Penjelasan Hadits Bukhari No. 5642 tentang Penyakit dan musibah menghapus dosa-dosa seorang Muslim

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah kabar yang sangat menenangkan dari Nabi ﷺ. Beliau mengabarkan bahwa setiap musibah yang menimpa seorang Muslim—baik itu kelelahan, sakit, sedih, susah, gangguan, hingga tertusuk duri sekalipun—akan menjadi sebab Allah mengampuni dosa-dosanya. Ini adalah rahmat Allah yang besar, yang mengubah ujian menjadi penebus dosa dan pengangkat derajat.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Mardha (Penyakit), Bab "Ma Yuqalu fi Kaffaratil-Maradh" (Apa yang Dikatakan tentang Kafarat Penyakit), no. 5642, dari sahabat Abu Sa'id Al-Khudri dan Abu Hurairah radhiyallahu 'anhuma.

Berikut teks haditsnya:

<p>عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: " مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ "</p>

Makna ringkas: Tidaklah seorang Muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kegelisahan, kesedihan, gangguan, atau kesusahan—bahkan sampai tertusuk duri—melainkan Allah menjadikan hal itu sebagai penghapus dosa-dosanya.

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 2573) dari jalur Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung kabar gembira yang sangat agung bagi setiap Muslim. Mari kita bedah kata-kata kuncinya:

  1. An-Nashab (النَّصَبُ): Keletihan atau kelelahan fisik yang berat.
  2. Al-Washab (الوَصَبُ): Penyakit yang berkepanjangan atau terus-menerus.
  3. Al-Hamm (الهَمُّ): Perasaan cemas atau gelisah karena memikirkan sesuatu yang belum terjadi.
  4. Al-Huzn (الحُزْنُ): Kesedihan atas sesuatu yang telah terjadi atau hilang.
  5. Al-Adza (الأَذَى): Gangguan fisik atau psikis, baik yang kecil maupun besar.
  6. Al-Ghamm (الغَمُّ): Kesusahan yang menekan hati, biasanya karena hal yang menyedihkan.

Nabi ﷺ menyebutkan berbagai macam penderitaan ini, lalu menutupnya dengan contoh yang paling kecil dan sepele, yaitu "sampai-sampai tertusuk duri". Ini menunjukkan bahwa tidak ada satupun penderitaan yang sia-sia di sisi Allah. Semuanya memiliki nilai pahala dan bisa menjadi penghapus dosa.

Bagaimana para ulama memahami hadits ini?

Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitabnya Zaad Al-Ma'ad menjelaskan bahwa penyakit dan musibah adalah salah satu bentuk rahmat Allah kepada hamba-Nya. Beliau berkata bahwa jika bukan karena musibah dan penyakit, manusia akan sombong dan lupa diri. Musibah adalah "obat pahit" yang membersihkan jiwa dari penyakit hati dan dosa.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa hikmah di balik musibah adalah untuk menguji kesabaran hamba, menghapus dosa-dosanya, dan mengingatkannya untuk kembali kepada Allah. Beliau menekankan bahwa seorang mukmin yang bersabar akan mendapatkan ganjaran yang berlipat ganda, dan musibahnya menjadi kebaikan baginya.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil bahwa musibah yang menimpa seorang Muslim adalah kafarat (penghapus) dosa. Namun, beliau juga mengingatkan bahwa ini adalah konsekuensi dari keimanan. Jika seorang tertimpa musibah lalu dia bersabar dan ridha, maka dia mendapat pahala dan dosanya dihapus. Jika dia marah dan tidak sabar, maka dia berdosa dan kehilangan kesempatan besar ini.

Poin penting yang perlu digarisbawahi: Penghapusan dosa ini adalah hak prerogatif Allah. Ada dosa-dosa yang dihapus dengan musibah, dan ada yang tidak. Namun, secara umum, hadits ini menunjukkan keutamaan sabar dan keagungan rahmat Allah. Musibah adalah salah satu cara Allah membersihkan hamba-Nya dari dosa, sebagaimana emas dibersihkan dengan api.

Story Telling

Dahulu, ada seorang ulama salaf yang sangat terkenal zuhud dan wara', yaitu Fudhail bin 'Iyadh. Suatu hari, beliau tertimpa penyakit yang cukup berat. Ketika orang-orang menjenguknya dan mendoakan kesembuhan, beliau justru berkata dengan tenang, "Demi Allah, aku tidak ingin penyakit ini hilang dariku." Orang-orang pun heran dan bertanya, "Mengapa engkau berkata demikian, wahai Abu Ali?"

Fudhail menjawab dengan penuh keyakinan, "Karena penyakit ini menghapus dosa-dosaku. Dan aku lebih senang dosa-dosaku terhapus daripada aku sehat dan dosa-dosaku tetap ada padaku."

Kisah ini menunjukkan pemahaman mendalam para salaf tentang hakikat musibah. Mereka tidak memandang penyakit sebagai beban semata, tetapi sebagai anugerah tersembunyi yang membersihkan jiwa mereka. Sikap ini lahir dari keyakinan yang kuat terhadap janji Nabi ﷺ dalam hadits di atas.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan berputus asa saat tertimpa musibah, sekecil apapun itu. Yakinlah bahwa itu adalah bentuk rahmat Allah untuk membersihkan dosa-dosa kita.
  2. Perbanyak sabar dan ridha terhadap ketentuan Allah. Dengan kesabaran, pahala kita akan berlipat ganda dan musibah menjadi kebaikan.
  3. Jangan mengeluh secara berlebihan, karena itu bisa menghilangkan pahala kesabaran. Cukup berdoa memohon kesembuhan dan tetap berbaik sangka kepada Allah.
  4. Jadikan musibah sebagai momen muhasabah (introspeksi diri). Mungkin ada dosa yang perlu kita perbaiki dan taubat yang perlu kita perkuat.
  5. Ajarkan hadits ini kepada keluarga dan orang lain, agar mereka juga merasa tenang dan tidak larut dalam kesedihan saat menghadapi ujian hidup.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?