Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 5060 tentang Bacalah Al-Qur'an selama hati bersatu, berhenti jika berselisih

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah nasihat agung dari Nabi ﷺ tentang adab membaca dan bermajelis dengan Al-Qur'an. Beliau mengajarkan agar kita membaca Al-Qur'an selama hati kita merasa nyaman, khusyuk, dan bersatu. Jika muncul perselisihan atau perbedaan pendapat yang keras di dalam majelis, maka lebih baik berhenti sejenak agar Al-Qur'an tidak dijadikan alat perdebatan. Ini adalah panduan untuk menjaga kesucian Al-Qur'an dan persatuan kaum muslimin.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

Teks Arab hadits (sesuai yang Anda cantumkan):

حَدَّثَنَا أَبُو النُّعْمَانِ، حَدَّثَنَا حَمَّادٌ، عَنْ أَبِي عِمْرَانَ الْجَوْنِيِّ، عَنْ جُنْدَبِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ " اقْرَءُوا الْقُرْآنَ مَا ائْتَلَفَتْ قُلُوبُكُمْ، فَإِذَا اخْتَلَفْتُمْ فَقُومُوا عَنْهُ "

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Keutamaan Al-Qur'an, Bab "Bacalah Al-Qur'an Selama Hati-hati Kalian Sepakat", no. 5060. Juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 2667) dari sahabat Jundab bin Abdillah Al-Bajali radhiyallahu 'anhu.

Ayat Al-Qur'an yang Relevan:

Allah Ta'ala berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai." (QS. Ali 'Imran [3]: 103)

Ayat ini menunjukkan perintah untuk bersatu dan larangan bercerai-berai, yang sejalan dengan makna hadits di atas.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:

1. Makna "I'tilaf" (Bersatunya Hati)

Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa makna "مَا ائْتَلَفَتْ قُلُوبُكُمْ" adalah selama hati kalian bersatu dan merasa lapang dalam membaca serta memahami Al-Qur'an. Ini menunjukkan bahwa membaca Al-Qur'an itu hendaknya dilakukan dengan hati yang hadir, tenang, dan saling bersepakat dalam kebenaran.

2. Larangan Menjadikan Al-Qur'an sebagai Bahan Perdebatan

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa hadits ini melarang umat Islam untuk memperdebatkan ayat-ayat Al-Qur'an yang mutasyabihat (samar maknanya) dengan cara yang tercela, karena hal itu bisa menimbulkan perpecahan. Yang dimaksud "berhenti" di sini bukanlah meninggalkan Al-Qur'an secara total, tetapi berhenti dari perdebatan yang tidak bermanfaat.

3. Adab Majelis Ilmu

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini mengajarkan adab dalam majelis ilmu: jika suasana mulai memanas dan terjadi perselisihan yang dikhawatirkan akan berujung pada perpecahan, maka lebih baik mengakhiri majelis tersebut dengan cara yang baik. Ini adalah bentuk hikmah dan menjaga kemaslahatan.

4. Hikmah di Balik Perintah Ini

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Bahjatu Qulub al-Abrar menjelaskan bahwa Al-Qur'an itu adalah cahaya petunjuk. Ketika hati bersatu, maka cahaya itu semakin terang. Namun ketika hati bercerai-berai, maka yang muncul adalah kegelapan perpecahan. Maka berhenti sejenak adalah cara untuk meredam api perselisihan.

5. Penerapan Para Salaf

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya secara mu'allaq (no. 5061) bahwa sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma berkata: "Apabila hati salah seorang dari kalian terasa sempit dalam membaca Al-Qur'an, maka berhentilah." Ini menunjukkan bahwa para sahabat memahami hadits ini sebagai panduan praktis dalam bermajelis Al-Qur'an.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa suatu ketika para sahabat berkumpul untuk membaca Al-Qur'an dan mempelajarinya. Suasana begitu khusyuk dan hati mereka bersatu dalam kecintaan kepada Kalamullah. Namun, ketika muncul perbedaan pemahaman tentang suatu ayat, mereka pun mengingat wasiat Nabi ﷺ ini, lalu mereka mengakhiri majelis dengan damai dan saling menghormati. Mereka tidak membiarkan perbedaan itu menjadi api yang membakar ukhuwwah. Ini adalah pelajaran berharga: Al-Qur'an adalah sumber persatuan, bukan alat perpecahan.

Kesimpulan Praktis

  1. Bacalah Al-Qur'an dengan hati yang hadir dan tenang, bukan sekadar gerakan lisan.
  2. Jadikan majelis Al-Qur'an sebagai majelis persatuan, bukan ajang debat yang memecah belah.
  3. Jika terjadi perselisihan dalam memahami ayat, maka lebih baik berhenti sejenak, menenangkan diri, dan merujuk kepada ulama yang berilmu.
  4. Jangan pernah menjadikan Al-Qur'an sebagai bahan perdebatan yang sia-sia, karena ia diturunkan sebagai petunjuk dan rahmat.
  5. Jaga ukhuwwah Islamiyyah, karena persatuan hati lebih utama daripada memenangkan argumen.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Hadits.id tetap gratis untuk semua

Yuk, bantu penjelasan AI tetap ada

Menjalankan AI membutuhkan biaya. Dukungan donatur sangat membantu agar penjelasan hadits terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi