Penjelasan Hadits Bukhari No. 5220 tentang Kecemburuan Allah terhadap perbuatan keji

Tentu, saya akan menjelaskan hadits ini sesuai dengan format dan aturan yang telah ditetapkan.

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa Allah memiliki sifat cemburu (ghirah) yang paling agung. Kecemburuan Allah ini bukan seperti kecemburuan makhluk, melainkan kecemburuan yang suci dan sempurna, yang membuat-Nya mengharamkan segala perbuatan keji. Selain itu, Allah juga paling suka dipuji dengan pujian yang benar, karena pujian kepada-Nya adalah pengakuan atas keagungan dan kesempurnaan-Nya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Pernikahan, Bab Kecemburuan, dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu.

Teks Arab hadits:

مَا مِنْ أَحَدٍ أَغْيَرُ مِنَ اللَّهِ، مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ حَرَّمَ الْفَوَاحِشَ، وَمَا أَحَدٌ أَحَبَّ إِلَيْهِ الْمَدْحُ مِنَ اللَّهِ

Terjemahan:

"Tidak ada yang lebih cemburu daripada Allah. Oleh karena itu Dia mengharamkan perbuatan-perbuatan keji, dan tidak ada yang lebih suka dipuji daripada Allah."

Hadits ini juga memiliki makna yang sangat dalam yang dijelaskan oleh para ulama. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa ghirah (cemburu) Allah adalah sifat yang menunjukkan keagungan-Nya, dan Dia tidak ridha hamba-Nya melakukan perbuatan keji. Sementara Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menyebutkan bahwa pujian yang dimaksud adalah pujian yang benar, yaitu memuji Allah dengan sifat-sifat kesempurnaan-Nya.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung dua sifat agung Allah yang perlu kita imani dan pahami dengan benar.

Pertama, sifat ghirah (cemburu) Allah. Para ulama seperti Ibnul Qayyim dalam kitabnya menjelaskan bahwa ghirah Allah adalah kecemburuan yang suci, yang muncul dari keagungan dan kesempurnaan-Nya. Allah cemburu ketika hamba-Nya melakukan perbuatan keji, karena perbuatan itu merusak hubungan antara hamba dengan Rabb-nya. Oleh karena itu, Allah mengharamkan segala perbuatan keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menegaskan bahwa pengharaman perbuatan keji adalah konsekuensi dari kecemburuan Allah terhadap hamba-Nya, agar mereka tidak terjatuh dalam kerusakan.

Kedua, sifat Allah yang suka dipuji. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa Allah suka dipuji dengan pujian yang benar, yaitu pujian yang sesuai dengan keagungan-Nya. Pujian ini bukan berarti Allah butuh pujian dari makhluk, tetapi karena pujian itu mengandung pengakuan terhadap keesaan dan kesempurnaan-Nya. Syaikh Abdurrahman as-Sa'di dalam tafsirnya menyebutkan bahwa pujian kepada Allah adalah bentuk ibadah yang paling utama, karena mengandung tauhid dan pengagungan.

Para ulama juga menjelaskan bahwa hadits ini mengajarkan kepada kita untuk memiliki rasa malu dan menjauhi perbuatan keji, karena Allah Maha Cemburu terhadap hamba-Nya. Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya meriwayatkan hadits serupa yang menegaskan bahwa tidak ada yang lebih cemburu daripada Allah. Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa ghirah Allah adalah sifat yang harus diimani tanpa menyerupakannya dengan makhluk.

Story Telling

Suatu ketika, seorang sahabat bertanya kepada Nabi ﷺ tentang sifat Allah. Nabi ﷺ kemudian menyebutkan hadits ini. Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, yang meriwayatkan hadits ini, adalah salah satu sahabat yang paling dekat dengan Nabi ﷺ dan paling memahami Al-Qur'an. Beliau meriwayatkan hadits ini untuk mengajarkan kepada umat Islam tentang keagungan Allah dan pentingnya menjaga kehormatan diri.

Dalam kisah lain, Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu pernah berkata, "Aku tidak pernah merasa cemburu kepada seorang wanita kecuali jika ia berada di rumahku." Ini menunjukkan bahwa ghirah adalah sifat yang mulia, tetapi ghirah Allah jauh lebih agung dan sempurna. Hikmahnya adalah kita harus meneladani sifat ghirah ini dengan menjaga kehormatan diri dan keluarga dari perbuatan keji.

Kesimpulan Praktis

  1. Imani sifat ghirah Allah: Allah Maha Cemburu terhadap perbuatan keji, maka jauhilah segala yang diharamkan-Nya.
  2. Jaga kehormatan diri: Hindari perbuatan keji, baik yang tampak maupun tersembunyi, karena Allah Maha Melihat.
  3. Perbanyak pujian kepada Allah: Pujian yang benar adalah bentuk tauhid dan pengagungan kepada Allah.
  4. Teladani sifat ghirah: Miliki rasa cemburu yang benar terhadap kehormatan diri dan keluarga, sesuai tuntunan syariat.
  5. Belajar dari ulama: Rujuklah penjelasan para ulama seperti Ibnu Hajar, an-Nawawi, Ibnul Qayyim, dan as-Sa'di untuk memahami hadits ini dengan benar.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?