Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan peristiwa turunnya Surat Al-Fath (kemenangan yang nyata) saat Rasulullah ﷺ dalam perjalanan. Surat ini turun setelah Perjanjian Hudaibiyah, dan beliau ﷺ menyebutnya lebih dicintai daripada dunia dan seisinya. Hadits ini juga menunjukkan adab bertanya kepada Nabi ﷺ, keutamaan surat Al-Fath, dan bagaimana Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu merasa khawatir jika ada ayat yang turun menegurnya, namun ternyata justru turun kabar gembira yang agung.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Keutamaan Al-Qur'an, Bab Keutamaan Surat Al-Fath, no. 5012. Juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Jihad, Bab Penaklukan Mekkah, no. 1784.
Ayat yang dibaca oleh Nabi ﷺ dalam hadits ini adalah firman Allah Ta'ala:
QS. Al-Fath [48]: 1
إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا
"Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata."
Para ulama menjelaskan bahwa "kemenangan yang nyata" ini adalah Perjanjian Hudaibiyah. Imam Ibn Katsir rahimahullah dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menukil perkataan para sahabat dan tabi'in bahwa penaklukan Hudaibiyah adalah kemenangan yang paling besar, karena dengan perjanjian tersebut umat Islam mendapatkan keamanan untuk berdakwah, dan banyak orang masuk Islam setelahnya.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama dari kalangan yang disebutkan:
1. Keutamaan Surat Al-Fath dan Makna "Kemenangan yang Nyata"
Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam bab keutamaan surat Al-Fath. Para ulama menjelaskan bahwa surat ini turun sebagai kabar gembira atas Perjanjian Hudaibiyah. Meskipun secara lahiriah kaum muslimin tidak berhasil memasuki Mekkah saat itu, namun Allah menyebutnya sebagai fathun mubin (kemenangan yang nyata).
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa kemenangan ini adalah pembuka bagi kemenangan-kemenangan berikutnya. Dengan perjanjian tersebut, kaum muslimin bisa berinteraksi dengan kaum musyrik secara damai, dan hal itu menjadi sebab masuknya banyak orang ke dalam Islam. Beliau menukil bahwa pada tahun Hudaibiyah, jumlah kaum muslimin yang masuk Islam lebih banyak daripada sebelumnya.
2. Adab Bertanya dan Sikap Umar bin Al-Khattab
Dalam hadits ini, Umar bin Al-Khattab bertanya tiga kali namun Nabi ﷺ tidak menjawab. Umar kemudian berkata, "Semoga ibumu kehilanganmu!" — ini adalah ungkapan orang Arab yang sering dipakai untuk menyemangati, bukan doa buruk yang hakiki. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa ungkapan ini adalah kebiasaan orang Arab yang tidak dimaksudkan sebagai doa yang sebenarnya.
Yang lebih penting, Umar merasa khawatir jika ada ayat Al-Qur'an yang turun menegurnya karena sikapnya yang kurang sabar. Ini menunjukkan ketakutan para sahabat terhadap kedudukan wahyu dan betapa mereka menjaga adab di hadapan Rasulullah ﷺ. Imam Ibn Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa sikap Umar ini menunjukkan kesempurnaan iman dan rasa takutnya kepada Allah.
3. Nabi ﷺ Lebih Mencintai Surat Ini daripada Dunia
Sabda Nabi ﷺ: "Sungguh telah diturunkan kepadaku pada malam ini sebuah surat yang lebih aku cintai daripada apa yang terbit di atasnya matahari." — Ini menunjukkan keutamaan yang sangat besar bagi surat Al-Fath. Imam Ibn Rajab Al-Hanbali dalam Jami' Al-'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa kecintaan Nabi ﷺ kepada surat ini karena kandungannya yang agung: kabar kemenangan, ampunan dosa, dan kesempurnaan nikmat Allah kepada beliau dan umatnya.
4. Hikmah Diamnya Nabi ﷺ
Para ulama menjelaskan bahwa diamnya Nabi ﷺ dari menjawab pertanyaan Umar bukan karena beliau marah, tetapi karena wahyu sedang turun kepadanya. Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam hadits lain bahwa Nabi ﷺ ketika menerima wahyu, beliau dalam keadaan yang berat. Maka diamnya beliau adalah karena sibuk menerima wahyu dari Allah. Ini menunjukkan bahwa jawaban yang paling tepat atas pertanyaan Umar adalah surat Al-Fath itu sendiri.
Story Telling
Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya, dari Al-Bara' bin 'Azib radhiyallahu 'anhu, bahwa mereka bersama Nabi ﷺ pada saat Perjanjian Hudaibiyah. Ketika surat Al-Fath turun, Nabi ﷺ bersabda: "Sungguh telah diturunkan kepadaku pada malam ini sebuah surat yang lebih aku cintai daripada dunia dan seisinya." (HR. Al-Bukhari no. 4832).
Al-Bara' berkata bahwa ketika itu mereka berjumlah sekitar 1400 orang. Mereka tidak berhasil memasuki Mekkah dan harus kembali ke Madinah. Banyak sahabat yang merasa sedih karena tidak bisa berumrah. Namun Allah menurunkan surat Al-Fath yang menjelaskan bahwa perjanjian ini adalah kemenangan yang nyata. Ternyata benar, setelah perjanjian ini, pintu dakwah terbuka lebar, dan banyak tokoh Quraisy seperti Khalid bin Walid dan Amr bin Al-Ash masuk Islam.
Hikmah dari kisah ini: Kadang yang kita anggap kekalahan atau kegagalan, justru di sisi Allah adalah kemenangan. Allah Maha Mengetahui apa yang tidak kita ketahui. Sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Baqarah [2]: 216: "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu."
Kesimpulan Praktis
- Yakinlah bahwa pertolongan Allah pasti datang, meskipun jalan yang ditempuh terasa sulit dan tidak sesuai harapan.
- Jaga adab kepada ulama dan pemimpin, sebagaimana Umar menjaga adabnya kepada Nabi ﷺ meskipun sempat berkata kasar karena khawatir.
- Rasa takut akan dosa adalah tanda keimanan — Umar takut jika ada ayat turun menegurnya, dan ini menunjukkan kesempurnaan imannya.
- Jangan tergesa-gesa menilai hasil — Perjanjian Hudaibiyah yang dianggap kekalahan oleh sebagian sahabat ternyata menjadi pembuka kemenangan besar.
- Perbanyak membaca dan merenungkan surat Al-Fath, karena surat ini mengandung kabar gembira, ketenangan hati, dan janji pertolongan Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.