Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 5399 tentang Larangan makan sambil bersandar

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidak makan dalam keadaan bersandar. Para ulama menjelaskan bahwa ini adalah bagian dari adab makan yang diajarkan Islam, yang mencerminkan sikap tawadhu' (rendah hati) dan tidak berlebihan dalam memenuhi keinginan hawa nafsu. Ini adalah bimbingan akhlak, bukan larangan yang bersifat haram.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini adalah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Makanan, Bab Makan Sambil Bersandar, no. 5399, dari sahabat Abu Juhaifah Wahb bin 'Abdillah As-Suwa-i radhiyallahu 'anhu.

Teks Hadits (dengan harakat):

حَدَّثَنِي عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، أَخْبَرَنَا جَرِيرٌ، عَنْ مَنْصُورٍ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ الأَقْمَرِ، عَنْ أَبِي جُحَيْفَةَ، قَالَ: كُنْتُ عِنْدَ النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ لِرَجُلٍ عِنْدَهُ: "لَا آكُلُ وَأَنَا مُتَّكِئٌ".

Makna Ringkas: Aku (Abu Juhaifah) berada di sisi Nabi ﷺ, lalu beliau berkata kepada seorang laki-laki yang ada di dekatnya, "Aku tidak makan sambil bersandar."

Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:

Firman Allah Ta'ala tentang larangan berlebih-lebihan (yang merupakan salah satu hikmah dari adab makan ini):

لَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

"Janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan." (QS. Al-An'am [6]: 141)

Kaitan dengan Ulama:

Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (syarah Shahih Al-Bukhari) membahas secara panjang lebar tentang makna "bersandar" (ittika') dalam hadits ini. Beliau menukil beberapa pendapat ulama tentang maknanya, yang akan dijelaskan di bawah.

Penjelasan Rinci

Para ulama berbeda pendapat tentang makna "bersandar" (الاِتِّكَاءُ) dalam hadits ini. Namun, inti dari hadits ini adalah bimbingan adab dari Nabi ﷺ.

1. Makna "Bersandar" Menurut Para Ulama:

Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (Juz 9, Kitab Makanan) menukil beberapa pendapat ulama tentang makna ittika':

  • Pendapat Pertama: Bersandar dengan seluruh badan pada sesuatu, baik duduk bersandar ke bantal, dinding, atau semisalnya. Ini adalah pendapat yang masyhur.
  • Pendapat Kedua: Bersandar dengan cara duduk bersila atau duduk dengan cara yang menunjukkan sikap sombong dan berlebih-lebihan. Ini adalah pendapat yang diriwayatkan dari sebagian ulama salaf.
  • Pendapat Ketiga: Bersandar dengan bertumpu pada tangan kirinya. Ini adalah pendapat yang dinukil dari sebagian ulama.

Imam Ibn Hajar cenderung menguatkan bahwa makna yang dimaksud adalah duduk dengan cara yang menunjukkan sikap sombong dan berlebih-lebihan, atau duduk bersandar pada sesuatu dengan cara yang nyaman dan penuh kemewahan, seolah-olah ia adalah seorang raja yang dilayani.

2. Hukum Makan Sambil Bersandar:

Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah, di antaranya Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah dan Ibnul Qayyim, menjelaskan bahwa larangan ini adalah larangan yang bersifat bimbingan (tanziih) atau makruh, bukan larangan yang bersifat haram. Hal ini karena:

  • Tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa makan sambil bersandar itu haram.
  • Hadits ini lebih merupakan penjelasan tentang adab dan akhlak Nabi ﷺ yang sangat tawadhu' (rendah hati).

Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa makan sambil bersandar adalah perbuatan yang menyelisihi sunnah dan sebaiknya ditinggalkan, karena itu adalah kebiasaan orang-orang yang sombong dan angkuh.

3. Hikmah Larangan Ini:

  • Menumbuhkan sikap tawadhu' (rendah hati): Makan dengan cara yang sederhana dan tidak berlebihan adalah cerminan dari kerendahan hati seorang hamba di hadapan Allah.
  • Menghindari sikap sombong: Duduk bersandar dengan nyaman dan penuh kemewahan bisa menimbulkan perasaan sombong dan merasa lebih tinggi dari orang lain.
  • Menjaga kesehatan: Makan dalam keadaan bersandar dapat menyebabkan gangguan pencernaan karena posisi tubuh yang tidak ideal saat mencerna makanan.

4. Adab Makan Nabi ﷺ yang Lain:

Para ulama, seperti Imam Ibnul Qayyim dalam Zaad al-Ma'aad, menjelaskan bahwa Nabi ﷺ memiliki adab makan yang sangat sempurna, di antaranya:

  • Makan dengan tangan kanan.
  • Membaca basmalah sebelum makan.
  • Makan dari sisi piring yang terdekat.
  • Tidak mencela makanan.
  • Tidak makan dalam keadaan kenyang (berlebihan).

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ adalah orang yang paling tawadhu' dalam segala urusan, termasuk dalam hal makan. Beliau tidak pernah makan di atas meja yang tinggi, tidak pernah makan dengan piring yang besar, dan tidak pernah makan sambil bersandar.

Imam Ibnul Qayyim dalam Zaad al-Ma'aad menceritakan bahwa Nabi ﷺ makan dengan cara duduk berlutut (duduk di atas kedua lututnya) atau duduk di atas kedua kakinya. Beliau bersabda:

"Aku hanyalah seorang hamba, aku makan sebagaimana seorang hamba makan, dan aku duduk sebagaimana seorang hamba duduk." (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab al-Mufrad dengan sanad yang shahih)

Ini menunjukkan bahwa seluruh perilaku Nabi ﷺ adalah cerminan dari ketawadhu'an dan kehambaan beliau kepada Allah Ta'ala.

Kesimpulan Praktis

  1. Hendaknya kita menghindari makan sambil bersandar karena itu menyelisihi adab Nabi ﷺ dan bisa menumbuhkan sikap sombong.
  2. Hendaknya kita meneladani cara makan Nabi ﷺ yang sederhana, tawadhu', dan tidak berlebihan.
  3. Hukumnya adalah makruh (sebaiknya ditinggalkan), bukan haram. Jika seseorang makan sambil bersandar karena alasan tertentu (misalnya sakit), maka tidak mengapa.
  4. Yang terpenting adalah menjaga adab makan secara keseluruhan, seperti membaca basmalah, makan dengan tangan kanan, dan tidak mencela makanan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.