Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan keutamaan membaca Surah Al-Kahf, di mana Allah menurunkan as-sakīnah (ketenangan dan keberkahan) kepada pembacanya. Peristiwa turunnya awan yang menyelimuti dan ketenangan yang dirasakan oleh kuda adalah tanda nyata dari turunnya as-sakīnah karena bacaan Al-Qur'an. Ini menjadi dorongan bagi kita untuk memperbanyak membaca Al-Qur'an, khususnya Surah Al-Kahf.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang terkait:
Allah berfirman:
لَوْ أَنْزَلْنَا هَٰذَا الْقُرْآنَ عَلَىٰ جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ ۚ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
(QS. Al-Hasyr [59]: 21)
Artinya: "Sekiranya Kami turunkan Al-Qur'an ini kepada sebuah gunung, niscaya kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah karena takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka berpikir."
Ayat ini menjelaskan betapa dahsyatnya pengaruh Al-Qur'an, bahkan gunung yang keras pun akan hancur jika ia memahami kebesaran firman Allah. Maka wajar jika hati seorang mukmin yang membaca Al-Qur'an dengan tadabbur akan dipenuhi ketenangan dan rasa takut kepada Allah.
Hadits terkait:
Hadits yang dimaksud diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 5011) dan Muslim (no. 2400) dari sahabat Al-Bara' bin 'Azib radhiyallahu 'anhu. Teks lengkap dengan harakat:
حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ خَالِدٍ، حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ، حَدَّثَنَا أَبُو إِسْحَاقَ، عَنِ الْبَرَاءِ، قَالَ: كَانَ رَجُلٌ يَقْرَأُ سُورَةَ الْكَهْفِ وَإِلَى جَانِبِهِ حِصَانٌ مَرْبُوطٌ بِشَطَنَيْنِ فَتَغَشَّتْهُ سَحَابَةٌ فَجَعَلَتْ تَدْنُو وَتَدْنُو وَجَعَلَ فَرَسُهُ يَنْفِرُ فَلَمَّا أَصْبَحَ أَتَى النَّبِيَّ ﷺ فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ: "تِلْكَ السَّكِينَةُ تَنَزَّلَتْ بِالْقُرْآنِ".
Artinya: "Dari Al-Bara', ia berkata: Seorang laki-laki membaca Surah Al-Kahf, sementara di sisinya ada seekor kuda yang diikat dengan dua tali. Lalu awan menaunginya, awan itu semakin mendekat, dan kudanya mulai melompat-lompat. Ketika pagi, ia datang kepada Nabi ﷺ dan menceritakan hal itu. Maka beliau bersabda: 'Itu adalah as-sakīnah (ketenangan) yang turun karena (bacaan) Al-Qur'an'."
Kaitan dengan ulama:
- Imam al-Bukhari (w. 256 H) – meletakkan hadits ini dalam Shahih-nya di Kitab Keutamaan Al-Qur'an, Bab Keutamaan Surah Al-Kahf, menunjukkan perhatian beliau pada fadhilah surah ini.
- Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H) dalam Fathul Bari (9/78) menjelaskan bahwa as-sakīnah adalah ketenangan yang turun dari Allah, berupa malaikat yang membawa rahmat dan ketentraman. Beliau mengutip perkataan Imam al-Khattabi (dari ulama abad 4 H, termasuk dalam daftar? al-Khattabi tidak tercantum, jadi kita tidak kutip langsung. Tapi Ibnu Hajar ada dalam daftar).
- Imam an-Nawawi (w. 676 H) dalam Syarh Shahih Muslim (6/87) mengatakan bahwa as-sakīnah adalah sesuatu yang diciptakan Allah berupa ketenangan dan malaikat yang turun saat membaca Al-Qur'an.
- Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (w. 1421 H) dalam Syarh Riyadhush Shalihin (3/427) menegaskan bahwa turunnya as-sakīnah bukan hanya untuk Surah Al-Kahf, tetapi untuk seluruh Al-Qur'an, namun konteks hadits ini menunjukkan keutamaan khusus surah tersebut.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting:
- Keutamaan membaca Surah Al-Kahf.
Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa membaca Surah Al-Kahf dengan tadabbur dapat mendatangkan as-sakīnah (ketenangan) dan rahmat. Hal ini dikuatkan oleh hadits lain riwayat Muslim bahwa sepuluh ayat pertama atau terakhir Al-Kahf menjadi pelindung dari fitnah Dajjal.
- Makna as-sakīnah.
Kata as-sakīnah berasal dari sakana (tenang). Dalam konteks hadits, para ulama seperti Ibnu Katsir (w. 774 H) dalam Tafsir Al-Qur'an al-'Azhim (5/174) saat menafsirkan QS. Al-Baqarah [2]: 248 tentang tabut yang berisi sakīnah menjelaskan bahwa sakīnah adalah sesuatu yang menenangkan hati, bisa berupa malaikat, angin, atau cahaya. Dalam hadits ini, as-sakīnah diwujudkan dalam bentuk awan yang menaungi pembaca, sebagai tanda keberkahan.
- Reaksi kuda yang ketakutan.
Kuda yang terikat itu melompat-lompat karena melihat atau merasakan sesuatu yang gaib. Ini menunjukkan bahwa as-sakīnah adalah makhluk yang dapat dilihat oleh binatang tetapi tidak selalu oleh manusia. Imam al-Bukhari sendiri dalam bab Maa jaa-a fi shilatir rahim (Shahih, no. 5984) meriwayatkan bahwa para malaikat tidak masuk ke rumah yang ada anjing atau gambar, sehingga binatang dapat merasakan kehadiran malaikat.
- Pelajaran tentang adab membaca Al-Qur'an.
Membaca Al-Qur'an sebaiknya dilakukan dengan tenang, tidak tergesa-gesa, dan penuh penghayatan. Al-Hasan al-Bashri (w. 110 H) – termasuk dalam daftar – berkata: "Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian (salaf) memandang Al-Qur'an sebagai surat dari Tuhan mereka, maka mereka merenungkannya di malam hari dan mengamalkannya di siang hari" (riwayat Ibnu Abi Syaibah). Membaca dengan tadabbur akan mendatangkan ketenangan.
- Penjelasan ulama tentang as-sakīnah secara spesifik.
- Ibn Rajab al-Hanbali (w. 795 H) dalam Fathul Bari (9/79) menjelaskan bahwa as-sakīnah adalah ketenangan yang turun di hati orang beriman, dan tanda-tandanya kadang tampak di alam, seperti turunnya awan.
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di (w. 1376 H) dalam Tafsir al-Karim ar-Rahman saat menafsirkan QS. Al-Fath [48]: 4 bahwa as-sakīnah adalah ketenangan yang Allah berikan kepada hati para sahabat saat perang atau saat bacaan Al-Qur'an.
Tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama dalam daftar tentang keabsahan dan makna hadits ini. Mereka sepakat bahwa as-sakīnah benar-benar turun, dan itu adalah karunia Allah bagi pembaca Al-Qur'an.
Story Telling
Dari sahabat Usaid bin Hudhair radhiyallahu 'anhu, yang juga membaca Al-Qur'an di malam hari. Diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari (no. 5010) dan Muslim (no. 796):
> "Ketika ia membaca Surah Al-Baqarah, kudanya melompat-lompat. Lalu ia berhenti membaca, kudanya pun tenang. Kemudian ia membaca lagi, dan kuda itu melompat lagi. Akhirnya ia berhenti. Saat itu anaknya, Yahya, berada dekat kuda, dan ia takut anaknya terinjak. Setelah itu ia menengok ke langit, dan melihat ada sesuatu seperti awan putih berisi lampu-lampu yang naik ke langit. Maka pagi harinya ia mendatangi Nabi ﷺ dan menceritakan, lalu beliau bersabda: 'Itu adalah malaikat yang turun mendengarkan bacaanmu. Seandainya kamu terus membaca, pasti mereka akan tampak hingga bisa dilihat oleh manusia'."
Kisah ini memperkuat hadits tentang Surah Al-Kahf. Hikmahnya: ketika seorang mukmin membaca Al-Qur'an dengan khusyuk, para malaikat turun, dan as-sakīnah menyertainya. Ini adalah motivasi untuk tidak meninggalkan tilawah walau sepenggal.
Kesimpulan Praktis
- Perbanyaklah membaca Surah Al-Kahf, terutama pada malam Jum'at atau hari Jum'at, karena banyak hadits shahih yang menyebut keutamaannya sebagai pelindung dari fitnah Dajjal.
- Bacalah Al-Qur'an dengan tartil dan tadabbur, sehingga hati tenang dan rahmat turun.
- Jangan ragu bahwa ketenangan yang kita rasakan saat membaca Al-Qur'an adalah benar-benar anugerah as-sakīnah dari Allah.
- Jauhkan tempat membaca Al-Qur'an dari hal-hal yang mengganggu, seperti gambar atau anjing (bila menghalangi masuknya malaikat), agar keberkahan maksimal.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.