Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan adab makan yang sangat penting, yaitu mengambil makanan dari bagian wadah/piring yang berada di dekat kita, bukan dari bagian tengah atau sisi yang jauh. Ini adalah bentuk adab kepada Allah ﷻ dan kepada sesama yang makan bersama, serta menjaga keberkahan makanan. Pelajaran utamanya adalah seorang muslim hendaknya tidak serakah dan selalu memperhatikan adab dalam hal sekecil apapun, termasuk saat makan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:
Teks Arab hadits (dengan harakat sesuai riwayat):
حَدَّثَنِي عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ حَلْحَلَةَ الدِّيلِيِّ، عَنْ وَهْبِ بْنِ كَيْسَانَ أَبِي نُعَيْمٍ، عَنْ عُمَرَ بْنِ أَبِي سَلَمَةَ ـ وَهْوَ ابْنُ أُمِّ سَلَمَةَ ـ زَوْجِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: أَكَلْتُ يَوْمًا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ طَعَامًا فَجَعَلْتُ آكُلُ مِنْ نَوَاحِي الصَّحْفَةِ فَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: "كُلْ مِمَّا يَلِيكَ"
Makna Ringkas:
Umar bin Abi Salamah—putra Ummu Salamah, istri Nabi ﷺ—berkata: "Suatu hari aku makan bersama Rasulullah ﷺ, lalu aku mengambil makanan dari berbagai sisi piring. Maka Rasulullah ﷺ bersabda kepadaku: 'Makanlah dari apa yang ada di dekatmu.'"
Rujukan Ulama:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Ath'imah (Makanan), Bab "Makan dari Apa yang Dekat denganmu" (no. 5377). Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim, Imam At-Tirmidzi, dan Imam Abu Dawud dari jalur yang sama.
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitabnya Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari menjelaskan hadits ini secara panjang lebar, termasuk hikmah dan faedahnya. Beliau menyebutkan bahwa larangan mengambil dari sisi piring yang jauh adalah untuk menghindari perbuatan yang tidak sopan dan menjaga adab bersama orang lain.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
1. Adab Makan Bersama
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa sunnahnya seseorang mengambil makanan dari arah yang ada di hadapannya, bukan dari arah teman duduknya. Ini adalah bentuk penghormatan kepada orang lain dan menjaga perasaan mereka. Beliau juga menyebutkan bahwa mengambil dari bagian tengah piring atau dari sisi yang jauh menunjukkan ketamakan dan tidak sopan.
2. Keberkahan Makanan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa makanan yang berkah adalah makanan yang dimakan dengan adab. Ketika seseorang mengambil dari bagian yang dekat dengannya, ini menunjukkan sikap qana'ah (merasa cukup) dan tidak rakus. Adapun mengambil dari berbagai sisi piring bisa mengurangi keberkahan karena terkesan serakah dan tidak menghormati yang lain.
3. Pendidikan Anak dengan Lembut
Yang menarik dari hadits ini adalah cara Nabi ﷺ menegur Umar bin Abi Salamah yang saat itu masih kecil. Beliau tidak membentak atau memarahi, tetapi menegur dengan kalimat yang singkat, jelas, dan penuh kasih sayang: "Kul mimma yalika" (Makanlah dari apa yang dekat denganmu). Ini menunjukkan metode pendidikan Islam yang lembut namun tegas.
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa Umar bin Abi Salamah saat itu masih anak-anak, dan Nabi ﷺ mengajarkannya adab langsung dengan praktik, bukan hanya teori. Ini adalah contoh terbaik dalam mendidik anak.
4. Menghindari Sifat Serakah
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Bahjatul Qulubil Abrar menjelaskan bahwa mengambil makanan dari sisi yang jauh menunjukkan sifat serakah dan tidak memperhatikan hak orang lain. Adapun orang yang beradab akan mengambil dari tempat yang dekat dengannya, karena ini menunjukkan sikap tawadhu' dan tidak rakus.
5. Perbedaan Pendapat Ulama tentang Makan dari Tengah
Sebagian ulama berpendapat bahwa mengambil dari tengah piring hukumnya makruh jika makan bersama orang lain, karena bagian tengah biasanya adalah bagian yang paling enak dan paling baik. Namun jika makan sendirian, sebagian ulama membolehkannya. Pendapat yang lebih kuat—menurut Syaikh Al-Utsaimin—adalah tetap dianjurkan mengambil dari arah yang dekat, karena ini adalah adab yang diajarkan Nabi ﷺ secara umum.
Story Telling
Ada kisah indah tentang adab makan dari seorang salaf yang bernama Imam Sufyan bin 'Uyainah—salah seorang ulama besar tabi'ut tabi'in yang masuk dalam daftar rujukan kita. Beliau dikenal sangat memperhatikan adab-adab sunnah, termasuk dalam hal makan.
Suatu ketika, Sufyan bin 'Uyainah ditanya tentang adab makan. Beliau menjawab dengan menjelaskan bahwa makan bersama adalah momen yang penuh keberkahan jika dilakukan dengan adab. Beliau mencontohkan bagaimana para ulama terdahulu sangat berhati-hati dalam mengambil makanan, tidak pernah mendahulukan diri sendiri, dan selalu mengambil dari tempat yang dekat dengan mereka.
Kisah lain yang lebih terkenal adalah ketika Umar bin Abi Salamah—perawi hadits ini—menceritakan pengalamannya sebagai anak kecil yang makan bersama Nabi ﷺ. Beliau masih ingat betul bagaimana Nabi ﷺ mengajarkannya dengan lembut. Umar kecil saat itu mungkin belum paham betul mengapa beliau dilarang mengambil dari sisi piring yang jauh, tetapi teguran lembut itu melekat dalam ingatannya seumur hidup, hingga beliau tumbuh menjadi seorang yang sangat memperhatikan adab.
Hikmah dari kisah ini: Pendidikan adab yang diberikan dengan kasih sayang akan lebih membekas daripada pendidikan yang keras. Nabi ﷺ tidak berkata, "Jangan kau lakukan itu!" dengan nada marah, tetapi cukup bersabda dengan tenang: "Makanlah dari apa yang dekat denganmu." Dan lihatlah, Umar bin Abi Salamah meriwayatkan hadits ini hingga menjadi pelajaran bagi seluruh umat Islam hingga hari ini.
Kesimpulan Praktis
Beberapa hal yang bisa kita amalkan dari hadits ini:
- Saat makan bersama, ambillah makanan dari bagian piring/wadah yang berada di dekat kita, bukan dari bagian tengah atau sisi yang jauh.
- Ajarkan adab ini kepada anak-anak dengan cara yang lembut dan penuh kasih sayang, sebagaimana Nabi ﷺ mengajarkan kepada Umar bin Abi Salamah.
- Hindari sifat serakah dalam hal apapun, termasuk dalam hal makanan. Makanan yang dimakan dengan adab akan membawa keberkahan.
- Perhatikan perasaan orang lain yang makan bersama kita. Jangan sampai kita mengambil bagian yang seharusnya menjadi hak mereka.
- Jadikan setiap momen makan sebagai ibadah dengan menjaga adab-adabnya, seperti membaca basmalah, makan dengan tangan kanan, dan tidak mencela makanan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.