dengan lembut, "Wahai Rasulullah, para wanita dan anak-anak telah tidur." Mendengar itu, Nabi ﷺ keluar dan bersabda, "Tidak ada seorang pun di bumi ini yang menunggu shalat ini selain kalian." Betapa besar keutamaan mereka saat itu, karena hanya mereka yang menjaga shalat Isya berjamaah. (HR. Al-Bukhari no. 566)

Kesimpulan Praktis

  1. Shalat Isya boleh dikerjakan agak malam, tetapi jangan sampai melewati batas waktunya.
  2. Menunggu shalat berjamaah, terutama Isya, memiliki keutamaan besar.
  3. Hendaklah saling mengingatkan dengan lembut, seperti Umar mengingatkan Nabi ﷺ.
  4. Sesuaikan waktu shalat dengan keadaan jamaah agar tidak memberatkan.
  5. Jagalah shalat berjamaah, karena itu tanda keimanan dan persatuan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?