Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah perumpamaan yang sangat indah dari Nabi ﷺ tentang pentingnya menjaga hafalan Al-Qur'an. Hafalan Al-Qur'an itu seperti unta yang terikat: jika pemiliknya selalu mengikatnya dengan rutin mengulang (muraja'ah), maka hafalannya akan tetap terjaga. Namun, jika ia lalai dan tidak mengulanginya, maka hafalan itu akan hilang, sebagaimana unta yang lepas akan lari. Hadits ini menekankan bahwa menjaga hafalan Al-Qur'an butuh kesungguhan dan kesinambungan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Keutamaan Al-Qur'an, Bab Mengingat Al-Qur'an dan Menjaganya, nomor 5031, dari sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma.
Teks hadits yang Anda sertakan sudah benar dan lengkap dengan harakat. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Shalat Musafir, Bab Perintah untuk Menjaga Hafalan Al-Qur'an, nomor 789.
Adapun ayat yang relevan dengan makna hadits ini adalah firman Allah Ta'ala tentang perintah untuk merenungkan dan menjaga Al-Qur'an, di antaranya:
QS. Al-Qamar [54]: 17
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ
"Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur'an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?"
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah memudahkan Al-Qur'an untuk dihafal dan dipelajari, namun kemudahan ini harus diiringi dengan kesungguhan dari hamba untuk menjaganya.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa makna "صَاحِبِ الْقُرْآنِ" (pemilik Al-Qur'an) dalam hadits ini adalah orang yang menghafal Al-Qur'an dan mengamalkannya. Beliau ﷺ mengumpamakan hafalan Al-Qur'an dengan unta yang terikat.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan bahwa perumpamaan ini menunjukkan bahwa Al-Qur'an itu "liar" secara makna, artinya ia akan hilang dan lepas dari hati jika tidak dirawat. Maka, pengikatnya adalah rutinitas membaca dan mengulang hafalan. Beliau juga menekankan bahwa hati manusia itu berbolak-balik, dan Al-Qur'an adalah sesuatu yang agung yang membutuhkan perhatian terus-menerus agar tetap melekat di dada.
Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini adalah anjuran kuat untuk senantiasa mengulang hafalan Al-Qur'an dan memperingatkan dari kelalaian yang menyebabkan hilangnya hafalan. Beliau menukil kesepakatan ulama tentang disunnahkannya menjaga hafalan Al-Qur'an dan memperbanyak membacanya agar tidak lupa.
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa kata "الْمُعَقَّلَةِ" (yang terikat) menunjukkan bahwa ikatan itu adalah sebab unta tetap berada di tempatnya. Demikian pula, ikatan bagi hafalan Al-Qur'an adalah pembacaan yang terus-menerus. Jika ikatan itu dilepas, unta akan lari; dan jika bacaan dihentikan, hafalan akan hilang. Beliau juga menyebutkan bahwa sebagian ulama salaf sangat membenci jika seseorang menghafal Al-Qur'an lalu sibuk dengan hal lain hingga melalaikan muraja'ah.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa menghafal Al-Qur'an itu mudah, tetapi menjaganya itu yang butuh perjuangan. Beliau mengibaratkan bahwa hati manusia itu seperti bejana; jika tidak diisi dengan Al-Qur'an secara rutin, maka akan terisi dengan hal-hal lain yang melalaikan, dan hafalan yang ada akan hilang sedikit demi sedikit.
Para ulama juga menyebutkan bahwa di antara cara menjaga hafalan adalah dengan:
- Membaca secara rutin setiap hari, minimal satu juz atau sesuai kemampuan.
- Mengulang hafalan lama lebih banyak daripada menambah hafalan baru.
- Shalat dengan bacaan hafalan tersebut.
- Mendengarkan bacaan para qari' untuk mengoreksi hafalan.
Story Telling
Dahulu, para ulama salaf sangat perhatian terhadap hafalan Al-Qur'an. Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, meskipun ilmunya sangat luas dan sibuk dengan berbagai urusan, beliau tetap menjaga wirid Al-Qur'an-nya. Beliau pernah ditanya tentang seseorang yang menghafal Al-Qur'an lalu sibuk dengan urusan dunia, apakah ia dicela? Beliau menjawab dengan isyarat bahwa menjaga hafalan itu adalah kewajiban bagi yang telah menghafalnya.
Bahkan, ada kisah tentang Al-A'masy (seorang ulama tabi'in yang ahli qira'at, meskipun tidak masuk dalam daftar rujukan utama, kisah ini menunjukkan semangat salaf) yang setiap pagi membaca Al-Qur'an dari awal hingga akhir sebagai bentuk muraja'ah hariannya. Ini menunjukkan betapa besar perhatian mereka terhadap Al-Qur'an.
Hikmah dari kisah-kisah ini adalah bahwa ilmu dan hafalan itu harus dirawat dengan kesungguhan. Sebagaimana petani yang merawat tanamannya setiap hari agar tumbuh subur, demikian pula seorang penghafal Al-Qur'an harus merawat hafalannya dengan bacaan rutin agar tidak layu dan hilang.
Kesimpulan Praktis
- Niatkan untuk menjaga hafalan Al-Qur'an sebagai bentuk ibadah dan pengamalan, bukan sekadar prestasi.
- Tetapkan jadwal muraja'ah harian, meskipun hanya beberapa halaman, karena konsistensi lebih utama daripada banyak namun tidak rutin.
- Gunakan hafalan dalam shalat, karena ini adalah cara terbaik untuk menguatkan hafalan.
- Jangan menunda muraja'ah, karena menunda adalah awal dari hilangnya hafalan.
- Perbanyak doa agar Allah menjaga Al-Qur'an di dada kita dan menjadikannya hujjah bagi kita, bukan hujjah atas kita.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.