Penjelasan Hadits Bukhari No. 5224 tentang Kecemburuan suami dan kesabaran istri dalam rumah tangga

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan kehidupan rumah tangga Asma' binti Abu Bakar dengan Az-Zubair bin Al-'Awwam yang sangat sederhana, penuh kerja keras, dan saling menjaga kehormatan. Di dalamnya terdapat pelajaran tentang kesabaran istri, kecemburuan suami yang wajar, adab terhadap Nabi ﷺ, dan kemuliaan akhlak beliau yang peka terhadap rasa malu seorang wanita. Hadits ini juga menunjukkan bahwa kecemburuan yang didasari agama dan menjaga kehormatan adalah sesuatu yang dipuji, bukan dicela.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Pernikahan (Kitab An-Nikah), Bab Kecemburuan (Bab Al-Ghirah), nomor 5224, dari Asma' binti Abu Bakar radhiyallahu 'anhuma.

Nabi ﷺ bersabda dalam hadits lain yang shahih, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa beliau ﷺ bersabda:

«لَا تَكْرَهُوا الْغَيْرَةَ فَإِنَّهَا مِنَ الْإِيمَانِ»

"Janganlah kalian membenci kecemburuan, karena sesungguhnya ia bagian dari iman."

(Hadits ini maknanya disebutkan oleh para ulama; Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa kecemburuan yang terpuji adalah yang timbul dari agama dan menjaga kehormatan.)

Allah ﷻ berfirman:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

QS. An-Nisa' [4]: 19

"Dan bergaullah dengan mereka (para istri) secara patut."

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini memerintahkan suami untuk berbuat baik kepada istri, menyayangi, dan tidak menyakiti mereka.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:

Pertama: Kesederhanaan dan kerja keras dalam rumah tangga.

Asma' binti Abu Bakar menceritakan bahwa Az-Zubair ketika menikahinya tidak memiliki harta, budak, maupun apa pun selain unta pengangkut air dan kudanya. Ini menunjukkan bahwa kemiskinan bukan penghalang bagi seorang wanita mulia untuk tetap taat dan membantu suaminya. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya seorang istri melayani suami di luar kewajiban pokoknya, sebagai bentuk kebaikan dan kerja sama, bukan sebagai kewajiban yang dipaksakan.

Kedua: Kecemburuan Az-Zubair yang terpuji.

Asma' menyebut bahwa Az-Zubair adalah "أَغْيَرَ النَّاسِ" (orang yang paling cemburu). Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa kecemburuan Az-Zubair adalah kecemburuan yang didasari agama dan menjaga kehormatan, bukan kecemburuan yang merusak. Nabi ﷺ sendiri tidak mencela kecemburuan ini, bahkan beliau memahami perasaan Asma' dan tidak memaksanya untuk naik bersama beliau.

Ketiga: Adab Asma' terhadap Nabi ﷺ dan suaminya.

Asma' merasa malu untuk berjalan bersama para lelaki, dan ia mengingat kecemburuan suaminya. Ini menunjukkan adab seorang wanita muslimah yang menjaga kehormatan diri dan perasaan suaminya. Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa rasa malu adalah bagian dari iman, dan sikap Asma' ini adalah contoh bagi para wanita muslimah.

Keempat: Kepekaan Nabi ﷺ terhadap perasaan orang lain.

Nabi ﷺ menyadari bahwa Asma' merasa malu, maka beliau tidak memaksanya dan melanjutkan perjalanan. Ini menunjukkan kelembutan dan kepekaan beliau ﷺ. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa ini adalah bagian dari akhlak Nabi ﷺ yang mulia, yang selalu memperhatikan perasaan orang lain.

Kelima: Pengorbanan Az-Zubair dan kejujurannya.

Az-Zubair berkata, "Demi Allah, bebanmu membawa biji kurma lebih berat bagiku daripada kamu naik bersama Nabi ﷺ." Ini menunjukkan bahwa Az-Zubair lebih mementingkan kehormatan istrinya daripada kecemburuan pribadinya. Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Latha'if Al-Ma'arif menyebutkan bahwa ini adalah contoh kejujuran dan kasih sayang seorang suami kepada istrinya.

Keenam: Perubahan keadaan setelah datangnya pertolongan Allah.

Setelah beberapa waktu, Abu Bakar mengirimkan pelayan untuk membantu Asma' mengurus kuda. Ini menunjukkan bahwa kesabaran akan berbuah kemudahan, sebagaimana janji Allah dalam Al-Qur'an:

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

QS. Al-Insyirah [94]: 6

"Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan."

Imam As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini adalah janji Allah yang pasti, bahwa setiap kesulitan akan diikuti dengan kemudahan bagi orang yang sabar dan bertakwa.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Asma' binti Abu Bakar radhiyallahu 'anhuma adalah seorang wanita yang sangat mulia, putri dari sahabat Nabi ﷺ yang paling utama, Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ia menikah dengan Az-Zubair bin Al-'Awwam, salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga. Meskipun Az-Zubair adalah seorang yang mulia dan pemberani, ia sangat miskin ketika menikahi Asma'.

Asma' tidak mengeluh. Ia memberi makan kuda suaminya, mengambil air dari sumur, dan membawa biji kurma dari tanah yang jauhnya dua pertiga farsakh (sekitar 4-5 kilometer) di atas kepalanya. Suatu hari, ketika ia sedang membawa beban itu, ia bertemu dengan Nabi ﷺ yang sedang bersama beberapa orang Anshar. Nabi ﷺ merasa kasihan dan ingin membawanya, tetapi Asma' merasa malu dan mengingat kecemburuan suaminya. Nabi ﷺ yang mulia memahami perasaan itu dan tidak memaksanya.

Ketika Asma' menceritakan kejadian itu kepada Az-Zubair, suaminya tidak marah. Ia justru berkata bahwa melihat istrinya membawa beban berat di hadapan Nabi ﷺ lebih memalukan baginya daripada istrinya naik bersama Nabi ﷺ. Ini menunjukkan betapa Az-Zubair menghargai kehormatan istrinya dan betapa ia mencintai Nabi ﷺ.

Beberapa waktu kemudian, Abu Bakar mengirimkan seorang pelayan untuk membantu Asma'. Sejak itu, beban Asma' menjadi ringan. Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, dan menjadi pelajaran bagi kita tentang kesabaran, kerja keras, dan kehormatan dalam rumah tangga.

Kesimpulan Praktis

  1. Bersabarlah dalam kesederhanaan. Seperti Asma' dan Az-Zubair, rumah tangga yang dibangun di atas kesabaran dan kerja keras akan diberkahi Allah.
  2. Jagalah kecemburuan yang terpuji. Kecemburuan yang didasari agama dan menjaga kehormatan adalah bagian dari iman, sebagaimana dijelaskan Imam An-Nawawi.
  3. Hormatilah perasaan suami/istri. Asma' mengingat kecemburuan suaminya, dan Az-Zubair menghargai kehormatan istrinya. Ini adalah contoh komunikasi dan saling pengertian dalam rumah tangga.
  4. Teladanilah kepekaan Nabi ﷺ. Beliau memahami perasaan orang lain dan tidak memaksakan kehendak. Ini adalah akhlak yang harus kita contoh.
  5. Yakinlah pada janji Allah. Setelah kesulitan, pasti ada kemudahan, sebagaimana dijelaskan Imam As-Sa'di dalam tafsirnya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?