Penjelasan Hadits Bukhari No. 5395 tentang Orang mukmin makan dalam satu usus

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa orang kafir makan dengan nafsu yang besar, dikiaskan dengan "tujuh usus", sedangkan orang mukmin makan dengan satu usus karena ia makan dengan adab, rasa cukup, dan niat untuk beribadah. Yang penting bukan sekadar jumlah makanan, tetapi keadaan hati: orang mukmin makan untuk menguatkan diri dalam taat, bukan untuk memuaskan syahwat. Hadits ini juga mengajarkan adab dalam makan dan pentingnya menahan diri dari berlebihan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Makanan, Bab "Orang Mukmin Makan dalam Satu Usus", dari jalur Amr bin Dinar dari Abu Nahik, dan disebutkan oleh Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma.

Teks hadits yang disebutkan:

إِنَّ الْكَافِرَ يَأْكُلُ فِي سَبْعَةِ أَمْعَاءٍ

Terjemah ringkas:

"Sesungguhnya orang kafir makan dalam tujuh usus."

Dalam riwayat lain yang juga shahih, Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَأْكُلُ فِي مِعًى وَاحِدٍ، وَالْكَافِرُ يَأْكُلُ فِي سَبْعَةِ أَمْعَاءٍ

Terjemah ringkas:

"Sesungguhnya orang mukmin makan dalam satu usus, dan orang kafir makan dalam tujuh usus."

(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan adab makan dan tidak berlebihan:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

QS. Al-A'raf [7]: 31

Terjemah ringkas:

"Dan makanlah serta minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan."

Penjelasan Rinci

Hadits ini dipahami oleh para ulama dalam beberapa sisi:

Pertama: Makna "tujuh usus" dan "satu usus"

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa yang dimaksud bukanlah jumlah usus secara fisik semata, melainkan kiasan tentang besarnya nafsu makan dan kebutuhan orang kafir, karena ia makan tanpa mengingat Allah, tanpa adab, dan hanya mengikuti syahwat. Adapun orang mukmin, ia makan dengan niat taat, merasa cukup, dan mengingat Allah, sehingga satu usus pun cukup.

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa makna ini adalah berita tentang keadaan orang kafir yang rakus dan orang mukmin yang qana'ah (merasa cukup). Beliau juga menyebutkan bahwa sebagian ulama memahami ini sebagai isyarat bahwa orang kafir makan untuk tujuh kebutuhan: makanan, minuman, pakaian, dan seterusnya, sedangkan mukmin cukup dengan satu tujuan utama, yaitu menguatkan diri untuk beribadah.

Kedua: Bukan larangan makan banyak secara mutlak

Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa hadits ini bukan berarti seorang mukmin haram makan sampai kenyang, tetapi menunjukkan bahwa sifat rakus dan tamak terhadap makanan adalah sifat tercela. Seorang mukmin boleh makan sampai kenyang, tetapi tidak menjadikan makan sebagai tujuan utama hidupnya.

Ketiga: Adab dan niat dalam makan

Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menekankan bahwa Nabi ﷺ mengajarkan makan dengan tiga jari, tidak berlebihan, dan berhenti sebelum kenyang. Beliau juga menyebutkan bahwa makanan bagi mukmin adalah sarana untuk beribadah, bukan tujuan. Karena itu, orang mukmin makan dengan satu "usus" niat, yaitu untuk menguatkan diri dalam taat kepada Allah.

Keempat: Sikap Ibnu Umar dan Abu Nahik

Dalam hadits ini, Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma mengingatkan Abu Nahik yang dikenal sangat suka makan. Abu Nahik menjawab, "Tetapi saya beriman kepada Allah dan Rasul-Nya." Jawaban ini menunjukkan bahwa ia memahami hadits tersebut bukan sebagai celaan pribadi, tetapi sebagai gambaran sifat orang kafir. Ibnu Umar tidak menghukumnya, tetapi hanya mengingatkan. Ini menunjukkan adab nasihat yang lembut.

Kelima: Perbedaan pendapat ulama

Sebagian ulama memahami "tujuh usus" secara hakiki, yaitu bahwa orang kafir benar-benar memiliki tujuh usus secara fisik, dan orang mukmin satu usus. Namun, pendapat yang lebih kuat menurut Ibnu Hajar dan An-Nawawi adalah bahwa ini adalah kiasan tentang sifat rakus dan tamak, karena secara medis manusia memiliki usus yang sama. Pendapat ini lebih sesuai dengan kaidah bahasa Arab dan konteks hadits.

Story Telling

Disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari bahwa Abu Nahik adalah seorang yang banyak makan. Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, yang dikenal sangat mengikuti sunnah Nabi ﷺ, menasihatinya dengan sabda Nabi ﷺ tentang orang kafir yang makan dalam tujuh usus. Abu Nahik tidak marah, tetapi menjawab dengan keimanan: "Saya beriman kepada Allah dan Rasul-Nya." Ia memahami bahwa hadits itu bukan untuk menghina dirinya, tetapi untuk mengingatkan agar tidak meniru sifat rakus orang kafir. Ibnu Umar pun tidak memaksanya, karena nasihat dalam Islam disampaikan dengan lembut dan tidak memaksa.

Hikmahnya: seorang mukmin hendaknya makan dengan adab, tidak berlebihan, dan menjadikan makan sebagai sarana ibadah, bukan tujuan hidup.

Kesimpulan Praktis

  1. Makanlah dengan niat untuk menguatkan diri dalam beribadah kepada Allah.
  2. Hindari makan berlebihan dan rakus, karena itu menyerupai sifat orang kafir.
  3. Berhentilah makan sebelum kenyang, sebagaimana diajarkan Nabi ﷺ.
  4. Ketika menasihati orang lain, gunakan cara yang lembut dan tidak menghakimi, seperti yang dicontohkan Ibnu Umar.
  5. Pahami hadits ini sebagai pelajaran tentang qana'ah (merasa cukup) dan adab, bukan sekadar jumlah usus.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?