Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah salah satu hadits yang sangat agung dan menjadi pondasi penting dalam Islam. Hadits ini menjawab pertanyaan tentang amalan apa yang paling dicintai Allah. Jawaban Nabi ﷺ secara berurutan adalah: shalat pada waktunya, kemudian berbakti kepada kedua orang tua, dan kemudian jihad di jalan Allah. Urutan ini menunjukkan tingkatan prioritas amal yang sangat jelas, dimulai dari kewajiban utama seorang hamba kepada Rabb-nya, lalu kepada orang tua, dan kemudian pengorbanan di jalan Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Mawaqit Ash-Shalah (Waktu-Waktu Shalat), Bab Fadhl Ash-Shalah li Waqtiha (Keutamaan Shalat Tepat Waktu), no. 527. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al-Iman, Bab Bayan Kaun al-Iman billah Afdhal al-A'mal, no. 85, dari sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu.
Teks Arab Hadits (dengan harakat lengkap):
حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ هِشَامُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ قَالَ: حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ: الْوَلِيدُ بْنُ الْعَيْزَارِ أَخْبَرَنِي قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا عَمْرٍو الشَّيْبَانِيَّ يَقُولُ: حَدَّثَنَا صَاحِبُ هَذِهِ الدَّارِ، وَأَشَارَ إِلَى دَارِ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: سَأَلْتُ النَّبِيَّ ﷺ: أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ؟ قَالَ: «الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا». قَالَ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: «ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ». قَالَ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: «الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ». قَالَ: حَدَّثَنِي بِهِنَّ، وَلَوِ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِي.
Terjemahan: Dari Abu 'Amr Asy-Syaibani, ia berkata: "Telah menceritakan kepada kami pemilik rumah ini (yaitu Abdullah bin Mas'ud), seraya menunjuk ke rumah Abdullah. Ia berkata: 'Aku bertanya kepada Nabi ﷺ, "Amalan apakah yang paling dicintai Allah?" Beliau menjawab, "Shalat pada waktunya." Aku bertanya lagi, "Kemudian apa?" Beliau menjawab, "Berbakti kepada kedua orang tua." Aku bertanya lagi, "Kemudian apa?" Beliau menjawab, "Jihad di jalan Allah." Abdullah berkata, "Beliau menyebutkan hal-hal ini kepadaku. Seandainya aku bertanya lagi, niscaya beliau akan menambahkannya lagi.'"
Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman:
إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا
"Sungguh, shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman."
(QS. An-Nisa' [4]: 103)
Ayat ini menegaskan bahwa shalat memiliki waktu-waktu yang telah ditentukan, dan menunaikannya pada waktu tersebut adalah perintah langsung dari Allah.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memberikan kita pelajaran yang sangat mendalam tentang skala prioritas dalam beramal. Mari kita telaah satu per satu:
1. Shalat pada Waktunya (الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا)
Para ulama dari kalangan salaf sangat menekankan keutamaan shalat di awal waktu. Imam Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu sendiri, yang meriwayatkan hadits ini, adalah salah satu sahabat yang sangat menjaga shalat di awal waktunya. Suatu ketika beliau ditanya, "Amalan apa yang paling utama?" Beliau menjawab, "Shalat pada waktunya." Kemudian beliau berkata, "Tidakkah kamu melihat bahwa shalat itu adalah sebaik-baik amalan? Tidakkah kamu melihat bahwa shalat itu adalah tiang agama?"
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan bahwa mendahulukan shalat di awal waktu adalah lebih utama daripada mengakhirkannya, selama tidak ada udzur syar'i. Ini adalah pendapat jumhur ulama, termasuk Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Asy-Syafi'i. Bahkan Imam Asy-Syafi'i dalam salah satu qaul-nya (pendapat) yang masyhur menyatakan bahwa shalat di awal waktu adalah lebih utama, dan ini adalah pendapat yang kuat.
2. Berbakti kepada Kedua Orang Tua (بِرُّ الْوَالِدَيْنِ)
Setelah shalat, Nabi ﷺ menyebutkan berbakti kepada kedua orang tua. Ini menunjukkan betapa tingginya kedudukan orang tua dalam Islam. Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya Jami' Al-'Ulum wa Al-Hikam menjelaskan bahwa berbakti kepada orang tua adalah amalan yang paling utama setelah shalat, karena orang tua adalah sebab terbesar keberadaan seorang anak di dunia ini. Mereka telah bersusah payah merawat, mendidik, dan membesarkan anak-anaknya.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah sering kali menggandengkan perintah beribadah kepada-Nya dengan perintah berbuat baik kepada orang tua, seperti dalam QS. Al-Isra' [17]: 23 dan QS. Luqman [31]: 14. Ini menunjukkan bahwa kedudukan orang tua sangat agung di sisi Allah.
3. Jihad di Jalan Allah (الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ)
Urutan ketiga adalah jihad di jalan Allah. Perlu dipahami, jihad di sini memiliki makna yang luas, mencakup berperang di jalan Allah untuk meninggikan kalimat-Nya, serta mencakup jihad melawan hawa nafsu dan setan. Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Jihad adalah puncak tertinggi dari Islam." Namun, dalam hadits ini, jihad disebut setelah berbakti kepada orang tua, karena jihad adalah bentuk pengorbanan yang sangat besar, dan tidak semua orang mampu melakukannya. Sedangkan berbakti kepada orang tua adalah kewajiban yang terus berlangsung selama orang tua masih hidup.
Perbedaan Pendapat dan Pendapat yang Kuat:
Ada sebagian ulama yang menafsirkan "shalat pada waktunya" dengan makna shalat di awal waktu, dan ada juga yang menafsirkannya dengan menjaga shalat di waktu-waktunya secara umum, baik di awal maupun di akhir waktu selama masih dalam waktunya. Namun, pendapat yang lebih kuat adalah bahwa yang dimaksud adalah menjaga shalat di awal waktunya, karena ini adalah amalan yang paling dicintai Allah, sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits lain yang menganjurkan shalat di awal waktu.
Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan shalat di awal waktu, dan ini adalah pendapat yang disepakati oleh para ulama dari kalangan sahabat dan tabi'in.
Story Telling
Ada sebuah kisah yang sangat menyentuh tentang seorang sahabat yang bernama Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, yang meriwayatkan hadits ini. Suatu ketika, beliau ditanya oleh seorang laki-laki, "Wahai Abu Abdurrahman, ajarkanlah kepadaku amalan yang paling utama." Abdullah bin Mas'ud menjawab, "Shalat pada waktunya." Laki-laki itu bertanya lagi, "Kemudian apa?" Beliau menjawab, "Berbakti kepada kedua orang tua." Laki-laki itu bertanya lagi, "Kemudian apa?" Beliau menjawab, "Jihad di jalan Allah." Kemudian beliau berkata, "Seandainya aku bertanya lebih banyak lagi kepada Nabi ﷺ, niscaya beliau akan menambahkannya lagi. Maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu meremehkan amalan-amalan kebaikan, sekecil apa pun."
Kisah ini menunjukkan bahwa para sahabat sangat antusias untuk mengetahui amalan yang paling dicintai Allah, dan mereka tidak pernah bosan untuk bertanya. Ini adalah pelajaran bagi kita untuk selalu semangat dalam mencari ilmu dan mengamalkannya.
Kesimpulan Praktis
Berikut adalah beberapa poin yang bisa kita amalkan dari hadits ini:
- Jaga shalat di awal waktunya. Ini adalah amalan yang paling dicintai Allah setelah iman. Usahakan untuk selalu shalat di awal waktu, karena ini adalah bukti kecintaan kita kepada Allah dan ketaatan kita kepada perintah-Nya.
- Berbaktilah kepada kedua orang tua. Jangan pernah meremehkan kebaikan kepada mereka, baik dengan perkataan, perbuatan, maupun harta. Doakan mereka selalu, terutama jika mereka telah tiada.
- Bersemangatlah dalam jihad. Jihad di jalan Allah memiliki banyak bentuk. Jika kita tidak mampu berperang, maka kita bisa berjihad dengan harta, ilmu, dan tenaga untuk meninggikan kalimat Allah.
- Jangan pernah berhenti bertanya dan belajar. Seperti Abdullah bin Mas'ud yang ingin terus bertanya, kita pun harus semangat dalam menuntut ilmu agama agar bisa beramal dengan benar.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.