Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 5374 tentang Keluarga Nabi tidak pernah kenyang tiga hari berturut-turut

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menggambarkan kehidupan Nabi ﷺ yang sangat sederhana dan zuhud terhadap dunia. Beliau dan keluarganya tidak pernah kenyang dengan makanan selama tiga hari berturut-turut hingga wafat, padahal jika beliau mau, seluruh dunia dan isinya bisa beliau miliki. Ini adalah pelajaran besar bagi kita untuk tidak menjadikan dunia dan perut sebagai tujuan utama hidup, serta meneladani kesabaran dan tawakal beliau dalam menghadapi keterbatasan duniawi.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Makanan, Bab "Dan Firman Allah Ta'ala: Makanlah dari yang baik-baik dari apa yang Kami berikan kepada kalian", nomor 5374, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Dalil Al-Qur'an yang relevan:

Allah Ta'ala berfirman:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

"Dan makan serta minumlah kalian, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan." (QS. Al-A'raf [7]: 31)

Ayat ini memerintahkan kita untuk makan dan minum dari rezeki Allah, namun melarang sikap berlebihan (israf) dalam hal tersebut. Ini sejalan dengan hadits di atas yang menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidak pernah berlebihan dalam hal makanan, bahkan cenderung sangat sederhana.

Hadits lain yang terkait:

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: "Rasulullah ﷺ dan keluarganya sering melewati malam-malam dalam keadaan lapar, dan mereka tidak mendapatkan makan malam, dan makanan mereka biasanya hanya roti dari gandum kasar." (HR. At-Tirmidzi, dan ia berkata: hadits hasan shahih)

Kaitan dengan ulama:

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (syarah Shahih Al-Bukhari) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan kezuhudan Nabi ﷺ dan keluarganya terhadap dunia. Beliau juga menyebutkan bahwa hal ini bukan karena kemiskinan yang menghinakan, tetapi karena pilihan Nabi ﷺ untuk tidak terlalu menikmati dunia, sebagai bentuk syukur dan tawadhu' di hadapan Allah.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini adalah salah satu bukti kezuhudan Nabi ﷺ yang sangat tinggi. Mari kita bedah beberapa poin penting:

1. Makna "Keluarga Muhammad tidak pernah kenyang"

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa yang dimaksud "keluarga Muhammad" adalah istri-istri beliau dan orang-orang yang tinggal di rumah beliau. Mereka tidak pernah merasakan kenyang dengan makanan yang mengenyangkan selama tiga hari berturut-turut. Ini bukan berarti mereka tidak makan sama sekali, tetapi mereka makan sekadar untuk bertahan hidup, tidak sampai kenyang yang berlebihan.

2. Mengapa Nabi ﷺ memilih hidup sederhana?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa Nabi ﷺ adalah orang yang paling zuhud terhadap dunia. Beliau memilih hidup sederhana bukan karena tidak mampu, tetapi karena beliau memahami hakikat dunia yang fana. Beliau lebih memilih kenikmatan akhirat yang kekal daripada kenikmatan dunia yang sementara. Ini adalah pilihan sadar, bukan keterpaksaan.

3. Pelajaran tentang qana'ah (merasa cukup)

Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarij as-Salikin menjelaskan bahwa qana'ah adalah merasa cukup dengan apa yang Allah berikan, dan tidak terlalu mengejar dunia. Nabi ﷺ adalah teladan terbaik dalam hal ini. Beliau tidak pernah mengeluh tentang makanan yang ada, dan selalu bersyukur atas apa yang diberikan Allah.

4. Bukan berarti kita dilarang menikmati makanan

Penting untuk dipahami bahwa hadits ini bukan berarti kita dilarang menikmati makanan yang halal dan baik. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa Islam tidak melarang umatnya untuk menikmati rezeki Allah yang halal. Yang dilarang adalah berlebihan (israf) dan menjadikan makanan sebagai tujuan hidup. Nabi ﷺ sendiri pernah makan daging, madu, dan makanan yang beliau sukai. Namun beliau tidak pernah menjadikan makanan sebagai prioritas utama.

5. Keseimbangan antara dunia dan akhirat

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah memerintahkan kita untuk makan dan minum dari rezeki-Nya, namun dengan tidak berlebihan. Ini menunjukkan bahwa Islam mengajarkan keseimbangan. Kita boleh menikmati dunia, tetapi jangan sampai melupakan akhirat. Kita boleh makan sampai kenyang, tetapi jangan sampai berlebihan yang menyebabkan kemudharatan.

6. Hikmah di balik kesederhanaan Nabi ﷺ

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa kesederhanaan Nabi ﷺ dalam makanan adalah untuk mengajarkan umatnya agar tidak terlalu bergantung pada dunia. Dengan hidup sederhana, beliau menunjukkan bahwa kebahagiaan sejati bukan terletak pada banyaknya makanan atau harta, tetapi pada ketenangan hati dan kedekatan dengan Allah.

Story Telling

Ada kisah yang sangat menyentuh tentang kesederhanaan Nabi ﷺ. Suatu ketika, Umar bin Khathab radhiyallahu 'anhu masuk ke rumah Nabi ﷺ dan melihat bekas tikar di lambung beliau yang terlihat jelas. Umar pun menangis melihat keadaan tersebut. Nabi ﷺ bertanya, "Mengapa engkau menangis, wahai Umar?" Umar menjawab, "Wahai Rasulullah, bagaimana aku tidak menangis, sedangkan aku melihat bekas tikar di lambungmu, dan ini adalah rumahmu yang sederhana, sementara Kisra dan Kaisar hidup dalam kemewahan?"

Maka Nabi ﷺ bersabda, "Tidakkah engkau rela wahai Umar, bahwa untuk mereka (Kisra dan Kaisar) dunia ini, dan untuk kita akhirat?" (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kisah ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ dengan sadar memilih kehidupan yang sederhana di dunia, karena beliau lebih mengutamakan kenikmatan akhirat yang kekal. Beliau tidak iri dengan kemewahan para raja, karena beliau tahu bahwa dunia ini hanyalah persinggahan sementara.

Kesimpulan Praktis

  1. Teladani kesederhanaan Nabi ﷺ dalam hal makanan dan kebutuhan duniawi. Tidak perlu berlebihan dalam makan dan minum.
  2. Jadikan makanan sebagai sarana ibadah, yaitu untuk menjaga kesehatan agar bisa beribadah dengan baik, bukan sebagai tujuan hidup.
  3. Hindari sikap berlebihan (israf) dalam makanan, baik dalam jumlah maupun jenisnya. Makanlah secukupnya dan jangan membuang-buang makanan.
  4. Latih diri untuk qana'ah (merasa cukup) dengan apa yang Allah berikan, dan jangan terlalu mengejar dunia.
  5. Ingatlah bahwa dunia ini sementara, dan kenikmatan akhirat jauh lebih baik dan kekal. Jangan sampai kita terlalu sibuk mengejar dunia sehingga melupakan akhirat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.