Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ membaca Al-Qur'an dengan tartil: beliau memanjangkan (mad) pada huruf-huruf yang memang tempatnya dipanjangkan, dengan panjang yang jelas dan terukur. Ini bukan sekadar "suara panjang", tetapi cara baca yang indah, tenang, dan sesuai kaidah. Para ulama memahami hadits ini sebagai anjuran memperindah dan memperjelas bacaan Al-Qur'an.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang menjadi landasan umum bacaan tartil:
وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا
(QS. Al-Muzzammil [73]: 4)
Terjemahan ringkas: "Dan bacalah Al-Qur'an itu dengan tartil (perlahan dan jelas)."
Hadits terkait:
- Hadits Anas bin Malik رضي الله عنه ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari, Kitab Keutamaan Al-Qur'an, Bab Memperpanjang Bacaan (no. 5045). Perawinya: Anas bin Malik, ditanya oleh Qatadah bin Di'amah.
- Makna "يَمُدُّ مَدًّا" dijelaskan oleh para ulama sebagai memanjangkan bacaan pada tempat-tempat mad, bukan memanjangkan tanpa aturan.
Kaitan ulama:
- Qatadah bin Di'amah (perawi hadits ini) adalah salah satu ulama tafsir Tabi'in yang juga meriwayatkan hadits.
- Imam Al-Bukhari memasukkan hadits ini dalam bab khusus tentang memanjangkan bacaan, menunjukkan pentingnya masalah ini.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa maksudnya adalah memanjangkan suara pada huruf mad sesuai kaidah, dan ini menjadi dalil anjuran tartil.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (pada hadits serupa) menyebutkan bahwa membaca dengan tartil dan memperindah suara adalah sunnah.
Penjelasan Rinci
Hadits ini sangat singkat tetapi padat makna. Qatadah bertanya langsung kepada Anas bin Malik, sahabat yang lama menyertai Nabi ﷺ dan mengenal cara beliau membaca. Jawaban Anas: "كَانَ يَمُدُّ مَدًّا" — beliau memanjangkan dengan panjang yang jelas.
Para ulama di daftar memahami ini sebagai berikut:
- Tartil dan mad yang terukur. Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa Nabi ﷺ memanjangkan bacaan pada huruf-huruf mad (seperti alif, wawu, ya') dengan panjang yang wajar, tidak berlebihan dan tidak terlalu pendek. Ini menunjukkan bacaan beliau jelas dan mudah dipahami.
- Bukan sekadar panjang tanpa aturan. Imam an-Nawawi menegaskan bahwa yang dimaksud adalah memanjangkan sesuai tempatnya, bukan memanjangkan semua huruf. Ini bagian dari memperindah bacaan (tahsin) yang dianjurkan.
- Kaitan dengan ayat tartil. Ibn Katsir dalam tafsirnya atas QS. Al-Muzzammil [73]: 4 menjelaskan bahwa tartil berarti membaca dengan tenang, jelas, dan memperhatikan huruf-hurufnya. Hadits Anas ini menjadi contoh praktis dari tartil Nabi ﷺ.
- Adab membaca. Ibn Rajab al-Hanbali dan ulama lain menekankan bahwa membaca Al-Qur'an hendaknya dengan khusyuk, tidak terburu-buru, karena tujuan membaca adalah memahami dan merenungi makna.
Tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama daftar bahwa hadits ini menunjukkan sunnahnya tartil dan memanjangkan bacaan pada tempat mad. Yang paling kuat adalah pemahaman bahwa Nabi ﷺ membaca dengan jelas dan terukur, sehingga pendengar dapat memahami dan merenungi.
Story Telling
Dikisahkan bahwa Qatadah bin Di'amah, seorang Tabi'in yang dikenal kuat hafalannya dan ahli tafsir, datang bertanya langsung kepada Anas bin Malik tentang bacaan Nabi ﷺ. Anas, yang pernah menjadi pelayan Nabi ﷺ selama sepuluh tahun, menjawab dengan singkat namun tepat: beliau memanjangkan bacaan dengan jelas. Jawaban ini menunjukkan betapa para sahabat memperhatikan detail ibadah Nabi ﷺ, termasuk cara beliau membaca Al-Qur'an. Dari jawaban singkat ini, para ulama kemudian menyusun kaidah-kaidah tajwid dan tartil. (Sumber: Shahih al-Bukhari dan penjelasan Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari.)
Kesimpulan Praktis
- Bacalah Al-Qur'an dengan tartil: perlahan, jelas, dan memanjangkan huruf mad sesuai tempatnya.
- Hindari membaca terlalu cepat sehingga huruf dan makna tidak jelas.
- Perindah bacaan dengan suara yang tenang, karena itu bagian dari sunnah Nabi ﷺ.
- Belajarlah tajwid dasar agar panjang-pendek bacaan sesuai kaidah.
- Renungkan makna ayat yang dibaca, karena tujuan tartil adalah memahami dan menghayati.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.