Penjelasan Hadits Bukhari No. 5084 tentang Kisah tiga dusta Ibrahim dan pemberian Hajar kepada Sara

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan tentang Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang tidak pernah berdusta kecuali dalam tiga keadaan, yang salah satunya adalah ketika ia berkata tentang Sarah bahwa ia adalah saudaranya. Ini bukan dusta hakiki, tetapi termasuk mu’aridh (sindiran/kata-kata samar) yang dibolehkan dalam kondisi darurat, karena Sarah memang saudara seiman dalam agama. Kisah ini juga menjelaskan asal-usul Siti Hajar, ibu dari Nabi Ismail ‘alaihissalam, yang menjadi nenek moyang bangsa Arab.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

Teks hadits yang Anda sebutkan adalah riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Imam Al-Bukhari meriwayatkannya dalam Shahih-nya pada Kitab Pernikahan, Bab Mengambil Budak Perempuan (no. 5084).

Ayat Al-Qur'an yang Terkait:

Kisah ini juga disebutkan dalam Al-Qur'an, yaitu firman Allah Ta'ala:

وَقَالَ إِنِّي مُهَاجِرٌ إِلَىٰ رَبِّي ۖ إِنَّهُ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

"Dan dia (Ibrahim) berkata: 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.'" (QS. Ash-Shaffat [37]: 99)

Namun yang lebih terkait dengan kisah Sarah dan Hajar adalah firman Allah tentang doa Ibrahim:

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ

"Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah-Mu yang dihormati..." (QS. Ibrahim [14]: 37)

Ayat ini menunjukkan bahwa Hajar dan putranya (Ismail) ditempatkan di Mekah, dan dari keturunan Ismail inilah lahir Nabi Muhammad ﷺ.

Penjelasan Ulama:

  • Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa yang dimaksud "tiga dusta" dalam hadits ini bukanlah dusta hakiki, melainkan bentuk tawriyah (sindiran) yang dibolehkan. Beliau menukil penjelasan para ulama bahwa Ibrahim tidak pernah berdusta dalam arti sebenarnya.
  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim juga menjelaskan bahwa perkataan Ibrahim "ini saudaraku" adalah bentuk mu'aridh yang dibolehkan, karena Sarah adalah saudaranya dalam agama Islam.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:

1. Makna "Tiga Kedustaan" Ibrahim

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa tiga hal yang dimaksud adalah:

  1. Perkataan Ibrahim tentang Sarah: "Ini saudaraku" (ketika ditanya oleh raja yang zalim).
  2. Perkataan Ibrahim: "Sesungguhnya aku sakit" (QS. Ash-Shaffat [37]: 89) — padahal ia tidak sakit, maksudnya ia akan sakit.
  3. Perkataan Ibrahim tentang berhala: "Bahkan yang melakukan itu adalah berhala yang besar itu" (QS. Al-Anbiya' [21]: 63) — ini adalah sindiran untuk menegakkan hujjah.

Imam Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa semua ini adalah bentuk tawriyah (sindiran) yang dibolehkan, bukan dusta hakiki. Karena Ibrahim adalah seorang nabi yang ma'shum (terjaga) dari dosa besar maupun kecil.

2. Kisah Lengkap

Ketika Ibrahim dan Sarah tiba di negeri seorang raja yang zalim, raja bertanya tentang Sarah. Ibrahim menjawab bahwa Sarah adalah saudaranya, karena jika ia berkata "istrinya", raja akan membunuhnya dan merebut Sarah. Sarah memang saudara seiman Ibrahim, dan dalam agama, seluruh mukmin adalah bersaudara.

Ketika raja ingin mendekati Sarah, Sarah berdoa kepada Allah, dan tangan raja menjadi kaku. Hal ini terjadi tiga kali. Akhirnya raja menyerah dan memberikan Hajar kepada Sarah sebagai pelayan. Sarah berkata: "Allah menyelamatkanku dari tangan orang kafir dan memberiku Hajar untuk melayaniku."

3. Hajar sebagai Ibu Bangsa Arab

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: "Itu adalah ibumu, wahai Bani Ma'-As-Sama'." Maksudnya, Hajar adalah ibu dari Nabi Ismail, dan dari keturunan Ismail lahirlah bangsa Arab. Oleh karena itu, orang-orang Arab adalah keturunan Hajar.

4. Pelajaran tentang Darurat dan Sindiran

Para ulama menggunakan hadits ini untuk menjelaskan bahwa dalam kondisi darurat, seseorang boleh menggunakan kata-kata sindiran (tawriyah) untuk menyelamatkan diri dari kezaliman, selama tidak merugikan orang lain dan tidak melanggar syariat.

Imam As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kisah ini menunjukkan kesabaran dan ketawakalan para nabi dalam menghadapi kezaliman, serta pertolongan Allah kepada hamba-Nya yang beriman.

Story Telling

Dari kisah ini, kita belajar tentang kesabaran Sarah. Ketika ia diuji dengan raja yang zalim, ia tidak panik, tetapi berdoa kepada Allah. Allah menjawab doanya dengan menyelamatkannya dan memberinya Hajar sebagai hadiah. Dari Hajar inilah lahir Ismail, dan dari Ismail lahir Nabi Muhammad ﷺ. Subhanallah, betapa besar hikmah di balik ujian yang Allah berikan. Apa yang tampak sebagai ujian berat ternyata menjadi awal dari lahirnya umat terbaik.

Kesimpulan Praktis

  1. Jujur adalah sifat para nabi, namun dalam kondisi darurat, tawriyah (sindiran) dibolehkan untuk menyelamatkan jiwa.
  2. Doa adalah senjata orang beriman — Sarah diselamatkan melalui doanya.
  3. Allah selalu memberi jalan keluar bagi hamba-Nya yang bertawakal.
  4. Kisah ini menunjukkan kemuliaan Hajar sebagai ibu dari Nabi Ismail dan nenek moyang bangsa Arab.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?