Penjelasan Hadits Bukhari No. 5415 tentang Nabi makan di alas kulit, bukan meja atau piring

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan kesederhanaan Nabi ﷺ dalam makan: beliau tidak makan di atas meja (khawan), tidak di piring kecil (sukurrujah), dan tidak makan roti tipis yang dipanggang halus. Para sahabat biasa makan di atas lembaran kulit (sufrah). Ini menunjukkan kezuhudan dan kerendahan hati Nabi ﷺ, serta bahwa kemewahan dalam urusan makan bukanlah tujuan utama seorang mukmin.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Makanan, Bab Apa yang Dimakan Nabi dan Para Sahabatnya, nomor 5415, dari sahabat Anas bin Malik رضي الله عنه, melalui jalur Qatadah bin Di'amah as-Sadusi (seorang Tabi'in yang termasuk dalam daftar rujukan).

Teks hadits:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي الأَسْوَدِ، حَدَّثَنَا مُعَاذٌ، حَدَّثَنِي أَبِي، عَنْ يُونُسَ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ مَا أَكَلَ النَّبِيُّ ﷺ عَلَى خِوَانٍ، وَلاَ فِي سُكْرُجَةٍ، وَلاَ خُبِزَ لَهُ مُرَقَّقٌ. قُلْتُ لِقَتَادَةَ عَلَى مَا يَأْكُلُونَ قَالَ عَلَى السُّفَرِ.

Terjemahan: "Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abi Al-Aswad, telah menceritakan kepada kami Mu'adh, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Yunus, dari Qatadah, dari Anas bin Malik, ia berkata: 'Nabi ﷺ tidak pernah makan di atas meja makan, dan tidak pula di piring kecil, dan tidak pernah dibuatkan roti tipis yang dipanggang halus.' Aku (Yunus) bertanya kepada Qatadah: 'Di atas apa mereka makan?' Qatadah menjawab: 'Di atas lembaran kulit (sufrah).'"

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan kesederhanaan dan tidak berlebihan dalam makan:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

QS. Al-A'raf [7]: 31

"Dan makanlah serta minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan."

Penjelasan Rinci

Makna hadits secara umum:

Hadits ini menggambarkan kesederhanaan Nabi ﷺ dalam hal makan. Tiga hal yang dinafikan (ditidakkan) dalam hadits ini:

  1. خِوَانٍ (khawan) — meja makan, yaitu tempat makan yang ditinggikan. Ini adalah kebiasaan orang-orang kaya dan penguasa pada masa itu.
  2. سُكْرُجَةٍ (sukurrujah) — piring kecil atau wadah makan individual yang halus dan bagus. Sebagian ulama menjelaskan ini adalah wadah khusus untuk satu orang.
  3. مُرَقَّقٌ (muraqqaq) — roti tipis yang dipanggang dengan halus dan lembut, yaitu roti yang dibuat dengan proses penyaringan tepung yang halus dan pemanggangan yang bagus.

Pemahaman para ulama dalam daftar rujukan:

Imam Al-Bukhari memasukkan hadits ini dalam Kitab Makanan untuk menunjukkan bagaimana Nabi ﷺ dan para sahabat makan sehari-hari. Ini adalah bab tentang kesederhanaan, bukan larangan.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidak menggunakan alat-alat makan yang mewah dan tidak makan makanan yang diproses secara berlebihan. Ini bukan berarti beliau melarang umatnya menggunakan meja atau piring yang baik, tetapi menunjukkan bahwa beliau memilih kesederhanaan meskipun beliau mampu untuk yang lebih baik. Ibnu Hajar juga menyebutkan bahwa para sahabat makan di atas sufrah (lembaran kulit), yang menunjukkan bahwa mereka makan bersama-sama di atas hamparan, bukan di meja-meja terpisah.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (ketika membahas hadits serupa) menjelaskan bahwa ini adalah bentuk tawadhu' (kerendahan hati) Nabi ﷺ. Beliau tidak makan dengan cara orang-orang sombong dan tidak menuntut kemewahan dalam makanan.

Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menekankan bahwa zuhud bukan berarti meninggalkan hal yang halal secara total, tetapi tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama. Nabi ﷺ makan apa yang ada, tidak menuntut yang lebih, dan tidak makan dengan cara yang menunjukkan kesombongan.

Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa makanan Nabi ﷺ sangat sederhana. Beliau makan apa yang mudah didapat, tidak menuntut makanan yang diproses secara khusus, dan tidak makan dengan cara yang berlebihan. Ini adalah bagian dari kesempurnaan akhlak beliau.

Poin penting: Hadits ini bukan larangan menggunakan meja atau piring yang baik. Ini adalah gambaran tentang kesederhanaan dan tawadhu' Nabi ﷺ. Seorang muslim boleh makan dengan cara yang baik selama tidak berlebihan dan tidak sombong.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Anas bin Malik رضي الله عنه, yang menjadi pelayan Nabi ﷺ selama sepuluh tahun, memperhatikan betapa sederhananya kehidupan Nabi ﷺ. Anas mengatakan bahwa Nabi ﷺ tidak pernah makan di atas meja, tidak di piring kecil yang bagus, dan tidak pernah dibuatkan roti tipis yang halus. Ketika Qatadah (seorang Tabi'in) mendengar ini, beliau bertanya: "Kalau begitu, di atas apa mereka makan?" Anas menjawab: "Di atas lembaran kulit (sufrah)."

Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ dan para sahabat makan bersama-sama di atas hamparan kulit, duduk di lantai, dalam keadaan sederhana dan penuh kebersamaan. Tidak ada jarak antara pemimpin dan pengikut, tidak ada kemewahan yang memisahkan. Ini adalah pelajaran tentang ukhuwah dan kesederhanaan.

Imam Al-Bukhari meriwayatkan hadits ini dalam kitab shahihnya, dan para ulama setelahnya seperti Ibnu Hajar dan an-Nawawi menjadikannya dalil tentang keutamaan zuhud dan tawadhu' dalam makan.

Kesimpulan Praktis

  1. Sederhana dalam makan — tidak perlu menuntut makanan yang mewah atau proses yang berlebihan. Makan untuk menguatkan ibadah, bukan untuk memuaskan hawa nafsu.
  2. Tidak sombong dalam makan — makan dengan cara yang tidak menunjukkan kesombongan, seperti makan di meja-meja tinggi yang memisahkan diri dari orang lain, jika itu dilakukan untuk pamer.
  3. Kebersamaan dalam makan — makan bersama di atas hamparan (sufrah) adalah sunnah yang menunjukkan ukhuwah dan kesetaraan.
  4. Boleh menggunakan alat makan yang baik — selama tidak berlebihan dan tidak untuk pamer, seorang muslim boleh menggunakan meja atau piring yang baik. Yang dilarang adalah israf (berlebihan) dan kibr (sombong).
  5. Meneladani Nabi ﷺ — beliau adalah teladan terbaik dalam segala hal, termasuk dalam urusan makan. Kesederhanaan beliau bukan karena tidak mampu, tetapi karena beliau memilih zuhud dan tawadhu'.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?