Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 5093 tentang Keburukan terdapat pada wanita, rumah, dan kuda

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah salah satu hadits yang sering disalahpahami. Rasulullah ﷺ menyebutkan bahwa "kesialan" (syu'm) itu bisa ada pada tiga hal: wanita, rumah, dan kuda. Namun, para ulama menjelaskan bahwa ini bukanlah keyakinan bahwa benda-benda tersebut membawa sial secara mutlak. Ini adalah informasi tentang sesuatu yang sering dirasakan manusia secara fitrah, sekaligus peringatan agar kita tidak menjadikan hal-hal tersebut sebagai sumber kesialan yang diyakini. Yang terpenting, hadits ini tidak bertentangan dengan tauhid dan larangan tathayyur (menganggap sial), karena Rasulullah ﷺ sendiri telah menegaskan bahwa tathayyur (keyakinan sial) adalah syirik.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

Teks Arab hadits (sesuai yang Anda berikan):

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ، قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ حَمْزَةَ، وَسَالِمٍ، ابْنَىْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ ـ رضى الله عنهما ـ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ " الشُّؤْمُ فِي الْمَرْأَةِ وَالدَّارِ وَالْفَرَسِ ".

Makna Ringkas: Rasulullah ﷺ bersabda, "Kesialan itu ada pada wanita, rumah, dan kuda."

Hadits Pendukung (Riwayat Imam Muslim):

Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنْ كَانَ الشُّؤْمُ فِي شَيْءٍ فَفِي الدَّارِ وَالْمَرْأَةِ وَالْفَرَسِ

"Jika ada kesialan pada sesuatu, maka (yang paling sering) pada rumah, wanita, dan kuda." (HR. Muslim no. 2227)

Ayat Al-Qur'an Terkait (tentang larangan tathayyur):

QS. Al-A'raf [7]: 131

فَإِذَا جَاءَتْهُمُ الْحَسَنَةُ قَالُوا لَنَا هَٰذِهِ ۖ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَطَّيَّرُوا بِمُوسَىٰ وَمَنْ مَعَهُ ۗ أَلَا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

"Maka apabila datang kepada mereka kebaikan, mereka berkata: 'Ini adalah untuk kami.' Dan jika mereka ditimpa keburukan, mereka melemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang bersamanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui."

Kaitan dengan Ulama:

  • Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam "Kitab Pernikahan" dengan bab "Apa yang Dihindari dari Keburukan Wanita", yang menunjukkan bahwa ini adalah bimbingan praktis dalam memilih pasangan, bukan ajaran fatalisme.
  • Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan panjang lebar tentang makna hadits ini dan menggabungkan berbagai riwayat serta pendapat ulama.
  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim juga memberikan penjelasan penting tentang hadits ini.

Penjelasan Rinci

Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan hadits ini dengan sangat hati-hati agar tidak terjadi kesalahpahaman. Berikut poin-poin pentingnya:

1. Makna "Syu'm" (الشؤم) dalam Hadits Ini

Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan syu'm di sini bukanlah keyakinan bahwa benda-benda tersebut membawa sial secara hakiki. Akan tetapi, ini adalah pemberitahuan tentang realitas yang sering terjadi, bahwa ada wanita, rumah, atau kuda yang kehadirannya sering diiringi hal-hal yang tidak menyenangkan. Misalnya, seorang wanita yang akhlaknya buruk, lisannya tajam, atau tidak menjaga hak suami, sehingga kehidupan rumah tangga menjadi tidak tenang. Demikian pula rumah yang sempit, tetangganya buruk, atau lokasinya tidak nyaman, sehingga penghuninya merasa susah. Begitu juga kuda yang sulit dikendalikan atau sering membuat celaka penunggangnya.

2. Bukan Berarti Tathayyur (Meyakini Sial) yang Dilarang

Rasulullah ﷺ dengan tegas melarang tathayyur. Dalam hadits shahih, beliau bersabda:

الطِّيَرَةُ شِرْكٌ

"Tathayyur (menganggap sial) itu adalah syirik." (HR. Abu Dawud no. 3910, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

Maka, hadits tentang syu'm ini tidak boleh dipahami sebagai pembenaran untuk meyakini bahwa wanita, rumah, atau kuda membawa sial secara mistis. Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Miftah Dar as-Sa'adah menjelaskan bahwa hadits ini adalah kabar tentang realitas yang bisa dirasakan, bukan perintah untuk meyakini kesialan. Beliau menegaskan bahwa seorang mukmin tidak boleh menjadikan hal-hal tersebut sebagai sebab keyakinan sial, karena semua takdir baik dan buruk berasal dari Allah.

3. Penjelasan Imam An-Nawawi

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (bab tentang syu'm) menjelaskan bahwa hadits ini memiliki dua makna yang bisa diterima:

  • Pertama, bahwa ini adalah informasi tentang kebiasaan orang Arab yang menganggap sial pada tiga hal tersebut. Maka Nabi ﷺ membenarkan realitas ini sebagai bentuk bimbingan agar mereka berhati-hati dalam memilih, tetapi bukan untuk meyakini kesialan secara mutlak.
  • Kedua, bahwa maksudnya adalah jika ada sesuatu yang sering dikaitkan dengan kesialan, maka yang paling sering adalah tiga hal ini. Namun, semua itu tidak membawa pengaruh dengan sendirinya, melainkan atas takdir Allah.

4. Penjelasan Imam Ibn Hajar al-Asqalani

Dalam Fath al-Bari, Ibn Hajar menukil perkataan para ulama bahwa hadits ini adalah bentuk tahdzir (peringatan) dan irsyad (bimbingan). Beliau juga menjelaskan bahwa hadits ini tidak bertentangan dengan hadits yang melarang tathayyur, karena:

  • Larangan tathayyur adalah larangan meyakini bahwa sesuatu membawa sial secara hakiki.
  • Sedangkan hadits syu'm ini adalah kabar tentang realitas yang sering terjadi, dan manusia diperintahkan untuk berhati-hati, bukan untuk pesimis.

5. Bimbingan Praktis dalam Memilih Pasangan

Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam "Kitab Pernikahan" dengan bab "Apa yang Dihindari dari Keburukan Wanita". Ini menunjukkan bahwa hadits ini adalah bimbingan agar seorang laki-laki berhati-hati dalam memilih istri. Dalam hadits lain, Rasulullah ﷺ bersabda:

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا، وَلِحَسَبِهَا، وَلِجَمَالِهَا، وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

"Wanita dinikahi karena empat hal: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah yang memiliki agama, niscaya kamu beruntung." (HR. Al-Bukhari no. 5090 dan Muslim no. 1466)

Maka, seorang laki-laki dianjurkan memilih wanita yang baik agamanya dan akhlaknya, karena hal itu akan membawa kebaikan dalam rumah tangganya. Sebaliknya, wanita yang buruk akhlaknya bisa menjadi sumber masalah dalam rumah tangga.

6. Syaikh Al-Albani dan Ulama Kontemporer

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah menjelaskan bahwa hadits ini shahih dan memiliki banyak jalur periwayatan. Beliau juga menegaskan bahwa maknanya adalah pemberitahuan tentang realitas, bukan pembenaran terhadap keyakinan tathayyur. Syaikh Abdul Aziz bin Baz juga pernah ditanya tentang hadits ini, dan beliau menjelaskan bahwa maksudnya adalah bimbingan agar manusia berhati-hati, bukan untuk meyakini bahwa benda-benda tersebut membawa sial.

Story Telling

Ada kisah menarik yang diriwayatkan dari sahabat dan ulama salaf tentang bagaimana mereka memahami hadits ini dengan benar.

Diriwayatkan bahwa Imam Malik bin Anas ditanya tentang hadits syu'm ini. Beliau menjawab dengan bijak: "Sungguh, banyak rumah yang dihuni oleh orang-orang shalih, namun mereka tetap hidup tenang. Dan banyak pula wanita-wanita shalihah yang menjadi istri para nabi dan orang-orang shalih. Maka, yang dimaksud dengan syu'm di sini adalah jika seorang laki-laki menikahi wanita yang buruk akhlaknya, atau tinggal di rumah yang tidak nyaman, atau memiliki kuda yang sulit dikendalikan, maka hendaknya ia bersabar dan tidak menjadikan hal itu sebagai keyakinan sial."

Kisah lain datang dari Imam Ahmad bin Hanbal. Beliau pernah ditanya tentang seseorang yang rumahnya sering terjadi musibah. Imam Ahmad menjawab: "Janganlah ia meyakini bahwa rumah itu membawa sial. Akan tetapi, jika ia merasa tidak nyaman, maka ia boleh pindah ke rumah lain. Karena Nabi ﷺ sendiri pernah memerintahkan untuk pindah dari rumah yang tidak nyaman." Ini menunjukkan bahwa hadits ini adalah bimbingan praktis, bukan ajaran mistis.

Hikmah dari kisah-kisah ini adalah bahwa Islam mengajarkan kita untuk selalu bertawakkal kepada Allah, tidak pesimis, tetapi juga tetap berikhtiar dan berhati-hati dalam memilih. Kita tidak boleh meyakini bahwa benda atau orang membawa sial, karena semua takdir berasal dari Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Pahami hadits ini sebagai bimbingan, bukan fatalisme. Hadits ini mengajarkan kita untuk berhati-hati dalam memilih pasangan, tempat tinggal, dan kendaraan, tetapi tidak boleh meyakini bahwa benda-benda tersebut membawa sial secara hakiki.
  2. Jauhi tathayyur (meyakini sial). Tathayyur adalah syirik dan dilarang keras dalam Islam. Jika kita ditimpa musibah, maka itu adalah takdir Allah, bukan karena "sial" dari sesuatu.
  3. Dalam memilih istri, utamakan agama dan akhlak. Rasulullah ﷺ memerintahkan kita untuk memilih wanita yang baik agamanya, karena itu akan membawa keberkahan dalam rumah tangga.
  4. Jika merasa tidak nyaman dengan rumah atau kendaraan, boleh pindah atau menggantinya. Ini adalah ikhtiar yang dibolehkan, selama tidak disertai keyakinan bahwa benda tersebut membawa sial.
  5. Tetap bertawakkal kepada Allah dalam segala urusan. Setelah berikhtiar dan berhati-hati, serahkan hasilnya kepada Allah. Karena tidak ada yang bisa memberikan manfaat atau mudharat kecuali Allah semata.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.