Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah kisah mukjizat Nabi ﷺ, di mana makanan yang dibuat oleh Ummu Sulaim dari satu mudd (sekitar 0,5 liter) gandum dapat mengenyangkan 40 orang sahabat, lalu Nabi ﷺ juga ikut makan, dan makanan tersebut tidak berkurang sedikit pun. Hadits ini menunjukkan keberkahan yang Allah berikan melalui doa dan kehadiran Nabi ﷺ, serta adab mulia dalam memuliakan tamu dan tidak memberatkan tuan rumah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Makanan (Kitab Makanan), Bab "Man Ajaba ila Tha'amin" (Bab Siapa yang Mengundang Tamu Sepuluh-sepuluh dan Duduk di Makanan Sepuluh-sepuluh), no. 5450, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu.
Tidak ada ayat Al-Qur'an yang secara langsung membahas peristiwa ini, tetapi kisah ini sejalan dengan firman Allah tentang keberkahan rezeki dan kekuasaan-Nya:
QS. Al-An'am [6]: 95
إِنَّ اللَّهَ فَالِقُ الْحَبِّ وَالنَّوَىٰ ۖ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَمُخْرِجُ الْمَيِّتِ مِنَ الْحَيِّ ۚ ذَٰلِكُمُ اللَّهُ ۖ فَأَنَّىٰ تُؤْفَكُونَ
"Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. Itulah Allah, maka mengapa kamu masih dipalingkan?"
Makna ayat ini menunjukkan kekuasaan Allah atas segala sesuatu, termasuk rezeki dan keberkahan yang Dia berikan kepada siapa yang Dia kehendaki.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan hadits ini sebagai salah satu bukti mukjizat Nabi ﷺ yang nyata. Berikut beberapa poin penting dari pemahaman ulama:
- Keberkahan Makanan: Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan mukjizat Nabi ﷺ, di mana makanan yang sedikit menjadi cukup untuk orang banyak. Ini adalah bentuk keberkahan yang Allah berikan secara khusus kepada Nabi-Nya.
- Adab Memuliakan Tamu: Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menyebutkan bahwa hadits ini mengajarkan adab menjamu tamu dengan tidak memberatkan tuan rumah. Ketika Abu Thalhah berkata, "Itu hanya makanan yang disiapkan oleh Ummu Sulaim," ini menunjukkan sikap tawadhu' dan tidak ingin membebani.
- Kebijaksanaan Nabi ﷺ: Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa Nabi ﷺ membagi para sahabat menjadi kelompok-kelompok sepuluh orang agar semua bisa makan dengan tertib dan barakah. Ini menunjukkan perhatian Nabi ﷺ terhadap kenyamanan para sahabatnya.
- Sikap Anas bin Malik: Anas kecil saat itu memperhatikan makanan tersebut setelah semua makan, dan ia tidak melihatnya berkurang. Ini menunjukkan bahwa keberkahan tersebut nyata dan bukan sekadar perasaan.
- Hikmah dari Kisah Ini: Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa peristiwa seperti ini menguatkan keimanan kepada kekuasaan Allah dan kebenaran kenabian Muhammad ﷺ.
Story Telling
Kisah ini terjadi di rumah Abu Thalhah dan Ummu Sulaim di Madinah. Ummu Sulaim adalah seorang wanita yang sangat dermawan dan mencintai Rasulullah ﷺ. Ketika ia mendengar bahwa Nabi ﷺ sedang bersama para sahabatnya, ia ingin memuliakan mereka meskipun hanya memiliki sedikit makanan.
Ia menggiling gandum, membuat bubur, dan memeras kulit mentega yang ada. Kemudian ia mengirim putranya, Anas, untuk mengundang Nabi ﷺ. Ketika Nabi ﷺ bertanya, "Dan siapa yang bersamaku?" Abu Thalhah keluar dan dengan rendah hati berkata bahwa itu hanya makanan sederhana.
Nabi ﷺ kemudian masuk dan meminta para sahabat masuk sepuluh-sepuluh. Empat puluh orang makan sampai kenyang, lalu Nabi ﷺ ikut makan. Setelah semua selesai, Anas memperhatikan makanan itu dan mendapati tidak berkurang sedikit pun. Ini adalah mukjizat yang menunjukkan bahwa keberkahan datang dari Allah, bukan dari banyaknya makanan.
Hikmah dari kisah ini: jangan meremehkan rezeki yang sedikit, karena Allah bisa memberkahinya. Juga, jangan malu menjamu tamu dengan apa yang ada, karena yang terpenting adalah keikhlasan dan niat baik.
Kesimpulan Praktis
- Yakinlah pada kekuasaan Allah dalam memberikan keberkahan pada rezeki yang sedikit.
- Jangan meremehkan makanan sederhana yang kita miliki; niatkan untuk berbagi dan memuliakan tamu.
- Jaga adab dalam menjamu tamu: jangan memberatkan diri, dan jangan menolak undangan tanpa alasan syar'i.
- Teladani sikap Nabi ﷺ yang memperhatikan kenyamanan semua orang dalam jamuan makan.
- Jadikan kisah ini sebagai penguat iman bahwa Nabi ﷺ adalah utusan Allah yang benar.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.