Penjelasan Hadits Bukhari No. 5046 tentang Bacaan Nabi dengan perpanjangan suara tertentu

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa bacaan Al-Qur’an Nabi ﷺ penuh dengan tartil dan mad (pemanjangan suara). Beliau memanjangkan bacaan basmalah bagian “Bismillah”, “Ar-Rahman”, dan “Ar-Rahim” sebagai contoh praktis. Ini menunjukkan sunnah membaca Al-Qur’an dengan perlahan, jelas, dan sesuai kaidah tajwid.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur’an:

QS. Al-Muzzammil [73]: 4

وَزِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا

“Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil (perlahan-lahan, jelas, dan benar).”

Hadits:

Hadits riwayat Imam al-Bukhari (no. 5046) dari Qatādah, dari Anas bin Mālik radhiyallāhu ‘anhu:

> “Su’ila Anasun: kayfa kānat qirā’atu an-nabiyyi ﷺ? Fa qāla: kānat maddan. Thumma qara’a ‘Bismillāhirrahmānirrahīm’, yamuddu bi ‘Bismillāh’, wa yamuddu bi ‘Ar-Rahmān’, wa yamuddu bi ‘Ar-Rahīm’.”

(Anas ditanya, “Bagaimana bacaan Nabi ﷺ?” Beliau menjawab, “Bacaannya adalah mad.” Kemudian Anas membaca “Bismillāhirrahmānirrahīm”, beliau memanjangkan “Bismillāh”, memanjangkan “Ar-Rahmān”, dan memanjangkan “Ar-Rahīm.”)

Kaitan dengan Ulama:

  • Al-Hāfizh Ibnu Hajar al-‘Asqalāni (dalam Fathul Bāri, kitab syarah Shahih Bukhari) menjelaskan bahwa mad di sini adalah pemanjangan suara dalam bacaan, bukan berarti cepat-cepat.
  • Imam an-Nawawi (dalam Syarah Shahih Muslim) menekankan bahwa tartil dan mad termasuk sunnah dalam membaca Al-Qur’an, sebagaimana diamalkan oleh Nabi ﷺ.
  • Syaikh ‘Abdurrahmān bin Nāshir as-Sa‘di dalam tafsirnya menafsirkan tartil sebagai membaca dengan tenang, memanjangkan huruf-huruf mad, dan memahami maknanya.

Penjelasan Rinci

Hadits ini diriwayatkan oleh Qatādah (seorang tabi‘in besar, ahli tafsir dan hadits) dari Anas bin Mālik, sahabat yang melayani Nabi ﷺ selama sepuluh tahun. Anas menyaksikan langsung bagaimana bacaan Nabi ﷺ. Kata maddan (مَدًّا) berarti bacaan yang dipanjangkan, tidak terburu-buru, dan jelas setiap hurufnya.

Makna Mad dalam Bacaan:

  • Dalam ilmu tajwid, mad adalah memanjangkan suara pada huruf-huruf tertentu (alif, wawu, ya’) ketika ada sebab seperti bertemu hamzah atau sukun.
  • Namun di sini, maknanya lebih umum: seluruh bacaan Nabi ﷺ bersifat perlahan dan penuh penghayatan, bukan cepat-cepat. Buktinya beliau memanjangkan “Bismillāh”, “Ar-Rahmān”, “Ar-Rahīm” – padahal secara tajwid, “Bismillāh” hanya memiliki mad thabi‘i (panjang 2 harakat), namun beliau lebih memanjangkannya sebagai bentuk tartil.

Pandangan Ulama dari Daftar:

  • Imam Ahmad bin Hanbal (dalam Masā’il beliau) menganjurkan membaca Al-Qur’an dengan tartil dan tahqīq (jelas), tidak boleh terlalu cepat hingga menggugurkan huruf.
  • Al-Hasan al-Bashri rahimahullāh berkata, “Bacalah Al-Qur’an dengan jelas, jangan seperti bacaan orang yang tergesa-gesa.” (diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah).
  • Ibnu Rajab al-Hanbali menjelaskan bahwa tartil adalah sunnah yang dicontohkan Nabi ﷺ, bahkan dalam membaca basmalah sekalipun beliau memanjangkannya.

Hikmah:

Bacaan yang tartil membantu merenungkan makna ayat, menghayati kebesaran Allah, dan menjauhkan dari lalai. Ini sejalan dengan perintah Allah dalam QS. Al-Muzzammil: 4.

Catatan: Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam daftar tentang sunnahnya tartil. Semua sepakat bahwa bacaan Nabi ﷺ adalah contoh terbaik.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Anas bin Mālik radhiyallāhu ‘anhu – yang sejak kecil mengabdi kepada Nabi ﷺ – sangat memperhatikan setiap detail ibadah beliau. Suatu hari ia ditanya tentang bacaan Al-Qur’an Nabi, dan ia langsung menjawab dengan praktik: beliau memanjangkan basmalah. Ini menunjukkan kecintaan Anas pada sunnah serta usahanya menjaga dan menyampaikan amalan Nabi ﷺ kepada generasi setelahnya.

Hikmah dari kisah ini:

  • Kita dianjurkan untuk mempelajari dan meniru bacaan Nabi ﷺ, bukan hanya dari segi hukum tajwid tetapi juga dari segi tempo dan kekhusyuan.
  • Pentingnya bertanya kepada ulama atau orang yang berilmu tentang ibadah, sebagaimana Qatādah bertanya kepada Anas.

(Sumber: riwayat Shahih al-Bukhari, kitab al-Qirā’ah, bab madd al-qirā’ah.)

Kesimpulan Praktis

  1. Baca Al-Qur’an dengan tartil – jangan terburu-buru, panjangkan huruf-huruf mad sesuai sunnah.
  2. Perhatikan bacaan basmalah – contoh langsung dari Nabi ﷺ adalah memanjangkan “Bismillāh”, “Ar-Rahmān”, “Ar-Rahīm”.
  3. Belajar tajwid agar bacaan sesuai dengan yang dicontohkan.
  4. Jadikan bacaan sebagai ibadah yang khusyuk – bukan sekadar target khatam dengan cepat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk membaca Al-Qur’an sebagaimana dibaca oleh Nabi-Nya ﷺ, dengan tartil, penuh makna, dan diiringi amal shalih. Ãmīn.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?