Penjelasan Hadits Bukhari No. 5411 tentang Pembagian kurma oleh Nabi kepada para sahabat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan bahwa Nabi ﷺ pernah membagikan kurma kepada para sahabat, masing-masing tujuh butir. Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu mendapat tujuh butir yang salah satunya adalah kurma keras (حَشَفَة), namun justru kurma itulah yang paling ia sukai karena membuatnya lebih lama mengunyah dan menikmati rasa. Hadits ini mengajarkan kesederhanaan Nabi ﷺ, sifat qana'ah (merasa cukup) para sahabat, dan adab menerima pemberian dengan ridha tanpa mengeluh.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Baqarah [2]: 172

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

Terjemahan: "Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari rezeki yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu, dan bersyukurlah kepada Allah jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Ath'imah (Makanan), Bab "Apa yang Dimakan oleh Nabi ﷺ dan Para Sahabatnya", nomor 5411. Sanadnya: Abu Nu'man (Muhammad bin Al-Fadhl) → Hammad bin Zaid → Abbas Al-Jurairi → Abu Utsman An-Nahdi (Abdurrahman bin Mil) → Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan hadits ini dalam bab makanan, menyebutkan bahwa pembagian kurma secara merata menunjukkan keadilan Nabi ﷺ dan sifat zuhudnya.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (ketika membahas hadits serupa tentang makanan) menekankan pentingnya qana'ah dan menerima rezeki apa adanya dengan syukur.
  • Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam sering mengangkat tema qana'ah dan ridha terhadap pemberian Allah sebagai inti zuhud.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

Hadits ini menggambarkan suasana sederhana kehidupan Nabi ﷺ dan para sahabat. Kurma adalah makanan pokok di Madinah. Nabi ﷺ membagikan kurma secara adil — masing-masing tujuh butir — tanpa membedakan kedudukan. Ini menunjukkan keadilan dan kesetaraan dalam pembagian.

Yang menarik adalah komentar Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu: kurma yang keras (حَشَفَة) justru paling ia sukai. Para ulama menjelaskan beberapa hikmah:

  1. Qana'ah dan ridha — Abu Hurairah tidak mengeluh mendapat kurma keras. Sebaliknya, ia melihat sisi positifnya: kurma keras lebih lama dikunyah, sehingga rasa manisnya bertahan lebih lama. Ini adalah contoh sikap menerima rezeki dengan lapang dada.
  2. Kesederhanaan Nabi ﷺ — Nabi ﷺ tidak menyediakan makanan mewah. Beliau membagikan apa yang ada, dan para sahabat pun menerimanya dengan senang hati. Ini menunjukkan bahwa kebahagiaan tidak tergantung pada kualitas materi, tetapi pada hati yang bersyukur.
  3. Pendidikan adab — Nabi ﷺ mengajarkan kepada para sahabat untuk tidak memilih-milih atau mengeluh terhadap pembagian. Semua mendapat bagian yang sama, dan kepuasan datang dari hati yang ridha.

Pemahaman ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya membagikan makanan secara merata, dan bahwa kurma keras (حَشَفَة) adalah kurma yang kurang baik kualitasnya, namun tetap boleh dimakan. Beliau juga menyebutkan bahwa sikap Abu Hurairah menunjukkan adab yang tinggi.
  • Imam an-Nawawi dalam Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini mengajarkan untuk tidak mencela makanan yang kurang baik, dan bahwa kenikmatan makanan tergantung pada cara menikmatinya, bukan semata kualitasnya.
  • Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menekankan bahwa zuhud bukan berarti meninggalkan dunia, tetapi tidak terikat pada dunia. Abu Hurairah menunjukkan zuhud dengan merasa cukup dan bahagia dengan apa yang diberikan.
  • Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini mengandung pelajaran tentang syukur dan qana'ah, serta bahwa seorang Muslim hendaknya melihat sisi positif dari setiap pemberian Allah.

Perbedaan pendapat:

Tidak ada perbedaan pendapat yang signifikan di antara ulama daftar mengenai hadits ini. Semua sepakat bahwa hadits ini mengajarkan kesederhanaan, keadilan, dan qana'ah.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu adalah sahabat yang sangat dekat dengan Nabi ﷺ dan dikenal sebagai perawi hadits terbanyak. Beliau hidup sederhana dan sering mengalami kelaparan. Suatu hari, ketika Nabi ﷺ membagikan kurma, Abu Hurairah menerima tujuh butir, salah satunya keras dan kering.

Alih-alih mengeluh, Abu Hurairah justru berkata, "Tidak ada kurma yang lebih aku sukai daripada kurma itu, karena ia memperpanjang waktu mengunyahku." Ini menunjukkan betapa beliau menghargai setiap rezeki yang Allah berikan, sekecil apa pun dan sekeras apa pun.

Dalam riwayat lain, Abu Hurairah pernah mengikat batu di perutnya karena lapar, dan beliau tetap bersabar. Kisah ini menggambarkan betapa para sahabat memiliki hati yang lapang dan jiwa yang besar, meskipun hidup dalam keterbatasan.

Hikmah: Kebahagiaan sejati bukanlah memiliki banyak, tetapi merasa cukup dan bersyukur dengan apa yang ada. Kurma keras yang sederhana menjadi nikmat yang luar biasa bagi Abu Hurairah karena hatinya penuh syukur.

Kesimpulan Praktis

  1. Bersyukurlah dengan rezeki yang ada — sekecil atau sekeras apa pun, selama halal, itu adalah nikmat dari Allah.
  2. Jangan mencela makanan — Nabi ﷺ tidak pernah mencela makanan. Jika suka, makanlah; jika tidak, tinggalkan dengan sopan.
  3. Qana'ah adalah kekayaan sejati — merasa cukup dengan apa yang Allah berikan adalah kunci kebahagiaan.
  4. Keadilan dalam pembagian — jika kita membagikan sesuatu, bagikanlah secara adil dan merata.
  5. Lihat sisi positif — seperti Abu Hurairah yang melihat kurma keras sebagai nikmat karena memperpanjang waktu mengunyah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?