Penjelasan Hadits Bukhari No. 5414 tentang Nabi meninggalkan dunia tanpa kenyang roti barley

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan bahwa Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu menolak makan domba panggang yang dihidangkan oleh suatu kaum, lalu beliau menjelaskan alasannya: Rasulullah ﷺ wafat tanpa pernah kenyang dari roti gandum (sya'ir). Ini bukan larangan makan enak, melainkan pelajaran tentang kezuhudan, kesederhanaan Nabi ﷺ, dan keutamaan meneladani beliau dalam meninggalkan kemewahan yang berlebihan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Ath'imah (Makanan), Bab "Apa yang Dimakan Nabi ﷺ dan Para Sahabatnya", nomor 5414, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Teks hadits:

حَدَّثَنِي إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، أَخْبَرَنَا رَوْحُ بْنُ عُبَادَةَ، حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ، عَنْ سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّهُ مَرَّ بِقَوْمٍ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ شَاةٌ مَصْلِيَّةٌ، فَدَعَوْهُ فَأَبَى أَنْ يَأْكُلَ، قَالَ: خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مِنَ الدُّنْيَا وَلَمْ يَشْبَعْ مِنَ الْخُبْزِ الشَّعِيرِ.

Terjemahan: "Telah menceritakan kepadaku Ishaq bin Ibrahim, telah mengabarkan kepada kami Rauh bin 'Ubadah, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Dzi'b, dari Sa'id Al-Maqburi, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa ia melewati suatu kaum yang di hadapan mereka ada seekor domba panggang. Mereka mengundangnya, tetapi ia menolak makan, lalu berkata: 'Rasulullah ﷺ keluar dari dunia ini dan belum pernah kenyang dari roti sya'ir (gandum/barley).'"

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan kezuhudan dan kesederhanaan Nabi ﷺ:

QS. Al-Ahzab [33]: 21

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Terjemahan: "Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah."

QS. Al-Insan [76]: 8-9

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا ٨ إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا ٩

Terjemahan: "Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. (Sambil berkata), 'Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.'"

Penjelasan Rinci

Hadits ini dipahami oleh para ulama dalam kerangka kezuhudan Nabi ﷺ dan para sahabatnya. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa menolak makanan halal bukanlah sunnah yang dianjurkan secara mutlak, tetapi dalam konteks Abu Hurairah, hal itu merupakan bentuk peneladanan terhadap keadaan Nabi ﷺ yang hidup sederhana dan tidak pernah kenyang dari roti sya'ir.

Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan zuhud dan kesederhanaan Nabi ﷺ. Beliau juga menyebutkan bahwa para sahabat kadang menolak makanan mewah bukan karena mengharamkannya, tetapi untuk melatih diri dan meneladani Nabi ﷺ. Ibnu Hajar menegaskan bahwa makanan itu halal, dan menolaknya bukan kewajiban, melainkan pilihan kezuhudan.

Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Latha'if Al-Ma'arif menyebutkan bahwa Nabi ﷺ meninggalkan dunia dalam keadaan sederhana bukan karena tidak mampu, tetapi karena beliau memilih kerendahan hati dan tidak terikat pada dunia. Ini menjadi pelajaran bagi umat agar tidak berlebihan dalam mengejar kenikmatan dunia.

Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam Zad Al-Ma'ad menjelaskan bahwa Nabi ﷺ makan apa yang ada, tidak menolak makanan halal, tetapi juga tidak pernah meminta yang tidak ada. Beliau makan untuk menguatkan ibadah, bukan untuk memuaskan syahwat.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menekankan bahwa meneladani Nabi ﷺ dalam kesederhanaan adalah bagian dari kesempurnaan iman, dan bahwa dunia bukanlah tujuan, melainkan sarana.

Perlu dicatat: hadits ini tidak menunjukkan bahwa makan domba panggang itu terlarang atau makruh. Para ulama sepakat makanan tersebut halal. Yang dilakukan Abu Hurairah adalah ijtihad pribadi dalam rangka zuhud, dan bukan kewajiban bagi seluruh umat. Imam Ahmad bin Hanbal dan ulama lainnya menegaskan bahwa menikmati makanan halal yang baik adalah boleh, bahkan dianjurkan selama tidak berlebihan.

Story Telling

Diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim bahwa Nabi ﷺ pernah mengikat batu di perutnya karena lapar. Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu pernah menangis melihat Nabi ﷺ tidur di atas tikar kasar hingga membekas di kulit beliau, lalu beliau berkata: "Wahai Rasulullah, Kisra dan Kaisar hidup mewah, sedangkan engkau..." Nabi ﷺ menjawab: "Wahai Umar, apakah engkau tidak ridha jika mereka mendapatkan dunia dan kita mendapatkan akhirat?" (Makna hadits ini disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari dan An-Nawawi dalam Syarah Muslim).

Kisah Abu Hurairah ini juga menunjukkan bagaimana para sahabat meneladani Nabi ﷺ bukan hanya dalam ibadah, tetapi juga dalam gaya hidup. Mereka menolak kemewahan bukan karena mengharamkannya, tetapi karena mengingat keadaan Nabi ﷺ yang sederhana.

Kesimpulan Praktis

  1. Hadits ini mengajarkan keutamaan zuhud dan kesederhanaan, bukan pengharaman makanan enak.
  2. Makanan halal dan baik boleh dinikmati, tetapi jangan berlebihan dan jangan menjadikannya tujuan hidup.
  3. Meneladani Nabi ﷺ dalam kesederhanaan adalah bagian dari kesempurnaan iman.
  4. Menolak makanan mewah untuk melatih diri adalah boleh, tetapi bukan kewajiban.
  5. Hendaknya kita mengingat keadaan Nabi ﷺ dan para sahabat agar tidak terjerumus dalam kemewahan yang melalaikan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?