Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa Al-Qur'an diturunkan dengan tujuh huruf (sab'atu ahruf), yaitu tujuh cara bacaan yang semuanya benar dan berasal dari Allah. Karena itu, perbedaan bacaan di antara sahabat bukanlah kesalahan, melainkan keluasan dan kemudahan yang Allah berikan. Nabi ﷺ membenarkan kedua bacaan Umar dan Hisyam, lalu mengajarkan bahwa kita boleh membaca dengan bacaan yang mudah bagi kita.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-Muzzammil [73]: 20
وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا
"Dan bacalah Al-Qur'an itu dengan tartil (perlahan dan jelas)."
(QS. Al-Muzzammil [73]: 4)
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Keutamaan Al-Qur'an, Bab "Siapa yang Tidak Melihat Masalah untuk Mengatakan Surat Al-Baqarah dan Surat Ini dan Itu", nomor 5041. Jalur periwayatannya: Abu al-Yaman → Syu'aib → Az-Zuhri → Urwah → Al-Miswar bin Makhramah dan Abdurrahman bin Abd al-Qari → Umar bin al-Khattab.
Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Imam Muslim bin al-Hajjaj dalam Shahih Muslim dengan lafaz yang semakna, dan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya.
Kaitan dengan ulama:
- Imam Al-Bukhari memasukkan hadits ini dalam kitab shahihnya sebagai dalil bahwa perbedaan bacaan (qira'at) yang mutawatir semuanya bersumber dari Nabi ﷺ.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan panjang lebar makna "tujuh huruf" dan menyebutkan pendapat-pendapat ulama tentangnya.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa tujuh huruf adalah tujuh dialek/cara bacaan yang semuanya benar.
- Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya menyebutkan hadits ini ketika membahas turunnya Al-Qur'an.
- Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa tujuh huruf adalah rahmat dan kemudahan bagi umat.
Penjelasan Rinci
Makna umum hadits:
Hadits ini menceritakan peristiwa yang terjadi pada masa Nabi ﷺ. Umar bin al-Khattab mendengar Hisyam bin Hakim membaca Surat Al-Furqan dengan cara yang berbeda dari yang diajarkan Nabi ﷺ kepadanya. Umar hampir menegurnya dalam shalat, tetapi menahan diri hingga shalat selesai. Setelah itu, Umar menarik pakaian Hisyam dan menanyakan siapa yang mengajarkan bacaan tersebut. Hisyam menjawab bahwa Nabi ﷺ yang mengajarkannya. Umar pun membawa Hisyam menghadap Nabi ﷺ. Nabi ﷺ meminta Hisyam membaca, lalu membenarkan bacaannya dengan sabda "هَكَذَا أُنْزِلَتْ" (begitulah ia diturunkan). Kemudian Nabi ﷺ meminta Umar membaca, dan beliau juga membenarkan bacaannya dengan sabda yang sama. Akhirnya Nabi ﷺ bersabda:
"إِنَّ الْقُرْآنَ أُنْزِلَ عَلَى سَبْعَةِ أَحْرُفٍ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ"
"Sesungguhnya Al-Qur'an diturunkan dengan tujuh huruf, maka bacalah apa yang mudah bagimu dari itu."
Pemahaman ulama tentang "tujuh huruf":
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menyebutkan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang makna "tujuh huruf". Pendapat yang paling kuat — dan dipilih oleh banyak ulama — adalah bahwa itu adalah tujuh dialek/cara bacaan dari bahasa Arab yang semuanya benar, bukan tujuh kitab yang berbeda maknanya. Tujuannya adalah memberi kemudahan bagi umat yang berasal dari berbagai kabilah Arab dengan dialek yang berbeda-beda.
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa perbedaan bacaan yang dimaksud adalah perbedaan dalam hal lafaz huruf (seperti imalah, idgham, mad, dan sebagainya), bukan perbedaan makna yang bertentangan. Semua bacaan tersebut adalah wahyu dari Allah.
Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa tujuh huruf adalah bentuk rahmat dan kemudahan dari Allah bagi umat Nabi Muhammad ﷺ. Allah tidak membebani mereka dengan satu bacaan saja, tetapi memberi keluasan.
Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa Al-Qur'an diturunkan secara bertahap dengan berbagai cara bacaan yang semuanya sah.
Adab yang diajarkan hadits ini:
- Menahan diri saat shalat — Umar menahan diri untuk tidak menegur Hisyam saat shalat, menunjukkan adab dalam ibadah.
- Tabayyun (mencari kejelasan) — Umar tidak langsung menghukum, tetapi membawa masalah kepada Nabi ﷺ.
- Tidak tergesa-gesa menghukumi — Nabi ﷺ mendengarkan kedua bacaan sebelum memberi keputusan.
- Kemudahan dalam beribadah — Islam tidak mempersulit, tetapi memberi pilihan yang mudah.
Perbedaan pendapat di antara ulama:
Para ulama berbeda pendapat tentang makna "tujuh huruf". Sebagian mengatakan itu adalah tujuh bahasa Arab, sebagian mengatakan tujuh jenis bacaan, dan sebagian lagi mengatakan tujuh makna. Namun, pendapat yang paling kuat — sebagaimana dipilih oleh Ibnu Hajar al-Asqalani dan Imam an-Nawawi — adalah bahwa itu adalah tujuh cara bacaan (qira'at) yang semuanya benar dan mutawatir, yang memberi kemudahan bagi umat.
Story Telling
Kisah Umar dan Hisyam bin Hakim
Suatu hari, Umar bin al-Khattab — seorang sahabat yang terkenal tegas dan sangat menjaga kebenaran — sedang berada di dekat Nabi ﷺ. Ia mendengar Hisyam bin Hakim bin Hizam membaca Surat Al-Furqan. Namun, ada yang aneh: Hisyam membacanya dengan cara yang berbeda dari yang diajarkan Nabi ﷺ kepada Umar.
Umar terkejut. Dalam hatinya berkecamuk: "Bagaimana mungkin ada yang membaca Al-Qur'an berbeda dari yang diajarkan Rasulullah ﷺ?" Ia hampir saja menyerang Hisyam saat shalat, tetapi ia menahan diri karena adab dan kesabaran.
Setelah shalat selesai, Umar menarik pakaian Hisyam dan bertanya dengan tegas, "Siapa yang mengajarkan surat ini kepadamu?"
Hisyam menjawab dengan tenang, "Rasulullah ﷺ yang mengajarkannya kepadaku."
Umar tidak percaya. "Kamu berdusta! Demi Allah, Rasulullah ﷺ telah mengajarkan surat ini kepadaku dengan bacaan yang berbeda!"
Maka Umar membawa Hisyam menghadap Nabi ﷺ. Dengan penuh hormat, Umar melaporkan apa yang terjadi. Nabi ﷺ tidak marah. Beliau justru tersenyum dan meminta Hisyam membaca. Hisyam membaca dengan bacaan yang tadi didengar Umar. Nabi ﷺ bersabda, "Begitulah ia diturunkan."
Kemudian Nabi ﷺ meminta Umar membaca. Umar membaca dengan bacaan yang diajarkan kepadanya. Nabi ﷺ bersabda, "Begitulah ia diturunkan."
Lalu Nabi ﷺ bersabda dengan lembut, "Sesungguhnya Al-Qur'an diturunkan dengan tujuh huruf, maka bacalah apa yang mudah bagimu dari itu."
Hikmah:
Kisah ini mengajarkan kita bahwa perbedaan dalam hal yang dibolehkan bukanlah alasan untuk bermusuhan. Umar yang tegas pun akhirnya tunduk pada kebenaran setelah mendapat penjelasan dari Nabi ﷺ. Nabi ﷺ tidak menghukum Hisyam, tidak menyalahkan Umar, tetapi memberi penjelasan dengan penuh hikmah. Inilah adab dalam menyikapi perbedaan.
Kesimpulan Praktis
- Al-Qur'an diturunkan dengan tujuh huruf — ini adalah bentuk rahmat dan kemudahan dari Allah bagi umat Nabi Muhammad ﷺ.
- Perbedaan bacaan yang mutawatir adalah sah — selama berasal dari Nabi ﷺ dan diriwayatkan secara mutawatir, semuanya benar.
- Jangan tergesa-gesa menghukumi — seperti Umar yang menahan diri dan mencari kejelasan kepada Nabi ﷺ.
- Adab dalam menyikapi perbedaan — bertanya dengan baik, tidak menghakimi, dan merujuk kepada ahlinya.
- Bacalah Al-Qur'an dengan bacaan yang mudah bagimu — sebagaimana sabda Nabi ﷺ: "فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ" (maka bacalah apa yang mudah bagimu dari itu).
- Rujuklah kepada ulama yang terpercaya — dalam hal qira'at, para ulama telah menyusun ilmu qira'at yang mutawatir, seperti yang dijelaskan oleh Ibnu al-Jazari dan ulama qira'at lainnya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.