Tentu, berikut penjelasan hadits tersebut sesuai format dan aturan yang telah ditetapkan.
Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan kesederhanaan hidup para sahabat Nabi ﷺ. Mereka tidak mengenal tepung yang sangat halus dan putih (an-naqiy) seperti yang biasa dikonsumsi orang-orang sekarang. Untuk membersihkan barley (gandum/tepung kasar), mereka cukup menghembuskannya, bukan menyaringnya dengan ayakan halus. Ini menunjukkan betapa zuhud dan sederhananya pola makan mereka, serta menjadi pelajaran agar kita tidak berlebihan dalam urusan makanan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Makanan, Bab Menghembuskan pada Barley, nomor 5410. Perawinya adalah Sahl bin Sa'd as-Sa'idi radhiyallahu 'anhu, seorang sahabat Nabi ﷺ.
Teks hadits lengkapnya:
حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ، حَدَّثَنَا أَبُو غَسَّانَ، قَالَ حَدَّثَنِي أَبُو حَازِمٍ، أَنَّهُ سَأَلَ سَهْلاً هَلْ رَأَيْتُمْ فِي زَمَانِ النَّبِيِّ ﷺ النَّقِيَّ قَالَ لاَ. فَقُلْتُ فَهَلْ كُنْتُمْ تَنْخُلُونَ الشَّعِيرَ قَالَ لاَ وَلَكِنْ كُنَّا نَنْفُخُهُ.
Terjemahan: Telah menceritakan kepada kami Sa'id bin Abu Maryam, telah menceritakan kepada kami Abu Ghassan, ia berkata: "Abu Hazim bertanya kepada Sahl, 'Apakah kalian pernah melihat tepung putih pada zaman Nabi ﷺ?' Sahl menjawab, 'Tidak.' Lalu saya bertanya, 'Apakah kalian biasa menyaring tepung barley?' Ia menjawab, 'Tidak, tetapi kami biasa menghembuskan kulitnya.'"
Hadits ini juga memiliki makna yang sejalan dengan firman Allah tentang kesederhanaan dan tidak berlebihan:
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
QS. Al-A'raf [7]: 31
Terjemahan: "Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan."
Penjelasan Rinci
Hadits ini menjelaskan keadaan para sahabat Nabi ﷺ yang hidup dalam kesederhanaan. Istilah an-naqiy (النَّقِيُّ) merujuk pada tepung yang benar-benar bersih dan halus, yang telah disaring sedemikian rupa sehingga terpisah dari kulit dan kotorannya. Sahl bin Sa'd menyatakan bahwa di zaman Nabi ﷺ, mereka tidak pernah melihat tepung seperti itu.
Ketika Abu Hazim bertanya apakah mereka menyaring barley dengan ayakan (menggunakan alat penyaring halus), Sahl menjawab tidak. Mereka hanya menghembuskannya (نَنْفُخُهُ) untuk membuang kulit atau sekam yang ringan. Ini menunjukkan bahwa makanan pokok mereka sangat sederhana, kasar, dan apa adanya.
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan betapa sedikitnya kemewahan dalam hidup para sahabat. Mereka tidak sibuk memperindah atau menghaluskan makanan, karena fokus utama mereka adalah ibadah dan perjuangan di jalan Allah. Ini juga menjadi bukti bahwa makanan yang kasar dan sederhana tetap halal dan cukup untuk menopang tubuh.
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (ketika membahas hadits serupa) menyebutkan bahwa kesederhanaan dalam makanan adalah bagian dari zuhud yang dipuji. Tidak ada larangan secara syariat untuk menyaring tepung atau membuatnya halus, karena itu termasuk perkara mubah (boleh). Namun, yang menjadi pelajaran adalah sikap tidak berlebihan dan tidak menjadikan makanan sebagai tujuan utama hidup.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam beberapa penjelasannya tentang hadits-hadits makanan menegaskan bahwa hadits ini mengajarkan qana'ah (merasa cukup) dan menjauhi israf (berlebihan). Jika seseorang mampu menyaring tepung, itu tidak mengapa, tetapi jangan sampai hal itu membuatnya lupa pada tujuan hidup yang lebih besar, yaitu beribadah kepada Allah.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman ketika menafsirkan QS. Al-A'raf [7]: 31 menjelaskan bahwa Allah memerintahkan makan dan minum yang halal, tetapi melarang berlebihan. Berlebihan dalam makanan bisa merusak tubuh, hati, dan mengurangi semangat ibadah. Hadits Sahl ini adalah contoh nyata bagaimana para sahabat menerapkan prinsip tersebut.
Perbedaan pendapat: Tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama yang tercantum dalam daftar mengenai bolehnya menyaring tepung. Semua sepakat bahwa itu mubah. Yang menjadi fokus adalah adab dan sikap zuhud yang ditunjukkan oleh para sahabat. Pendapat yang paling kuat adalah bahwa hadits ini bukan larangan menyaring tepung, melainkan pujian terhadap kesederhanaan dan ketidakberlebihan.
Story Telling
Suatu hari, seorang tabi'in bernama Abu Hazim bertanya kepada Sahl bin Sa'd, salah satu sahabat Nabi ﷺ yang mulia. Abu Hazim ingin mengetahui bagaimana kehidupan makanan para sahabat di zaman Nabi ﷺ. Ia bertanya, "Apakah kalian pernah melihat tepung putih yang halus?"
Sahl bin Sa'd menjawab dengan jujur, "Tidak."
Abu Hazim kemudian bertanya lagi, "Apakah kalian menyaring barley dengan ayakan?"
Sahl menjawab, "Tidak, tetapi kami hanya menghembuskannya."
Bayangkanlah, para sahabat yang mulia itu—orang-orang yang berjuang bersama Nabi ﷺ, yang mengorbankan harta dan jiwa untuk Islam—ternyata makan barley yang masih kasar, hanya dihembuskan untuk membuang kulitnya. Mereka tidak memiliki waktu dan tidak terbiasa untuk membuat makanan menjadi sangat halus dan mewah. Hidup mereka sederhana, hati mereka penuh dengan iman, dan tujuan mereka adalah akhirat.
Kisah ini mengingatkan kita pada Al-Hasan al-Bashri, seorang tabi'in yang terkenal zuhud. Beliau pernah berkata bahwa kemewahan dalam makanan adalah salah satu tanda lemahnya iman. Beliau sendiri sangat sederhana dalam makan, meskipun beliau adalah seorang ulama besar yang dihormati.
Kesimpulan Praktis
- Bersikap sederhana dalam makan: Tidak perlu berlebihan dalam mengolah atau menyajikan makanan. Makanan yang sederhana dan halal sudah cukup.
- Menjauhi israf (berlebihan): Jangan menghabiskan banyak waktu, tenaga, dan harta hanya untuk memperindah makanan, apalagi sampai melupakan ibadah.
- Meneladani zuhud para sahabat: Fokus utama hidup adalah akhirat. Makanan adalah sarana untuk beribadah, bukan tujuan.
- Boleh menyaring tepung: Secara syariat, menyaring tepung atau membuat makanan lebih halus adalah mubah. Namun, jangan sampai hal itu menjadikan kita lalai dari kesederhanaan dan syukur.
- Bersyukur dengan apa yang ada: Barley kasar pun tetap nikmat jika disyukuri. Jangan mengeluh dengan makanan yang sederhana.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.