Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 5038 tentang Larangan melupakan Al-Qur'an dan anjuran mengingatkannya

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa lupa terhadap sebagian hafalan Al-Qur'an adalah perkara yang bisa terjadi pada siapa saja, bahkan kepada Nabi ﷺ sekalipun. Namun, ini bukanlah aib atau celaan, melainkan ujian yang bisa menjadi pemicu semangat untuk terus mengulang dan menjaga hafalan Al-Qur'an. Yang terpenting adalah bagaimana sikap kita ketika lupa: tidak berputus asa, tetap berusaha mengingat, dan bersyukur jika ada yang mengingatkan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

Teks hadits yang Anda berikan sudah lengkap dan shahih. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Keutamaan Al-Qur'an, Bab Lupa Al-Qur'an, no. 5038. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Shalatnya Musafir, no. 788, dari jalur yang sama.

Dalil Al-Qur'an yang Relevan:

Allah ﷻ berfirman:

> وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

QS. Al-Qamar [54]: 17 - "Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur'an untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?"

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah ﷻ memudahkan Al-Qur'an untuk dihafal, dipahami, dan diambil pelajaran. Namun, kemudahan ini juga menuntut kesungguhan dari hamba untuk terus menjaganya.

Kaitan dengan Ulama:

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya seseorang mengatakan "saya lupa ayat sekian" tanpa merasa berdosa, karena Nabi ﷺ sendiri mengatakannya. Namun, yang dilarang adalah jika seseorang lupa lalu meremehkan atau tidak berusaha mengingatnya kembali.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama:

1. Lupa adalah Tabiat Manusia

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa lupa adalah sesuatu yang wajar terjadi pada manusia, termasuk pada Nabi ﷺ. Ini bukanlah kekurangan, melainkan bukti bahwa Nabi ﷺ adalah manusia biasa yang tidak luput dari sifat lupa. Namun, lupa yang terjadi pada Nabi ﷺ dalam hal ini bukanlah lupa yang tercela, karena beliau tetap hafal dan hanya terlupa untuk sementara waktu.

2. Sikap Nabi ﷺ yang Tawadhu

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan bahwa sikap Nabi ﷺ yang mendoakan kebaikan bagi orang yang membacakan Al-Qur'an dan mengingatkannya menunjukkan betapa mulianya akhlak beliau. Beliau tidak merasa malu atau marah karena diingatkan, justru beliau bersyukur dan mendoakan kebaikan.

3. Keutamaan Membaca Al-Qur'an di Malam Hari

Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini juga menunjukkan keutamaan membaca Al-Qur'an di malam hari, karena doa Nabi ﷺ tersebut adalah bentuk penghargaan terhadap orang yang membaca Al-Qur'an di waktu yang utama tersebut.

4. Bolehnya Mengatakan "Saya Lupa"

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil bolehnya seseorang mengatakan "saya lupa ayat sekian" tanpa merasa berdosa, selama tidak disertai sikap meremehkan Al-Qur'an. Yang terlarang adalah jika seseorang lupa karena malas mengulang dan tidak peduli dengan hafalannya.

5. Pentingnya Saling Mengingatkan

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami'ul Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan pentingnya saling mengingatkan dalam kebaikan, khususnya dalam hal Al-Qur'an. Ketika ada saudara kita yang lupa, kita boleh mengingatkannya dengan cara yang baik, sebagaimana orang yang membaca Al-Qur'an tersebut telah mengingatkan Nabi ﷺ.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah sangat menjaga hafalannya terhadap Al-Qur'an. Beliau hafal Al-Qur'an sejak kecil dan terus mengulanginya setiap hari. Suatu ketika, beliau ditanya tentang jumlah ayat Al-Qur'an, beliau menjawab dengan tepat beserta rinciannya. Namun, yang lebih menakjubkan adalah kesungguhan beliau dalam menjaga hafalan tersebut. Beliau pernah berkata: "Aku bermimpi melihat Allah ﷻ dalam tidurku, lalu aku bertanya: 'Wahai Tuhanku, apa amal yang paling utama untuk mendekatkan diri kepada-Mu?' Allah menjawab: 'Wahai Ahmad, bacalah Al-Qur'an dengan pemahaman dan renungan.'"

Kisah ini menunjukkan bahwa para ulama salaf sangat menjaga Al-Qur'an, bukan hanya hafalannya tetapi juga pengamalannya. Mereka tidak pernah merasa cukup dengan hafalan yang ada, melainkan terus mengulang dan mentadabburinya.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan berputus asa jika lupa terhadap sebagian hafalan Al-Qur'an. Ini adalah ujian yang bisa terjadi pada siapa saja.
  2. Teruslah mengulang hafalan Al-Qur'an secara rutin, karena menjaga hafalan lebih berat daripada menghafalnya.
  3. Bersyukurlah jika ada yang mengingatkan kita, dan jangan merasa malu untuk diingatkan.
  4. Saling mengingatkan dalam kebaikan, khususnya dalam hal Al-Qur'an, dengan cara yang lembut dan penuh hikmah.
  5. Perbanyak membaca Al-Qur'an di malam hari, karena waktu tersebut adalah waktu yang utama dan doa Nabi ﷺ menunjukkan keutamaannya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.