Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini (Shahih Al-Bukhari no. 5059) memberikan empat perumpamaan: mukmin yang membaca dan mengamalkan Al-Qur'an seperti buah utrujjah (sitrun) — enak rasa dan harum baunya; mukmin yang tidak membaca tetapi mengamalkan seperti kurma — enak rasa tetapi tidak berbau; munafik yang membaca Al-Qur'an seperti raihanah — harum baunya tetapi pahit rasanya; dan munafik yang tidak membaca seperti hanzhalah — pahit dan busuk. Intinya: bacaan Al-Qur'an adalah keharuman, sedangkan amal dan keimanan adalah rasa; keduanya harus ada pada seorang mukmin.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Fadhail Al-Qur'an, dari jalur Qatadah bin Di'amah as-Sadusi (seorang tabi'in yang termasuk dalam daftar rujukan) dari Anas bin Malik dari Abu Musa Al-Asy'ari رضي الله عنه.
Ayat yang berkaitan dengan perumpamaan dalam Al-Qur'an:
وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ ۖ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ
"Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia, dan tidak ada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu." (QS. Al-'Ankabut [29]: 43)
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa perumpamaan ini menunjukkan keutamaan orang mukmin yang membaca Al-Qur'an, karena ia menggabungkan dua keutamaan: keharuman bacaan dan kemanisan amal. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa buah utrujjah dipilih karena ia memiliki keistimewaan: kulitnya harum, dagingnya lezat, dan bijinya sedikit — demikian pula mukmin yang membaca Al-Qur'an. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menegaskan bahwa amal tanpa ilmu dan ilmu tanpa amal tidak sempurna; keduanya harus berjalan bersama.
Penjelasan Rinci
Empat perumpamaan dalam hadits:
- Mukmin yang membaca Al-Qur'an dan mengamalkannya = Utrujjah (sitrun)
- Rasanya enak → amal dan keimanannya baik
- Baunya harum → bacaan Al-Qur'an-nya menjadi keharuman bagi sekitarnya
- Ini adalah derajat paling tinggi: menggabungkan ilmu (bacaan) dan amal.
- Mukmin yang tidak membaca Al-Qur'an tetapi mengamalkannya = Kurma
- Rasanya enak → amal dan keimanannya baik
- Tidak berbau → tidak ada keharuman bacaan Al-Qur'an
- Ibnu Hajar menjelaskan: ia tetap mulia karena amalnya, tetapi kehilangan keutamaan tambahan berupa bacaan.
- Munafik yang membaca Al-Qur'an = Raihanah (basil manis)
- Baunya harum → secara lahir tampak baik, bacaan indah
- Rasanya pahit → batinnya rusak, kemunafikan merusak hakikatnya
- Imam An-Nawawi berkata: ini menunjukkan bahwa bacaan Al-Qur'an tidak bermanfaat jika hati tidak beriman.
- Munafik yang tidak membaca Al-Qur'an = Hanzhalah (colocynth)
- Pahit dan busuk → tidak ada kebaikan lahir maupun batin
- Ini adalah keadaan paling buruk.
Pemahaman ulama daftar:
- Qatadah bin Di'amah (perawi hadits ini) dikenal sebagai tabi'in yang sangat memperhatikan makna Al-Qur'an. Beliau memahami bahwa perumpamaan ini mengajarkan bahwa iman dan amal adalah "rasa", sedangkan bacaan Al-Qur'an adalah "aroma" yang menyebar.
- Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam bab "Siapa yang memperlihatkan bacaan Al-Qur'an atau memperlihatkan diri dengan Al-Qur'an" — menunjukkan bahwa bacaan yang benar adalah yang disertai amal, bukan untuk pamer.
- Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa kemunafikan merusak semua kebaikan, bahkan bacaan Al-Qur'an yang indah sekalipun.
- Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menekankan bahwa amal adalah bukti keimanan; bacaan tanpa amal seperti pohon tanpa buah.
Perbedaan pendapat: Sebagian ulama daftar menekankan keutamaan membaca Al-Qur'an secara mutlak (seperti Imam Ahmad dan Ishaq bin Rahuyah), sementara yang lain menekankan bahwa bacaan harus disertai amal (seperti Al-Hasan al-Bashri dan Fudail bin 'Iyadh). Pendapat yang paling kuat: keduanya diperlukan — membaca dan mengamalkan — sebagaimana ditunjukkan oleh perumpamaan utrujjah sebagai derajat tertinggi.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Al-Hasan al-Bashri (seorang tabi'in yang termasuk daftar rujukan) pernah ditanya tentang orang yang membaca Al-Qur'an tetapi tidak mengamalkannya. Beliau menjawab dengan perumpamaan: "Orang itu seperti pohon yang berdaun lebat tetapi tidak berbuah; orang yang lewat hanya bisa berteduh, tetapi tidak mendapatkan makanan." Beliau juga berkata: "Al-Qur'an diturunkan untuk diamalkan, bukan hanya untuk dibaca." (Disebutkan secara makna dalam kitab-kitab zuhud dan nasihat salaf).
Fudail bin 'Iyadh (seorang ulama tabi'ut tabi'in dalam daftar) berkata: "Al-Qur'an adalah petunjuk; jika engkau membacanya tetapi tidak mengikutinya, engkau telah menyimpang dari petunjuk itu." Beliau menekankan bahwa bacaan yang benar akan mengubah hati dan amal.
Kesimpulan Praktis
- Bacalah Al-Qur'an — jangan tinggalkan, karena ia adalah keharuman bagi hati dan lingkungan.
- Amalkan isinya — bacaan tanpa amal seperti pohon tanpa buah.
- Jaga keikhlasan — jangan membaca untuk pamer; munafik yang membaca tetap pahit rasanya.
- Perbaiki hati — iman dan amal adalah "rasa" yang menentukan kualitas di sisi Allah.
- Teladani salaf — mereka membaca, memahami, dan mengamalkan; bukan hanya menghafal atau memperindah suara.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.