Penjelasan Hadits Bukhari No. 5042 tentang Nabi lupa ayat Al-Qur'an lalu diingatkan bacaan orang lain

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ pernah lupa sebagian ayat Al-Qur'an yang beliau hafal, lalu seorang sahabat membacanya di masjid dan hal itu mengingatkan beliau kembali. Ini menjadi dalil bahwa lupa terhadap hafalan Al-Qur'an adalah hal yang mungkin terjadi pada manusia, termasuk para nabi, dan bahwa saling mengingatkan dalam kebaikan adalah perkara yang terpuji. Hadits ini juga menjadi dasar bagi para ulama dalam membahas masalah an-nisyan (lupa) dalam Al-Qur'an dan adab mengingatkan hafalan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Keutamaan Al-Qur'an, nomor 5042, dari Ummul Mukminin 'Aisyah radhiyallahu 'anha. Sanadnya: Basyar bin Adam ← Ali bin Mushir ← Hisyam bin 'Urwah ← ayahnya ('Urwah bin az-Zubair) ← 'Aisyah radhiyallahu 'anha.

Adapun dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan tema ini, di antaranya firman Allah:

وَمَا نَتَنَزَّلُ إِلَّا بِأَمْرِ رَبِّكَ ۖ لَهُ مَا بَيْنَ أَيْدِينَا وَمَا خَلْفَنَا وَمَا بَيْنَ ذَٰلِكَ ۚ وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا

QS. Maryam [19]: 64

Terjemahan: "Dan tidaklah kami (Jibril) turun, kecuali dengan perintah Tuhanmu. Kepunyaan-Nya-lah apa-apa yang ada di hadapan kita, apa-apa yang ada di belakang kita, dan apa-apa yang ada di antara keduanya. Dan tidaklah Tuhanmu lupa."

Ayat ini menegaskan bahwa Allah tidak pernah lupa, sedangkan sifat lupa adalah sifat manusia. Ini menjadi konteks penting untuk memahami hadits di atas: lupa yang terjadi pada Nabi ﷺ bukanlah celaan, melainkan bagian dari sifat kemanusiaan yang Allah tetapkan, dan Allah menjaga Al-Qur'an dari hilang.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya mengatakan "aku lupa ayat ini" dalam konteks hafalan, dan bahwa hal itu tidak mengurangi kedudukan Nabi ﷺ. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim juga menegaskan bahwa lupa hafalan Al-Qur'an bukanlah dosa, tetapi yang tercela adalah melupakan makna dan pengamalannya.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:

Pertama: Lupa hafalan Al-Qur'an adalah perkara yang mungkin terjadi.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits ini menjadi dalil bahwa an-nisyan (lupa) terhadap sebagian hafalan Al-Qur'an bisa terjadi pada Nabi ﷺ. Namun beliau menegaskan bahwa lupa tersebut bersifat sementara dan tidak menetap, karena Allah menjaga wahyu-Nya. Allah berfirman:

سَنُقْرِئُكَ فَلَا تَنسَىٰ

QS. Al-A'la [87]: 6

Terjemahan: "Kami akan membacakan (Al-Qur'an) kepadamu (Muhammad), maka engkau tidak akan lupa."

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini adalah kabar gembira dari Allah bahwa Nabi ﷺ akan dijamin hafalannya, sehingga apa yang beliau lupakan hanyalah bersifat sementara dan Allah mengembalikannya melalui sebab-sebab tertentu, seperti dibacakannya ayat tersebut oleh sahabat lain.

Kedua: Adab saling mengingatkan dalam hafalan Al-Qur'an.

Imam an-Nawawi dalam Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan orang yang membaca Al-Qur'an dan keutamaan saling mengingatkan antar sesama muslim dalam kebaikan. Nabi ﷺ mendoakan rahmat bagi sahabat yang membacanya, yang menunjukkan bahwa perbuatan tersebut dicintai oleh beliau.

Ketiga: Bantahan terhadap anggapan bahwa Nabi ﷺ mengetahui semua hal gaib.

Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menegaskan bahwa Nabi ﷺ adalah manusia yang diberi wahyu, dan beliau tidak mengetahui segala sesuatu kecuali yang Allah beritahukan. Lupa sebagian hafalan adalah bukti kemanusiaan beliau, dan ini tidak mengurangi kedudukan beliau sebagai rasul.

Keempat: Perbedaan pendapat tentang hukum melupakan hafalan Al-Qur'an.

Sebagian ulama seperti Al-Hasan al-Bashri dan Ibn Sirin menyebutkan bahwa melupakan hafalan Al-Qur'an setelah menghafalnya adalah perkara yang dibenci, namun bukan dosa besar, selama bukan karena kelalaian yang disengaja. Adapun Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa yang tercela adalah melupakan pengamalan Al-Qur'an, bukan semata lupa hafalan.

Pendapat yang paling kuat — sebagaimana ditegaskan Ibnu Hajar dan an-Nawawi — adalah bahwa lupa hafalan Al-Qur'an tidak berdosa, tetapi hendaknya seorang muslim berusaha menjaga hafalannya dengan muraja'ah (mengulang) secara rutin, karena Nabi ﷺ bersabda dalam hadits lain yang diriwayatkan Al-Bukhari dari Abu Musa al-Asy'ari:

تَعَاهَدُوا الْقُرْآنَ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَهُوَ أَشَدُّ تَفَصِّيًا مِنَ الْإِبِلِ فِي عُقُلِهَا

Terjemahan: "Jagalah Al-Qur'an ini, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh ia lebih mudah lepas daripada unta yang terikat."

Story Telling

Dikisahkan bahwa 'Urwah bin az-Zubair, salah seorang tabi'in terkemuka dan perawi hadits ini, meriwayatkan dari bibinya 'Aisyah radhiyallahu 'anha. 'Urwah sendiri dikenal sebagai salah satu dari tujuh fuqaha Madinah dan sangat tekun dalam meriwayatkan hadits-hadits tentang keutamaan Al-Qur'an.

Suatu ketika, seorang sahabat membaca surat Al-Baqarah di masjid pada malam hari dengan suara yang indah. Nabi ﷺ yang sedang berada di rumah beliau mendengar bacaan tersebut, lalu teringat sebagian ayat yang belum beliau baca dalam shalat malam. Beliau bersabda dengan penuh kasih sayang, "Semoga Allah merahmatinya, ia telah mengingatkan aku tentang ayat-ayat yang telah aku lupakan dari surat ini dan itu."

Hikmah dari kisah ini: betapa indahnya ketika seorang muslim menjadi sebab kembalinya hafalan saudaranya, dan betapa besar keutamaan orang yang membaca Al-Qur'an di masjid pada malam hari. Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam bab khusus tentang keutamaan Al-Qur'an, menunjukkan betapa beliau memandang penting adab dan keutamaan dalam berinteraksi dengan kitab Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan malu atau merasa berdosa jika lupa hafalan Al-Qur'an — ini adalah sifat manusia, dan yang terpenting adalah berusaha mengulanginya.
  2. Rutinlah muraja'ah (mengulang hafalan) — sebagaimana nasihat Nabi ﷺ dalam hadits Abu Musa al-Asy'ari, hafalan Al-Qur'an mudah lepas jika tidak dijaga.
  3. Saling mengingatkan dalam kebaikan — jika kita mendengar saudara kita membaca ayat yang kita lupa, sampaikan terima kasih dan doakan kebaikan, sebagaimana Nabi ﷺ mendoakan sahabat tersebut.
  4. Jangan menganggap lupa hafalan sebagai aib — yang tercela adalah melupakan makna dan pengamalan Al-Qur'an, bukan semata lupa lafazhnya.
  5. Perbanyak membaca Al-Qur'an di masjid pada malam hari — karena hal itu menjadi sebab turunnya rahmat dan saling mengingatkan antar sesama muslim.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?