Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah mukjizat Nabi ﷺ yang agung, menunjukkan keberkahan makanan yang sedikit bisa mencukupi jumlah orang yang sangat banyak. Hadits ini juga mengajarkan adab-adab mulia seperti dermawan, berbagi makanan, tidak pelit, serta sikap tawadhu dan perhatian Nabi ﷺ kepada seluruh sahabatnya, termasuk yang tidak hadir. Pelajaran utamanya adalah keberkahan datang dari Allah, dan kita dianjurkan untuk berbagi serta tidak khawatir akan berkurangnya rezeki ketika bersedekah atau menjamu tamu.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Makanan, Bab "Siapa yang Makan hingga Kenyang", no. 5382, dari sahabat Abdurrahman bin Abi Bakar radhiyallahu 'anhuma.
Dalil-dalil lain yang relevan:
- Firman Allah ﷻ dalam Al-Qur'an:
- Nama surah dan nomor ayat: QS. Al-Baqarah [2]: 261
- Teks Arab (potongan yang relevan):
مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
- Terjemahan/makna ringkas: "Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui." Ayat ini menunjukkan bahwa Allah melipatgandakan keberkahan pada harta yang diinfakkan, sebagaimana makanan yang sedikit menjadi cukup untuk banyak orang.
- Hadits terkait dari Shahih Al-Bukhari:
- Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: "Makanan untuk dua orang cukup untuk tiga orang, dan makanan untuk tiga orang cukup untuk empat orang." (HR. Al-Bukhari no. 5392 dan Muslim no. 2058). Hadits ini menunjukkan bahwa keberkahan makanan akan bertambah ketika ada orang lain yang ikut makan.
- Kaitan dengan Ulama:
- Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitabnya Fathul Bari (Syarah Shahih Al-Bukhari) menjelaskan bahwa hadits ini adalah salah satu bukti mukjizat Nabi ﷺ. Beliau menukil perkataan para ulama bahwa peristiwa ini menunjukkan karomah dan keberkahan yang Allah berikan kepada Nabi-Nya.
- Imam Al-Bukhari sendiri menempatkan hadits ini dalam "Bab Siapa yang Makan hingga Kenyang" untuk menunjukkan bahwa makan sampai kenyang itu diperbolehkan, bahkan bisa menjadi sarana syukur, selama tidak berlebihan dan tetap dalam koridor adab.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:
- Mukjizat Keberkahan Makanan: Peristiwa ini adalah mukjizat nyata. Satu sha' tepung (sekitar 2,5 kg) dan satu ekor domba bisa mencukupi 130 orang hingga kenyang, bahkan masih tersisa. Ini bukan karena faktor alamiah, melainkan karena keberkahan doa dan karomah yang Allah berikan kepada Nabi ﷺ. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya sering mengaitkan peristiwa-peristiwa seperti ini dengan firman Allah tentang keberkahan yang diberikan kepada orang-orang beriman.
- Adab Bertanya dan Bermuamalah: Nabi ﷺ bertanya kepada pemilik makanan dan kepada penggembala domba dengan pertanyaan yang jelas. Ini mengajarkan adab dalam bertransaksi dan memastikan kejelasan akad (jual-beli, hadiah, atau hibah). Imam Ibnu Hajar menjelaskan bahwa pertanyaan Nabi ﷺ ini adalah untuk memastikan status kepemilikan dan kejelasan transaksi, karena dalam Islam, kejelasan akad adalah hal yang fundamental.
- Sikap Dermawan dan Tidak Pelit: Nabi ﷺ tidak menahan makanan untuk diri beliau sendiri, tetapi langsung membagikannya kepada semua orang. Bahkan, beliau menyimpan bagian untuk sahabat yang tidak hadir. Ini menunjukkan bahwa sifat dermawan dan berbagi adalah akhlak para nabi dan orang-orang shalih. Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya Madarijus Salikin menyebutkan bahwa kedermawanan adalah salah satu cabang dari maqam ihsan dan merupakan akhlak yang paling dicintai Allah.
- Perhatian kepada yang Tidak Hadir: Tindakan Nabi ﷺ yang menyimpan bagian untuk yang tidak hadir menunjukkan keadilan dan perhatian beliau kepada seluruh umatnya. Ini adalah pelajaran bahwa dalam sebuah komunitas, kita tidak boleh melupakan mereka yang sedang tidak bisa hadir atau memiliki udzur.
- Bolehnya Makan Sampai Kenyang: Judul bab yang dibuat oleh Imam Al-Bukhari ini menunjukkan bahwa makan sampai kenyang itu tidak dilarang secara mutlak. Yang dilarang adalah berlebihan (israf) hingga membahayakan kesehatan atau membuat lalai dari ibadah. Imam Asy-Syafi'i dan para ulama lainnya membolehkan makan sampai kenyang selama tidak berlebihan, dan ini bisa menjadi bentuk syukur jika dilakukan dengan niat untuk kuat beribadah.
Story Telling
Peristiwa ini terjadi dalam perjalanan atau saat berkumpul bersama para sahabat. Yang menarik adalah kehadiran seorang musyrik yang membawa domba. Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tetap berinteraksi dengan baik dan adil dalam muamalah dengan non-muslim. Beliau membeli domba darinya, bukan mengambilnya secara paksa. Ini adalah pelajaran tentang kejujuran dan keadilan dalam transaksi, bahkan dengan orang yang berbeda keyakinan.
Hikmah dari kisah ini adalah bahwa keberkahan tidak diukur dari banyaknya harta, tetapi dari keikhlasan dan cara kita menggunakannya. Ketika Nabi ﷺ dan para sahabatnya berbagi, Allah melipatgandakan keberkahan makanan tersebut. Ini adalah pelajaran berharga bagi kita bahwa sedekah dan berbagi tidak akan membuat kita miskin, justru akan menambah keberkahan.
Kesimpulan Praktis
- Yakinlah pada Keberkahan: Jangan ragu untuk berbagi makanan atau rezeki dengan orang lain. Allah akan melipatgandakan keberkahan pada apa yang kita miliki.
- Jaga Adab Makan: Makanlah secukupnya, jangan berlebihan, dan niatkan untuk kuat beribadah kepada Allah.
- Perhatikan Orang Lain: Selalu ingat dan perhatikan saudara kita yang tidak hadir atau sedang membutuhkan.
- Jujur dalam Muamalah: Pastikan setiap transaksi kita jelas dan adil, sebagaimana Nabi ﷺ mencontohkannya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.