Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 5392 tentang Makanan cukup dibagi untuk lebih banyak orang

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita tentang keberkahan dalam makanan ketika dimakan bersama-sama. Rasulullah ﷺ memberitahu bahwa makanan yang cukup untuk dua orang sebenarnya bisa mencukupi tiga orang, dan makanan untuk tiga orang bisa mencukupi empat orang. Ini bukan soal jumlah makanan bertambah secara fisik, melainkan keberkahan dari Allah ﷻ yang turun saat kita makan bersama, saling berbagi, dan tidak menyendiri dalam makanan.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang terkait:

QS. An-Nahl [16]: 18

<p>وَإِن تَعُدُّوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ لَا تُحْصُوهَآ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ</p>

"Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Ayat ini mengingatkan bahwa nikmat Allah, termasuk keberkahan dalam makanan, sangat luas dan tidak terbatas pada hitungan fisik semata.

Hadits yang dimaksud:

Hadits riwayat Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 5392) dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

<p>طَعَامُ الِاثْنَيْنِ كَافِي الثَّلَاثَةِ، وَطَعَامُ الثَّلَاثَةِ كَافِي الْأَرْبَعَةِ</p>

"Makanan untuk dua orang cukup untuk tiga, dan makanan untuk tiga orang cukup untuk empat orang."

Penjelasan ulama:

Imam Al-Bukhari sendiri meletakkan hadits ini dalam bab "Makanan untuk Dua Orang Cukup untuk Tiga Orang", menunjukkan bahwa beliau memahami hadits ini sebagai anjuran untuk makan bersama dan saling berbagi.

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (13/178) menjelaskan bahwa makna hadits ini adalah keberkahan dalam makanan ketika dimakan bersama-sama. Beliau berkata, "Dalam hadits ini terdapat anjuran untuk berkumpul saat makan dan larangan menyendiri dalam makanan, karena keberkahan turun pada makanan yang dimakan bersama."

Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (9/528) menambahkan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa makanan yang sedikit bisa mencukupi banyak orang dengan keberkahan Allah. Beliau juga menyebutkan bahwa para ulama memahami hadits ini sebagai motivasi untuk saling berbagi dan tidak kikir dalam makanan.

Penjelasan Rinci

Hadits ini merupakan salah satu mukjizat Nabi ﷺ dalam hal keberkahan. Secara logika fisik, makanan untuk dua orang tentu tidak akan cukup untuk tiga orang. Namun, Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa dengan keberkahan Allah, makanan yang sedikit bisa mencukupi banyak orang ketika dimakan bersama-sama.

Makna keberkahan dalam makanan:

Keberkahan (barakah) adalah tambahan kebaikan dari Allah yang tidak terlihat secara fisik. Imam Ibn Rajab Al-Hanbali dalam Jami' Al-'Ulum wa Al-Hikam menjelaskan bahwa keberkahan dalam makanan bisa berupa rasa kenyang yang lebih, kesehatan yang lebih baik, atau bahkan makanan yang tidak cepat habis.

Penerapan dalam kehidupan:

  1. Makan bersama-sama – Para sahabat dan salafus shalih biasa makan bersama dalam satu wadah. Ini bukan sekadar tradisi, tetapi bentuk mengamalkan sunnah dan mencari keberkahan.
  2. Tidak menyendiri dalam makanan – Imam Al-Hasan Al-Bashri pernah berkata, "Jika engkau makan sendirian, setan ikut makan bersamamu. Jika engkau makan bersama orang lain, setan tidak ikut." (Diriwayatkan oleh Ibn Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf)
  3. Saling berbagi – Hadits ini juga mengajarkan untuk tidak kikir. Jika kita memiliki makanan yang sedikit, jangan ragu untuk mengundang orang lain, karena Allah akan memberkahi makanan tersebut.

Perbedaan pendapat ulama:

Sebagian ulama memahami hadits ini secara literal bahwa makanan benar-benar bertambah secara fisik. Namun, mayoritas ulama seperti Imam An-Nawawi, Ibn Hajar, dan Ibn Rajab memahaminya sebagai keberkahan yang dirasakan oleh orang yang makan bersama, baik berupa rasa kenyang, kecukupan, atau keberkahan lainnya. Pendapat yang lebih kuat adalah yang kedua, karena keberkahan adalah urusan gaib yang hanya diketahui oleh Allah.

Story Telling

Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad (no. 300) dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu, beliau berkata:

"Pada masa Nabi ﷺ, kami memiliki sedikit makanan. Maka Rasulullah ﷺ bersabda, 'Undanglah orang-orang untuk makan.' Maka kami mengundang mereka, dan makanan itu ternyata cukup untuk semua orang. Setelah mereka selesai makan, makanan itu masih tersisa seperti semula."

Kisah ini menunjukkan bahwa keberkahan benar-benar nyata ketika kita mengamalkan sunnah berbagi dan makan bersama. Bukan hanya cukup, tetapi bahkan masih tersisa.

Kesimpulan Praktis

  1. Biasakan makan bersama – Jika memungkinkan, ajak keluarga atau teman untuk makan bersama dalam satu wadah.
  2. Jangan ragu berbagi – Meskipun makanan terlihat sedikit, yakinlah bahwa Allah akan memberkahinya.
  3. Hindari menyendiri saat makan – Karena setan ikut serta dalam makanan yang dimakan sendirian.
  4. Tanamkan rasa syukur – Keberkahan adalah nikmat dari Allah yang tidak bisa diukur dengan logika semata.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.