Penjelasan Hadits Bukhari No. 5409 tentang Nabi tidak pernah mencela makanan yang tidak disukai

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan adab mulia Nabi ﷺ dalam menyikapi makanan: beliau tidak pernah mencela makanan, baik dari segi rasa, bentuk, maupun cara penyajiannya. Jika beliau menyukainya, beliau makan; jika tidak menyukainya, beliau tinggalkan tanpa mengucapkan kata-kata buruk. Ini pelajaran penting bagi kita untuk menjaga lisan, menghargai rezeki, dan tidak menyakiti hati orang yang telah menyajikan makanan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Makanan, Bab "Apa yang Tidak Dikritik oleh Nabi ﷺ terhadap Makanan" (no. 5409), dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Teks hadits:

مَا عَابَ النَّبِيُّ ﷺ طَعَامًا قَطُّ، إِنِ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ، وَإِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ

Terjemahan: "Nabi ﷺ tidak pernah mencela makanan sama sekali. Jika beliau menyukainya, beliau memakannya; dan jika beliau tidak menyukainya, beliau meninggalkannya."

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan adab terhadap rezeki dan ucapan yang baik:

QS. Al-Baqarah [2]: 172

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

Terjemahan: "Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari rezeki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu, dan bersyukurlah kepada Allah jika kamu benar-benar hanya menyembah kepada-Nya."

QS. Al-Isra' [17]: 53

وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوًّا مُبِينًا

Terjemahan: "Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik. Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi manusia."

Hadits ini juga memiliki makna yang dijelaskan oleh Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim dan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari, bahwa mencela makanan termasuk akhlak yang tercela karena mengandung sikap sombong, tidak syukur, dan menyakiti hati orang lain.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran mendalam yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:

Pertama: Menjaga lisan dari mencela makanan.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa mencela makanan bisa berarti mencela nikmat Allah, mencela orang yang memasaknya, atau menunjukkan kesombongan. Nabi ﷺ yang paling mulia di sisi Allah saja tidak pernah mencela makanan, apalagi kita yang penuh kekurangan. Ini menunjukkan bahwa meninggalkan makanan yang tidak disukai adalah sunnah, sedangkan mencela adalah kebalikan dari sunnah.

Kedua: Makanan bukanlah tujuan, tetapi sarana.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa Nabi ﷺ tidak menjadikan makanan sebagai obsesi. Jika beliau menyukainya, beliau makan sebagai bentuk syukur; jika tidak, beliau tinggalkan tanpa mempermasalahkannya. Ini mengajarkan sikap zuhud dan qana'ah (merasa cukup), bahwa makanan hanyalah sarana untuk beribadah, bukan tujuan hidup.

Ketiga: Menghargai orang yang menyajikan makanan.

Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menekankan bahwa mencela makanan dapat menyakiti hati orang yang telah bersusah payah menyiapkannya. Islam mengajarkan kita untuk berterima kasih kepada manusia sebagai bentuk syukur kepada Allah. Nabi ﷺ bersabda: "Tidak bersyukur kepada Allah orang yang tidak bersyukur kepada manusia" (diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan lainnya, dari Abu Hurairah).

Keempat: Perbedaan pendapat ulama tentang hukum mencela makanan.

Ibnu Hajar menyebutkan bahwa sebagian ulama menyatakan mencela makanan adalah makruh secara mutlak, karena bertentangan dengan adab Nabi ﷺ. Sebagian lain membolehkan mencela makanan yang memang memiliki cacat jelas (seperti basi atau berbahaya), tetapi dengan syarat tidak berlebihan dan tidak menyakiti. Pendapat yang paling kuat menurut dalil adalah pendapat pertama: meninggalkan tanpa mencela adalah sunnah, dan mencela tanpa alasan syar'i adalah makruh.

Kelima: Kaitan dengan syukur.

Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarij as-Salikin menjelaskan bahwa syukur atas nikmat makanan tidak hanya dengan mengucapkan "Alhamdulillah", tetapi juga dengan tidak merendahkan nikmat tersebut. Mencela makanan adalah bentuk pengingkaran terhadap nikmat, sedangkan meninggalkannya dengan diam adalah bentuk syukur yang paling minimal.

Story Telling

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu — sebagaimana dalam Shahih Al-Bukhari — bahwa suatu ketika Nabi ﷺ dihidangkan makanan oleh sebagian sahabat. Di antara makanan itu ada yang beliau tidak sukai, namun beliau tidak mengucapkan sepatah kata pun tentang keburukannya. Beliau hanya mendiamkannya, lalu makanan itu tetap dihidangkan kepada yang lain. Para sahabat memahami bahwa jika Nabi ﷺ tidak memakannya, itu bukan karena makanan itu buruk, tetapi karena selera beliau semata.

Al-Hasan al-Bashri pernah berkata: "Sungguh, seorang mukmin itu adalah orang yang paling mulia akhlaknya. Ia tidak mencela makanan yang dihidangkan kepadanya, dan tidak memuji-muji makanan yang tidak dihidangkan kepadanya." (dinukil oleh Ibnu Rajab dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam).

Sufyan ats-Tsauri — yang merupakan guru dari Sufyan bin 'Uyainah dan termasuk dalam daftar ulama rujukan — pernah ditanya tentang seseorang yang mencela makanan. Beliau menjawab: "Itu adalah akhlak orang-orang yang sombong. Orang yang beriman cukup mengatakan 'Alhamdulillah' atau diam." (dinukil oleh Adz-Dzahabi dalam Siyar A'lam an-Nubala').

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan mencela makanan yang dihidangkan kepada kita, baik dari segi rasa, bentuk, maupun cara penyajiannya. Jika tidak suka, cukup tinggalkan dengan diam.
  2. Ucapkan "Alhamdulillah" atas setiap makanan yang tersedia, karena itu adalah nikmat dari Allah yang patut disyukuri.
  3. Hargai orang yang menyajikan makanan — ibu, istri, suami, atau siapa pun — karena mereka telah berusaha. Kritik yang menyakitkan dapat memutus rasa syukur dan kasih sayang.
  4. Latih diri untuk qana'ah (merasa cukup) dan tidak menjadikan makanan sebagai obsesi. Makan untuk beribadah, bukan beribadah untuk makan.
  5. Teladani akhlak Nabi ﷺ dalam hal-hal kecil, karena akhlak mulia terbentuk dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang konsisten.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?