Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan adab minum yang diajarkan Nabi ﷺ, yaitu bernapas di luar bejana, bukan di dalamnya, dan melakukannya sebanyak dua atau tiga kali tarikan napas untuk satu kali minum. Ini adalah bentuk adab yang mulia, menjaga kebersihan, kesehatan, dan kesempurnaan kenikmatan minum. Bukanlah suatu kewajiban, melainkan sunnah yang sangat dianjurkan untuk diteladani.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits yang Anda tanyakan adalah riwayat dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Asyribah (Minuman), Bab "Minum dengan Dua atau Tiga Tarikan Napas" (no. 5631).
Berikut adalah dalil-dalil yang terkait:
- Hadits Utama (Riwayat Anas bin Malik):
Dari Thumamah bin Abdullah ia berkata: "Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu biasa bernapas di dalam bejana (saat minum) dua atau tiga kali, dan ia menyangka bahwa Nabi ﷺ biasa bernapas tiga kali." (HR. Al-Bukhari no. 5631)
- Hadits Pendukung (Riwayat Abu Qatadah):
Dari Abu Qatadah radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:
> "Sesungguhnya setan itu hadir (bersama) salah seorang dari kalian pada setiap urusannya, dan ia hadir pula saat kalian minum. Jika salah seorang dari kalian minum, maka hendaklah ia berkata: 'Bismillah', dan jika ia lupa, hendaklah ia mengucapkan: 'Bismillahi awwalahu wa akhirahu' (Dengan nama Allah pada awal dan akhirnya)." (HR. Abu Dawud, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud)
Hadits ini menunjukkan bahwa minum dengan bernapas di luar bejana adalah cara untuk menghindari setan yang ikut serta dalam minuman kita.
- Ayat Al-Qur'an Terkait (Tentang Menjaga Kebersihan dan Kesehatan):
Allah ﷺ berfirman dalam Al-Qur'an tentang nikmat air yang bersih dan baik:
> وَأَنزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا
> "Dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih."
> (QS. Al-Furqan [25]: 48)
Ayat ini menunjukkan bahwa air adalah nikmat yang suci dan menyucikan. Menjaga adab saat meminumnya, seperti tidak bernapas di dalamnya, adalah bagian dari mensyukuri dan menghormati nikmat tersebut.
Penjelasan Rinci
Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan beberapa poin penting dari hadits ini:
- Makna "Bernapas di dalam Bejana": Maksudnya adalah saat minum, seseorang tidak meneguk air sekaligus dalam satu tarikan napas, melainkan menarik napas di sela-sela tegukan, dan saat menarik napas, ia mengangkat bejana dari mulutnya. Ini dilakukan dua atau tiga kali untuk satu kali minum.
- Hukumnya: Para ulama berbeda pendapat mengenai hukumnya. Sebagian besar ulama, termasuk Imam Asy-Syafi'i, Imam Ahmad bin Hanbal, dan Imam Malik dalam salah satu riwayat, berpendapat bahwa hal ini adalah sunnah (dianjurkan) dan bukan kewajiban. Mereka berdalil dengan perbuatan Nabi ﷺ yang dilakukan secara terus-menerus.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa minum dengan tiga kali tarikan napas adalah lebih utama, karena ini adalah petunjuk Nabi ﷺ. Namun, jika seseorang minum langsung dalam satu tarikan napas tanpa bernapas di dalam bejana, maka minumannya tetap sah dan tidak mengapa. Ini adalah bentuk kemudahan dalam syariat.
- Hikmah dan Alasannya:
- Kebersihan: Bernapas di dalam bejana dapat mengeluarkan uap atau kotoran dari mulut dan hidung yang bisa jatuh ke dalam air, sehingga mengotori air yang akan diminum.
- Kesehatan: Minum dengan tiga tarikan napas lebih menyehatkan dan lebih melegakan tenggorokan. Ini membantu proses pencernaan dan menghilangkan rasa haus dengan lebih baik. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menyebutkan bahwa hikmahnya adalah untuk lebih aman dari tersedak dan lebih nyaman bagi yang minum.
- Menghindari Setan: Sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Qatadah, setan hadir dalam urusan manusia, termasuk saat minum. Dengan bernapas di luar bejana, kita memutuskan kesempatan setan untuk ikut serta dalam minuman tersebut.
- Meneladani Nabi ﷺ: Ini adalah bentuk kecintaan dan ketaatan kita kepada Rasulullah ﷺ dalam perkara yang tampak sepele sekalipun. Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitabnya Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa petunjuk Nabi ﷺ dalam makan dan minum adalah petunjuk yang paling sempurna, yang membawa kebaikan bagi tubuh dan jiwa.
- Penerapan Praktis: Adab ini berlaku untuk semua jenis minuman, baik air putih, susu, teh, dan lainnya. Caranya adalah dengan meneguk sedikit, lalu mengangkat bejana dari mulut untuk bernapas, kemudian meneguk lagi, dan seterusnya hingga tiga kali. Dianjurkan juga untuk membaca "Bismillah" sebelum minum dan "Alhamdulillah" setelah selesai.
Story Telling
Dahulu, ada seorang sahabat yang sangat mencintai Nabi ﷺ, yaitu Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu. Beliau adalah pelayan Nabi ﷺ selama sepuluh tahun di Madinah. Karena kedekatannya, Anas banyak sekali memperhatikan detail-detail kecil dalam kehidupan Nabi ﷺ, termasuk cara beliau makan dan minum.
Dalam riwayat yang kita bahas ini, Thumamah bin Abdullah (cucu dari Anas) menceritakan bahwa kakeknya, Anas, selalu bernapas dua atau tiga kali saat minum dari sebuah bejana. Ketika ditanya mengapa, Anas menjelaskan bahwa itulah yang pernah ia lihat langsung dari Rasulullah ﷺ. Anas tidak hanya menghafal sabda Nabi, tetapi juga meniru setiap gerak-gerik beliau dalam keseharian, karena ia tahu bahwa semua yang dilakukan Nabi ﷺ adalah kebaikan.
Kisah ini menunjukkan betapa dalamnya kecintaan para sahabat kepada Nabi ﷺ. Mereka tidak menganggap remeh hal-hal kecil dalam sunnah. Justru dari hal-hal kecil inilah kecintaan dan ketaatan mereka terpancar. Mereka memahami bahwa meneladani Nabi ﷺ dalam segala hal adalah jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.
Kesimpulan Praktis
Berikut adalah poin-poin yang bisa kita amalkan dari hadits ini:
- Minumlah dengan tiga kali tarikan napas, atau minimal dua kali, sebagai bentuk meneladani Nabi ﷺ.
- Bernapaslah di luar bejana/gelas, bukan di dalamnya, untuk menjaga kebersihan dan kesehatan.
- Biasakan membaca "Bismillah" sebelum minum dan "Alhamdulillah" setelahnya.
- Jangan menganggap remeh sunnah, sekecil apa pun, karena di dalamnya terdapat keberkahan dan kebaikan.
- Niatkan minum kita sebagai ibadah dengan mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ, sehingga aktivitas harian pun bernilai pahala.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.