Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah kabar gembira yang sangat besar bagi siapa saja yang mau mengasuh dan memperhatikan anak yatim. Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa beliau dan orang yang mengasuh anak yatim akan berada sangat dekat di surga, seperti dekatnya jari telunjuk dan jari tengah. Ini menunjukkan betapa tingginya kedudukan orang yang peduli pada anak yatim di sisi Allah ﷻ.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Ath-Thalaq, Bab Li'an, nomor 5304, dari sahabat Sahl bin Sa'd As-Sa'idi radhiyallahu 'anhu. Lafaz haditsnya:
حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ زُرَارَةَ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ أَبِي حَازِمٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ سَهْلٍ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ " أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا " . وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى، وَفَرَّجَ بَيْنَهُمَا شَيْئًا .
Artinya: Dari Sahl bin Sa'd, Rasulullah ﷺ bersabda, "Aku dan orang yang mengasuh anak yatim akan seperti ini di surga," sambil menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya dan memisahkan keduanya.
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari di tempat lain (no. 6004) dan Imam Muslim (no. 2983) dari jalur Sahl bin Sa'd.
Allah ﷻ juga berfirman dalam Al-Qur'an:
فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ
"Adapun terhadap anak yatim, maka janganlah engkau berlaku sewenang-wenang." (QS. Adh-Dhuha [93]: 9)
Dan firman-Nya:
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ
"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim..." (QS. An-Nisa' [4]: 36)
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa kata "كَافِلُ الْيَتِيمِ" (orang yang mengasuh anak yatim) mencakup dua makna:
- Mengasuh secara finansial: menanggung nafkah, pakaian, dan kebutuhan hidupnya.
- Mengasuh secara pendidikan dan pengasuhan: mendidik, mengarahkan, dan memperhatikan akhlak serta agamanya.
Imam Ibn Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kafil adalah orang yang menanggung urusan anak yatim, baik dari segi nafkah maupun pendidikan. Beliau juga menukil perkataan Al-Khathabi bahwa kedekatan ini adalah kedekatan derajat dan tempat di surga.
Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa isyarat Nabi ﷺ dengan dua jari menunjukkan kedekatan yang sangat erat antara beliau dan pengasuh anak yatim di surga. Namun beliau menegaskan bahwa ini bukan berarti kedudukan pengasuh yatim sama dengan kedudukan Nabi ﷺ, tetapi ini menunjukkan kedekatan tempat dan derajat mereka di surga.
Syeikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah ﷻ memerintahkan untuk berbuat baik kepada anak yatim dan melarang menghardik mereka. Ini menunjukkan bahwa perhatian kepada anak yatim adalah bagian dari ajaran Islam yang agung.
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini adalah dorongan besar untuk mengasuh anak yatim, dan bahwa kedekatan dengan Nabi ﷺ di surga adalah keutamaan yang sangat besar yang tidak bisa disamakan dengan keutamaan lainnya.
Para ulama juga menjelaskan bahwa mengasuh anak yatim bisa dilakukan oleh siapa saja: kerabat, tetangga, atau bahkan orang asing yang ikhlas karena Allah. Yang terpenting adalah niat yang tulus dan perlakuan yang baik.
Story Telling
Ada kisah yang sangat menyentuh tentang perhatian para salaf terhadap anak yatim. Diriwayatkan bahwa Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata, "Sesungguhnya orang yang mengasuh anak yatim, jika ia mengusap kepalanya karena kasih sayang, maka Allah akan mencatat kebaikan untuknya sebanyak rambut yang diusapnya."
Adapun Imam Ahmad bin Hanbal dikenal sangat lembut dan perhatian kepada anak-anak yatim. Beliau sering mengunjungi mereka dan memberikan perhatian khusus, karena beliau memahami betul anjuran Nabi ﷺ dalam hadits ini.
Ada juga kisah tentang Sufyan ats-Tsauri yang berkata, "Barangsiapa yang ingin melihat kedudukan yang tinggi di surga, maka hendaklah ia mengasuh anak yatim." Para ulama salaf sangat memahami bahwa mengasuh anak yatim adalah jalan menuju kedudukan yang mulia di sisi Allah.
Kesimpulan Praktis
Beberapa hal yang bisa kita amalkan dari hadits ini:
- Mengasuh anak yatim dengan menanggung nafkahnya, baik dari kalangan kerabat maupun bukan.
- Memberikan pendidikan dan perhatian kepada anak yatim, bukan hanya sekadar memberi makan.
- Memperlakukan anak yatim dengan lembut dan kasih sayang, seperti mengusap kepalanya.
- Tidak menghardik atau menyakiti perasaan anak yatim, karena Allah melarang hal ini dalam Al-Qur'an.
- Mengajak keluarga dan orang lain untuk peduli pada anak yatim, karena ini adalah amalan yang sangat dicintai Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.