Penjelasan Hadits Bukhari No. 5421 tentang Kesederhanaan makanan Nabi dan zuhud terhadap dunia

Tentu, saya akan menjelaskan hadits ini sesuai dengan format dan aturan yang telah ditetapkan.

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan bahwa Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, salah satu sahabat yang lama melayani Nabi ﷺ, bersaksi bahwa Nabi ﷺ tidak pernah melihat roti yang dipanggang halus (muraqqaq) dan tidak pernah melihat domba panggang utuh (samiith) sepanjang hidupnya hingga beliau wafat. Ini menunjukkan kesederhanaan hidup Nabi ﷺ dan para sahabat, serta bahwa kemewahan bukanlah tujuan utama seorang mukmin.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Makanan, Bab Domba Panggang dan Bahu, nomor 5421. Perawi: Qatadah bin Di'amah as-Sadusi (seorang Tabi'in yang termasuk dalam daftar ulama rujukan) dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu.

Teks hadits lengkap dengan harakat:

حَدَّثَنَا هُدْبَةُ بْنُ خَالِدٍ، حَدَّثَنَا هَمَّامُ بْنُ يَحْيَى، عَنْ قَتَادَةَ، قَالَ كُنَّا نَأْتِي أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ ـ رضى الله عنه ـ وَخَبَّازُهُ قَائِمٌ قَالَ كُلُوا فَمَا أَعْلَمُ النَّبِيَّ ﷺ رَأَى رَغِيفًا مُرَقَّقًا حَتَّى لَحِقَ بِاللَّهِ، وَلَا رَأَى شَاةً سَمِيطًا بِعَيْنِهِ قَطُّ

Terjemahan: Qatadah berkata: "Kami biasa mengunjungi Anas bin Malik sementara tukang roti miliknya sedang berdiri (dan memanggang). Anas berkata, 'Makanlah! Saya tidak tahu bahwa Nabi ﷺ pernah melihat roti yang dipanggang dengan baik hingga beliau bertemu Allah, dan beliau juga tidak pernah melihat domba yang dipanggang dengan matanya sendiri.'"

Dalil Al-Qur'an tentang kesederhanaan dan tidak berlebihan:

QS. Al-A'raf [7]: 31

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Terjemahan: "Wahai anak-anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan."

Imam Ibn Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini memerintahkan makan dan minum dengan tidak berlebihan, karena sikap berlebihan adalah ciri orang yang tidak bersyukur dan melampaui batas.

Penjelasan Rinci

Hadits ini dipahami oleh para ulama dalam beberapa aspek:

Pertama, tentang kesederhanaan Nabi ﷺ. Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa Nabi ﷺ adalah manusia paling mulia, namun beliau menjalani hidup dengan sangat sederhana. Beliau tidak pernah makan roti yang dipanggang halus (muraqqaq), yaitu roti yang dibuat dari tepung yang diayak dan dipanggang dengan cara khusus sehingga lembut dan enak. Beliau juga tidak pernah melihat domba panggang utuh (samiith), yaitu domba yang dipanggang dengan kulitnya atau direbus dengan cara tertentu yang menjadi hidangan mewah pada masa itu.

Kedua, tentang makna "hingga beliau bertemu Allah" (hatta lahiqa billah). Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa ini adalah kinayah (ungkapan) untuk kematian beliau. Artinya, sepanjang hidup beliau sampai wafat, beliau tidak pernah menikmati hidangan mewah tersebut.

Ketiga, tentang konteks pernyataan Anas bin Malik. Qatadah bin Di'amah as-Sadusi, seorang Tabi'in yang meriwayatkan hadits ini, menceritakan bahwa ia dan orang-orang biasa mengunjungi Anas bin Malik. Saat itu, tukang roti Anas sedang berdiri memanggang roti. Anas mempersilakan mereka makan, lalu beliau menyebutkan fakta tentang Nabi ﷺ. Ini menunjukkan bahwa Anas bin Malik, meskipun beliau sendiri memiliki tukang roti dan menikmati roti yang lebih baik, tetap mengingat dan mengagungkan kesederhanaan Nabi ﷺ. Beliau tidak bermaksud melarang makan enak, tetapi mengingatkan bahwa Nabi ﷺ tidak pernah menikmati hal itu.

Keempat, tentang hukum makan makanan enak. Para ulama dari daftar yang disebutkan, seperti Imam Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahuyah, dan lainnya, memahami bahwa makan makanan yang halal dan baik tidaklah terlarang, selama tidak berlebihan dan tidak melupakan syukur. Ibn Qayyim al-Jawziyyah rahimahullah dalam Zaad al-Ma'aad menjelaskan bahwa Nabi ﷺ tidak melarang umatnya menikmati makanan yang halal, tetapi beliau sendiri memilih hidup sederhana karena zuhud dan untuk memberi contoh kepada umatnya agar tidak tenggelam dalam kenikmatan dunia.

Kelima, tentang perbedaan pendapat. Sebagian ulama seperti Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan zuhud dan kesederhanaan, bukan larangan menikmati makanan halal. Sedangkan Imam An-Nawawi menegaskan bahwa ini adalah bentuk tawadhu' dan qana'ah (merasa cukup) Nabi ﷺ. Pendapat yang paling kuat adalah bahwa hadits ini adalah motivasi untuk zuhud dan tidak berlebihan, bukan pengharaman makanan enak.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa suatu ketika, Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu melihat Nabi ﷺ berbaring di atas tikar yang kasar hingga membekas di kulit beliau. Umar menangis. Nabi ﷺ bertanya, "Apa yang membuatmu menangis?" Umar menjawab, "Wahai Rasulullah, Kisra dan Kaisar hidup dalam kemewahan, sedangkan engkau adalah Rasulullah namun tidur di atas tikar kasar ini." Nabi ﷺ bersabda, "Wahai Umar, apakah engkau tidak ridha bahwa mereka mendapatkan dunia dan kita mendapatkan akhirat?" (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Kisah ini, sebagaimana dijelaskan oleh Ibn Katsir dan Ibn Rajab, menunjukkan bahwa Nabi ﷺ sengaja memilih kesederhanaan karena beliau mengutamakan akhirat. Hadits Anas bin Malik ini adalah bukti nyata dari kesederhanaan tersebut.

Kesimpulan Praktis

  1. Hendaknya seorang mukmin meneladani kesederhanaan Nabi ﷺ dalam makan dan minum, tidak berlebihan, dan tidak menjadikan kemewahan sebagai tujuan hidup.
  2. Makanan halal dan enak tidaklah terlarang, tetapi hendaknya disyukuri dan tidak melalaikan dari ibadah.
  3. Zuhud bukan berarti mengharamkan yang halal, tetapi tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama dan tidak berlebihan dalam menikmatinya.
  4. Hendaknya kita mengingat bahwa Nabi ﷺ, manusia paling mulia, hidup sederhana, maka kita lebih pantas untuk tidak berlebihan.
  5. Perbanyaklah syukur atas nikmat makanan yang Allah berikan, sekecil apapun itu.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?