Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah penuturan jujur dari sahabat mulia Sa'ad bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu tentang kondisi sangat sulit yang dialami para sahabat pertama di awal Islam. Mereka hanya makan daun pohon (al-hublah) sampai-sampai kotoran mereka seperti kotoran kambing karena keras dan kasarnya makanan tersebut. Hadits ini juga menunjukkan keutamaan para sahabat terdahulu, serta bantahan halus Sa'ad terhadap orang-orang yang datang belakangan namun merasa bisa "menggurui" Islam kepadanya. Ini pelajaran tentang adab terhadap para sahabat dan siapa pun yang lebih dahulu dalam kebaikan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Makanan, Bab "Apa yang Dimakan Nabi ﷺ dan Para Sahabatnya" (no. 5412). Juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Az-Zuhd, dari jalur lain.
Teks hadits yang Anda cantumkan sudah benar dan sesuai dengan lafazh Imam Al-Bukhari. Berikut poin pentingnya:
- Perawi utama: Sa'ad bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu, salah satu dari 10 sahabat yang dijamin masuk surga.
- Makna "sabi'a sab'ah": Sa'ad adalah orang ketujuh yang masuk Islam. Ini menunjukkan kedahuluannya dalam kebaikan.
- "Warqul hublah": Daun pohon hublah (sejenis pohon berduri yang daunnya biasa dimakan unta). Ini menunjukkan betapa kerasnya kehidupan mereka.
- "Hatta yadha'a ahaduna ma tadha'usy syah": Sampai-sampai kotoran salah seorang mereka seperti kotoran kambing/domba, karena makanan yang sangat kasar dan tidak bernutrisi.
- "Tuzarriruni 'alal Islam": Bani Asad mencela/menganggap kurang Islamku. Maka Sa'ad berkata: "Kalau begitu aku rugi dan sia-sia amalku" — ini sindiran halus bahwa orang yang lebih dahulu berislam dan berjuang di masa sulit tidak pantas dicela oleh orang yang baru masuk Islam di masa mudah.
Tidak ada ayat Al-Qur'an yang secara langsung turun terkait hadits ini, namun maknanya sejalan dengan firman Allah:
QS. At-Taubah [9]: 100
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
"Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung."
Ayat ini menunjukkan kemuliaan para sahabat yang pertama-tama masuk Islam, termasuk Sa'ad bin Abi Waqqash.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:
1. Keutamaan Sa'ad bin Abi Waqqash dan para sahabat terdahulu
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (9/549) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan Sa'ad karena ia termasuk orang yang pertama masuk Islam. Beliau juga menyebutkan bahwa Sa'ad masuk Islam pada usia 17 tahun, dan keislamannya terjadi setelah Abu Bakar, Ali, Zaid bin Haritsah, dan beberapa sahabat lainnya.
2. Kondisi sulit yang dialami para sahabat di awal Islam
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan betapa beratnya perjuangan para sahabat di awal Islam. Mereka rela hidup dengan makanan seadanya, bahkan hanya daun-daunan, demi mempertahankan keimanan mereka. Ini berbeda dengan kondisi umat Islam di masa kemudian yang hidup berkecukupan.
3. Adab terhadap orang yang lebih dahulu dalam kebaikan
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (18/130) menjelaskan bahwa perkataan Sa'ad "خَسِرْتُ إِذًا وَضَلَّ سَعْيِي" (kalau begitu aku rugi dan sia-sia amalku) adalah bentuk sindiran halus terhadap Bani Asad yang mencela keislamannya. Ini mengajarkan bahwa seseorang yang lebih dahulu beriman dan berjuang tidak pantas dicela oleh orang yang baru masuk Islam.
4. Pelajaran tentang kesabaran dan keikhlasan
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Bahjatul Qulubil Abrar menjelaskan bahwa hadits ini mengajarkan kesabaran dalam menghadapi kesulitan hidup demi agama. Para sahabat tidak mengeluh, tidak meninggalkan Islam, justru mereka bertahan dengan penuh keikhlasan.
5. Bantahan terhadap orang yang meremehkan keislaman orang lain
Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami'ul Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan tercelanya sikap meremehkan amal orang lain, apalagi orang yang lebih dahulu beramal. Ini termasuk bentuk kezhaliman dan kebodohan.
Story Telling
Ada kisah yang diriwayatkan bahwa ketika Sa'ad bin Abi Waqqash masuk Islam, ibunya, Hamnah binti Abi Sufyan, sangat marah. Ibunya berkata: "Wahai Sa'ad, tinggalkan agamamu ini atau aku tidak akan makan dan minum sampai mati." Sa'ad menjawab: "Wahai ibu, demi Allah, aku tidak akan meninggalkan agamaku karena apa pun." Maka ibunya pun benar-benar mogok makan dan minum. Namun Sa'ad tetap teguh. Ketika ibunya melihat keteguhan Sa'ad, ia pun akhirnya makan kembali.
Kisah ini menunjukkan bahwa perjuangan Sa'ad di awal Islam tidaklah mudah. Ia harus menghadapi tekanan keluarga, kekurangan makanan, dan berbagai cobaan lainnya. Namun ia tetap teguh. Maka wajar jika ia merasa tersinggung ketika ada orang yang baru masuk Islam di masa mudah mencela keislamannya.
Kesimpulan Praktis
- Hargai kedahuluan dalam kebaikan — Jangan pernah meremehkan orang yang lebih dahulu beramal, apalagi mencela mereka.
- Bersabar dalam kesulitan — Para sahabat rela hidup susah demi agama; kita yang hidup mudah seharusnya lebih semangat beribadah.
- Jangan mudah mencela orang lain — Kita tidak tahu perjuangan dan amal seseorang di masa lalu.
- Syukuri nikmat makanan — Bandingkan kondisi kita yang serba ada dengan kondisi para sahabat yang makan daun-daunan.
- Jaga lisan dari merendahkan sesama muslim — Terutama mereka yang lebih dahulu dalam kebaikan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.