Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan beberapa adab penting: (1) kasih sayang dan kelembutan Nabi ﷺ kepada para sahabat, (2) anjuran menikahi gadis muda bagi yang belum pernah menikah agar lebih mudah tercipta keharmonisan, (3) adab seorang suami agar tidak langsung menemui istrinya setelah perjalanan jauh, tetapi memberi waktu agar istri berhias dan merapikan diri, dan (4) perhatian Islam terhadap kebersihan dan keindahan dalam kehidupan suami-istri.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Pernikahan (Kitab An-Nikah), Bab Wanita yang Mencukur dan Menyisir, nomor 5247, dari sahabat Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhuma.
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya dengan lafaz yang semakna, dan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan An-Nasa'i — semuanya dari Jabir bin Abdullah.
Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan adab dan kelembutan dalam keluarga:
QS. Ar-Rum [30]: 21
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Terjemahan: "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia menciptakan untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri supaya kamu dapat ketenangan bersamanya, dan dijadikan-Nya rasa kasih dan sayang di antara kamu. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir."
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan bahwa tujuan pernikahan adalah ketenangan (sakinah), dan Allah menanamkan rasa mawaddah (cinta) serta rahmah (kasih sayang) di antara suami-istri. Maka segala sesuatu yang menguatkan mawaddah dan rahmah — termasuk kelembutan, perhiasan, dan kerapian — adalah bagian dari maksud syariat.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki beberapa pelajaran utama yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:
1. Kelembutan dan perhatian Nabi ﷺ kepada sahabatnya.
Nabi ﷺ menyusul Jabir yang menunggang unta lambat, lalu menusuk unta itu dengan tombak kecil ('anazah) yang beliau bawa sehingga unta tersebut berlari cepat. Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidak hanya memperhatikan urusan besar, tetapi juga urusan kecil para sahabatnya. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa perbuatan Nabi ﷺ ini menunjukkan kelembutan dan kasih sayang beliau kepada para sahabat, serta bolehnya membantu orang lain dalam urusan yang mubah.
2. Anjuran menikahi gadis muda (bikr) bagi yang belum pernah menikah.
Ketika Jabir mengatakan bahwa ia menikahi janda (tsayyib), Nabi ﷺ bersabda: "Mengapa tidak menikahi gadis muda sehingga kamu bisa bermain dengannya dan dia bisa bermain denganmu?"
Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa sabda Nabi ﷺ ini bukanlah larangan menikahi janda, melainkan anjuran (irsyad) bagi pemuda yang belum pernah menikah agar memilih gadis muda, karena hal itu lebih menyenangkan dan lebih menguatkan ikatan cinta di awal pernikahan. Namun Jabir memiliki alasan syar'i: ia menikahi janda karena ingin mengurus adik-adik perempuannya yang masih kecil, sebagaimana disebutkan dalam riwayat lain di Shahih Al-Bukhari dan Muslim. Maka Nabi ﷺ tidak mencela pilihan Jabir, bahkan mendoakannya.
Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa syariat memperhatikan aspek keharmonisan dan kebahagiaan dalam pernikahan, dan bahwa memilih pasangan yang sesuai adalah bagian dari tuntunan Nabi ﷺ.
3. Adab tidak langsung menemui istri setelah perjalanan jauh.
Ketika rombongan hampir tiba di Madinah, Nabi ﷺ bersabda: "Tunggu sampai kalian masuk di malam hari agar wanita yang rambutnya acak-acakan bisa menyisir rambutnya dan wanita yang ditinggal suaminya bisa mencukur rambut kemaluannya (berhias/bersih diri)."
Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ini adalah adab yang sangat indah: seorang suami hendaknya tidak langsung masuk menemui istrinya setelah perjalanan jauh tanpa memberi kabar, agar istri memiliki waktu untuk bersiap, merapikan diri, dan berhias. Ini menunjukkan perhatian Islam terhadap keindahan dan kebersihan dalam hubungan suami-istri.
Imam An-Nawawi menambahkan bahwa hadits ini juga menunjukkan sunnahnya memberi waktu bagi istri untuk bersiap sebelum suami masuk rumah setelah perjalanan jauh, dan bahwa kebersihan serta kerapian adalah bagian dari tuntunan Islam.
4. Perhatian terhadap kebersihan diri (istihdad).
Kata "تَسْتَحِدَّ" (tastahidda) berasal dari "istihdad" yang berarti mencukur rambut kemaluan atau membersihkan diri. Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa kebersihan badan adalah bagian dari fitrah dan tuntunan Islam, dan bahwa seorang istri hendaknya menyambut suaminya dalam keadaan bersih dan rapi.
Story Telling
Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhuma adalah salah satu sahabat yang banyak meriwayatkan hadits. Dalam kisah ini, beliau menceritakan pengalamannya bersama Nabi ﷺ dalam sebuah peperangan. Ketika kembali ke Madinah, Jabir yang baru menikah ingin segera sampai untuk menemui istrinya. Namun unta yang ia tunggangi lambat. Nabi ﷺ yang melihat hal itu segera menyusul dan menusuk unta Jabir dengan tombak kecil yang beliau bawa, sehingga unta itu berlari kencang.
Ketika Nabi ﷺ bertanya tentang pernikahannya, Jabir menjawab bahwa ia menikahi seorang janda. Nabi ﷺ lalu bertanya dengan lembut mengapa tidak menikahi gadis muda. Jabir menjelaskan alasannya — ia ingin mengurus adik-adik perempuannya yang masih kecil, sebagaimana disebutkan dalam riwayat lain. Nabi ﷺ menerima alasan itu dengan baik.
Kemudian, sesampainya di dekat Madinah, Nabi ﷺ mengajarkan adab yang sangat berharga: jangan langsung masuk rumah di malam hari tanpa memberi waktu bagi istri untuk bersiap. Ini adalah pelajaran tentang kelembutan, perhatian, dan kasih sayang dalam rumah tangga.
Imam Al-Bukhari meriwayatkan kisah ini dalam Shahih-nya, dan Imam Muslim juga meriwayatkannya. Para ulama seperti Ibnu Hajar dan An-Nawawi menjadikan hadits ini sebagai dalil dalam bab adab pernikahan dan kelembutan suami-istri.
Kesimpulan Praktis
- Bagi yang belum pernah menikah, dianjurkan memilih gadis muda (bikr) agar lebih mudah tercipta keharmonisan dan kasih sayang di awal pernikahan — namun ini adalah anjuran, bukan kewajiban.
- Bagi suami yang baru pulang dari perjalanan jauh, hendaknya memberi waktu bagi istri untuk bersiap, merapikan diri, dan berhias sebelum menemui beliau — ini adalah adab yang diajarkan Nabi ﷺ.
- Perhatikan kebersihan dan kerapian diri dalam kehidupan suami-istri, karena Islam mencintai keindahan dan kebersihan.
- Bersikap lembut dan penuh perhatian kepada pasangan, sebagaimana Nabi ﷺ mencontohkan kelembutan kepada para sahabatnya.
- Terimalah pilihan orang lain selama tidak melanggar syariat, sebagaimana Nabi ﷺ menerima alasan Jabir menikahi janda.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.