Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa ujian dan cobaan (terutama penyakit) adalah tanda kebaikan dari Allah untuk seorang hamba. Bukan berarti Allah murka, melainkan bentuk kasih sayang-Nya untuk mengangkat derajat, menghapus dosa, dan mendekatkan hamba kepada-Nya. Seorang mukmin hendaknya bersabar dan berprasangka baik kepada Allah ketika ditimpa musibah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:
Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf, telah mengabarkan kepada kami Malik, dari Muhammad bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abi Sha'sha'ah, bahwa ia berkata: Aku mendengar Sa'id bin Yasar Abul Hubab berkata: Aku mendengar Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ
Artinya: "Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Dia akan mengujinya (dengan cobaan)."
Ayat Al-Qur'an yang terkait:
QS. Al-Baqarah [2]: 155
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
Artinya: "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar."
Penjelasan Ulama:
- Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna hadits ini adalah: "Cobaan itu menjadi pembersih dosa dan pengangkat derajat. Semakin besar cobaan, semakin besar pula pahala dan kebaikan yang diperoleh."
- Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (10/107) mengatakan: "Makna 'yushib minhu' (mengujinya) adalah Allah menimpakan musibah pada tubuh, harta, atau anaknya sebagai ujian. Jika ia bersabar, maka itu menjadi kebaikan baginya."
- Imam Al-Bukhari sendiri menempatkan hadits ini dalam "Bab Kaffarah (Penghapus Dosa) Penyakit", menunjukkan bahwa penyakit adalah salah satu sarana penghapus dosa.
Penjelasan Rinci
Hadits ini merupakan salah satu hadits yang sangat menenangkan hati seorang mukmin. Ketika ditimpa musibah, janganlah berburuk sangka kepada Allah. Sebaliknya, pahamilah bahwa Allah sedang memberikan kebaikan.
Makna "Kebaikan" dalam Hadits:
Kebaikan yang dimaksud bukanlah kebaikan duniawi semata, melainkan kebaikan hakiki di sisi Allah. Bentuk kebaikan tersebut antara lain:
- Penghapus dosa: Setiap rasa sakit, kesedihan, dan gangguan yang menimpa seorang mukmin akan menjadi penghapus dosa-dosanya. Imam Al-Bukhari meriwayatkan hadits lain: "Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kesedihan, gangguan, dan duka cita, hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapus dosa-dosanya karenanya." (HR. Bukhari no. 5641)
- Pengangkat derajat: Cobaan yang dihadapi dengan sabar akan mengangkat kedudukan seseorang di surga.
- Pengingat untuk kembali kepada Allah: Terkadang manusia lalai dalam kenikmatan, maka cobaan menjadi pengingat untuk kembali taat dan bersyukur.
Pandangan Ulama Salaf:
- Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata: "Janganlah engkau benci terhadap musibah yang menimpamu, karena bisa jadi sesuatu yang engkau benci justru menjadi sebab keselamatanmu, dan sesuatu yang engkau cintai justru menjadi sebab kebinasaanmu."
- Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami'ul 'Ulum wal Hikam menjelaskan: "Cobaan bagi seorang mukmin ibarat obat pahit yang menyembuhkan penyakit. Meskipun pahit, namun manfaatnya besar. Maka bersabarlah, karena kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa."
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menegaskan bahwa ujian adalah sunnatullah bagi hamba-Nya, dan kesabaran adalah kunci untuk meraih pahala yang besar.
Perbedaan Tingkat Ujian:
Para ulama menjelaskan bahwa semakin tinggi keimanan seseorang, semakin berat pula ujian yang diberikan. Hal ini sebagaimana hadits riwayat Imam At-Tirmidzi: "Sesungguhnya orang yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang-orang shalih, kemudian yang semisal mereka."
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Sa'ad bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu, salah satu sahabat yang dijamin masuk surga, pernah ditimpa sakit yang sangat parah. Beliau hampir putus asa. Lalu Rasulullah ﷺ datang menjenguknya dan bersabda:
"Ya Allah, sembuhkanlah Sa'ad. Ya Allah, sembuhkanlah Sa'ad." (HR. Bukhari no. 5659)
Namun Sa'ad berkata: "Wahai Rasulullah, aku memiliki harta yang banyak dan tidak ada yang mewarisiku selain seorang putri. Bolehkah aku bersedekah dengan dua pertiga hartaku?" Rasulullah ﷺ menjawab: "Tidak." Sa'ad bertanya lagi: "Setengahnya?" Beliau menjawab: "Tidak." Sa'ad bertanya: "Sepertiganya?" Maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Sepertiga, dan sepertiga itu sudah banyak. Sesungguhnya engkau meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya lebih baik daripada engkau meninggalkan mereka dalam keadaan miskin yang meminta-minta kepada manusia."
Kisah ini menunjukkan bahwa meskipun para sahabat mulia ditimpa penyakit berat, mereka tetap diajarkan untuk bersabar, berprasangka baik, dan tidak berputus asa dari rahmat Allah.
Kesimpulan Praktis
- Jangan berburuk sangka ketika ditimpa musibah atau penyakit. Yakinlah bahwa itu adalah kebaikan dari Allah.
- Bersabarlah dan jangan mengeluh berlebihan. Setiap rasa sakit akan menjadi penghapus dosa.
- Perbanyak istighfar dan doa ketika sakit, karena itu adalah waktu mustajab.
- Jadikan ujian sebagai momen muhasabah (introspeksi diri) dan perbaikan ibadah.
- Jangan iri dengan orang yang sehat dan bergelimang kenikmatan, karena bisa jadi ujian mereka lebih berat di akhirat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.