Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 5203 tentang Nabi bersumpah menjauhi istri-istrinya sebulan, lalu kembali

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan kisah Nabi ﷺ yang bersumpah (ila') untuk tidak mendatangi istri-istri beliau selama satu bulan karena ada perselisihan dengan mereka. Dalam hadits ini terdapat pelajaran penting tentang bagaimana Nabi ﷺ mendidik para istri beliau dengan cara yang penuh hikmah, serta bagaimana para sahabat seperti Umar bin Khattab sangat perhatian dan berani bertanya langsung kepada Nabi ﷺ. Yang menarik, meskipun beliau bersumpah satu bulan, ternyata beliau hanya menjauh selama 29 hari, yang menunjukkan bahwa hitungan bulan dalam Islam bisa 29 hari, dan ini adalah bentuk keringanan dari Allah ﷻ.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang terkait:

Allah ﷻ berfirman tentang masalah ila' (sumpah untuk tidak mendatangi istri):

لِلَّذِينَ يُؤْلُونَ مِنْ نِسَائِهِمْ تَرَبُّصُ أَرْبَعَةِ أَشْهُرٍ ۖ فَإِنْ فَاءُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

"Orang-orang yang bersumpah (tidak akan menggauli) istrinya, diberi tangguh empat bulan. Kemudian jika mereka kembali (kepada istrinya), maka sungguh Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Baqarah [2]: 226)

Hadits terkait:

Hadits yang sedang kita bahas diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Pernikahan, Bab Hijrah Nabi ﷺ kepada Istri-Istrinya di Luar Rumah Mereka, no. 5203, dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma.

Kaitan dengan ulama:

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari menjelaskan hadits ini secara panjang lebar, termasuk tentang kisah ila' Nabi ﷺ dan bagaimana beliau akhirnya kembali kepada istri-istrinya setelah 29 hari. Beliau juga menjelaskan bahwa ini adalah dalil bahwa bulan bisa dihitung 29 hari.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa kisah ini terjadi pada tahun ke-9 Hijriyah, ketika istri-istri Nabi ﷺ meminta tambahan nafkah dan perlengkapan hidup yang lebih. Nabi ﷺ merasa keberatan dengan permintaan tersebut, lalu beliau bersumpah untuk tidak mendatangi mereka selama satu bulan sebagai bentuk pendidikan dan pelajaran bagi mereka.

Pertama: Makna Ila' dalam hadits ini

Imam Ibnul Qayyim dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa ila' adalah sumpah seorang suami untuk tidak menggauli istrinya. Dalam syariat, batas maksimal ila' adalah empat bulan sebagaimana disebut dalam QS. Al-Baqarah: 226. Namun Nabi ﷺ dalam kisah ini bersumpah hanya satu bulan, yang merupakan hak beliau sebagai suami untuk memberikan pelajaran kepada istri-istrinya.

Kedua: Hikmah Nabi ﷺ dalam mendidik keluarga

Syaikh Abdurrahman as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa tindakan Nabi ﷺ ini adalah bentuk pendidikan yang penuh hikmah. Beliau tidak langsung menceraikan atau menghukum dengan keras, tetapi memberikan waktu untuk merenung dan memperbaiki diri. Ini adalah pelajaran bagi para suami agar tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan saat terjadi perselisihan dengan istri.

Ketiga: Perhatian Umar bin Khattab

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menyebutkan bahwa kedatangan Umar bin Khattab dan pertanyaannya yang tegas menunjukkan keberanian sahabat dalam menanyakan hal-hal penting kepada Nabi ﷺ. Umar sangat khawatir jika Nabi ﷺ benar-benar menceraikan istri-istrinya, karena itu akan menjadi musibah besar bagi umat.

Keempat: Pelajaran tentang hitungan bulan

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa Nabi ﷺ menjauh selama 29 hari, bukan 30 hari. Ini menunjukkan bahwa bulan dalam hitungan syariat bisa 29 hari. Ini juga menunjukkan bahwa jika seseorang bersumpah untuk satu bulan, maka yang dimaksud adalah 29 atau 30 hari sesuai dengan keadaan bulan tersebut.

Kelima: Kembalinya Nabi ﷺ kepada istri-istrinya

Setelah masa ila' selesai, Nabi ﷺ kembali kepada istri-istrinya. Ini menunjukkan bahwa tujuan dari ila' bukanlah untuk memutuskan hubungan, tetapi untuk memberikan pelajaran dan perbaikan. Allah ﷻ berfirman dalam QS. At-Tahrim [66]: 5 bahwa jika Nabi menceraikan istri-istrinya, Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik, tetapi Nabi ﷺ memilih untuk kembali dan memperbaiki hubungan.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa setelah kejadian ini, Allah ﷻ menurunkan firman-Nya dalam QS. At-Tahrim [66]: 1-5 yang menegur Nabi ﷺ dengan lembut karena mengharamkan sesuatu yang halal. Namun teguran ini justru menunjukkan kedudukan mulia Nabi ﷺ di sisi Allah.

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya bahwa setelah Nabi ﷺ kembali kepada istri-istrinya, beliau bersabda kepada mereka: "Sesungguhnya aku tidak akan memasuki rumah kalian selama sebulan karena aku marah kepada kalian. Namun Allah telah menegurku dan memerintahkanku untuk kembali." Ini menunjukkan kelembutan Nabi ﷺ dan bagaimana beliau memperbaiki hubungan setelah masa pendidikan selesai.

Dari kisah ini, para ulama mengambil pelajaran bahwa dalam rumah tangga, sesekali memberikan pelajaran dengan cara yang tegas namun tetap dalam batas syariat adalah bagian dari pendidikan. Namun yang terpenting adalah tujuan akhirnya adalah perbaikan, bukan perpecahan.

Kesimpulan Praktis

  1. Bersabar dalam menghadapi perselisihan rumah tangga - Nabi ﷺ tidak terburu-buru mengambil keputusan, tetapi memberikan waktu untuk merenung.
  2. Memberikan pelajaran dengan cara yang baik - Ila' Nabi ﷺ adalah bentuk pendidikan, bukan hukuman yang menjatuhkan.
  3. Berani bertanya kepada yang lebih tahu - Seperti Umar yang bertanya langsung kepada Nabi ﷺ, kita pun harus berani bertanya kepada ulama dalam masalah agama.
  4. Memahami bahwa bulan dalam Islam bisa 29 hari - Ini penting dalam masalah puasa, ila', dan lainnya.
  5. Tujuan akhir dari setiap perselisihan adalah perbaikan - Nabi ﷺ kembali kepada istri-istrinya setelah masa ila' selesai.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.