Penjelasan Hadits Bukhari No. 5657 tentang Menjenguk orang sakit meski berbeda agama dan berdakwah kepadanya

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ mengunjungi seorang anak Yahudi yang sedang sakit dan melayaninya. Beliau tidak segan untuk berdakwah kepadanya dengan lembut, dan anak itu pun akhirnya masuk Islam. Ini adalah dalil bahwa menjenguk orang non-Muslim itu boleh, bahkan dianjurkan sebagai sarana dakwah, selama ada harapan kebaikan dan tidak ada mudharat.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Maradha (Penyakit), Bab "Iyadatul Musyrik" (Menjenguk Orang Musyrik), no. 5657, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu.

Teks Arab Hadits (dengan harakat lengkap):

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، عَنْ ثَابِتٍ، عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ غُلَامًا لِيَهُودَ كَانَ يَخْدُمُ النَّبِيَّ ﷺ فَمَرِضَ، فَأَتَاهُ النَّبِيُّ ﷺ يَعُودُهُ، فَقَالَ: "أَسْلِمْ" فَأَسْلَمَ.

Makna Ringkas: Seorang anak Yahudi yang biasa melayani Nabi ﷺ jatuh sakit. Maka Nabi ﷺ menjenguknya, lalu mengajaknya masuk Islam, dan anak itu pun masuk Islam.

Ayat Al-Qur'an yang Terkait (tentang larangan memaksa, dan dakwah yang baik):

QS. Al-Baqarah [2]: 256

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

"Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama. Sungguh, telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Barangsiapa ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sungguh dia telah berpegang teguh pada buhul (tali) yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui."

Kaitan dengan Ulama: Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan hadits ini secara panjang lebar, termasuk faedah dibolehkannya menjenguk orang musyrik dan hikmah dakwah di dalamnya. Beliau juga menyebutkan kisah Abu Thalib yang diriwayatkan oleh Sa'id bin al-Musayyab sebagai penguat bahwa Nabi ﷺ juga menjenguk pamannya yang musyrik saat sakaratul maut.

Penjelasan Rinci

Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan beberapa faedah penting dari hadits ini:

  1. Bolehnya Menjenguk Orang Non-Muslim: Imam Al-Bukhari membuat bab khusus dengan judul "Menjenguk Orang Musyrik" untuk menunjukkan bahwa perbuatan ini dibolehkan. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menukil pendapat yang menyatakan bahwa menjenguk orang musyrik itu disunnahkan jika ada harapan keislamannya atau untuk menjaga hubungan baik, selama tidak ada mudharat bagi agama.
  2. Dakwah dengan Kasih Sayang: Sikap Nabi ﷺ yang menjenguk anak Yahudi yang sakit menunjukkan bahwa dakwah itu dilakukan dengan kasih sayang, bukan dengan paksaan. Beliau memanfaatkan momen ketika seseorang sedang lemah dan membutuhkan perhatian untuk menyampaikan kebenaran. Ini sejalan dengan firman Allah dalam QS. An-Nahl [16]: 125 yang memerintahkan dakwah dengan hikmah dan pelajaran yang baik.
  3. Menghargai Jasa Pelayanan: Anak Yahudi itu adalah pelayan Nabi ﷺ. Ketika dia sakit, Nabi ﷺ tidak melupakannya. Ini mengajarkan kita untuk selalu berbuat baik kepada siapa pun yang berbuat baik kepada kita, meskipun berbeda agama. Ini adalah akhlak mulia yang dicontohkan oleh Nabi ﷺ.
  4. Perbedaan dengan Kisah Abu Thalib: Dalam riwayat Sa'id bin al-Musayyab yang disebutkan oleh Al-Bukhari, Nabi ﷺ juga menjenguk pamannya, Abu Thalib, saat sakaratul maut dan mengajaknya masuk Islam. Namun, Abu Thalib tidak beriman karena pengaruh lingkungannya. Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ berusaha semaksimal mungkin, namun hidayah tetap milik Allah semata. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat QS. Al-Qashash [28]: 56 turun berkenaan dengan hal ini, bahwa Nabi ﷺ tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang dicintainya, tetapi Allah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.
  5. Hidayah adalah Hak Prerogatif Allah: Keislaman anak Yahudi itu adalah karunia Allah. Nabi ﷺ hanya menyampaikan, dan Allah yang membolak-balikkan hati. Ini mengajarkan kita untuk tidak berputus asa dalam berdakwah, tetapi juga tidak boleh memaksa atau berkecil hati jika hasilnya belum sesuai harapan.

Story Telling

Dari kisah ini, kita bisa membayangkan betapa agungnya akhlak Nabi ﷺ. Beliau adalah seorang pemimpin besar, namun tetap memperhatikan seorang anak kecil yang menjadi pelayannya. Ketika anak itu sakit, beliau datang ke rumahnya, duduk di sampingnya, dan dengan lembut mengajaknya kepada Islam.

Anak itu, yang mungkin melihat langsung kelembutan dan kemuliaan akhlak Nabi ﷺ dalam kesehariannya, akhirnya membuka hatinya. Ini adalah pelajaran bahwa dakwah yang paling efektif adalah dengan akhlak yang baik. Orang akan lebih mudah menerima kebenaran jika melihat kebenaran itu dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari oleh para da'inya.

Kesimpulan Praktis

  1. Jenguklah orang sakit, siapa pun dia. Ini adalah hak persaudaraan dan akhlak mulia, bahkan kepada non-Muslim sekalipun.
  2. Jadikan momen tersebut sebagai sarana dakwah. Sampaikan kebaikan dengan cara yang lembut dan bijaksana, tanpa paksaan.
  3. Berbuat baiklah kepada orang yang berbuat baik kepada kita. Jangan membalas kebaikan dengan keburukan, meskipun berbeda keyakinan.
  4. Serahkan hasil dakwah kepada Allah. Tugas kita hanyalah menyampaikan dengan baik, dan hidayah adalah urusan Allah semata.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?