Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa Surat Al-Fatihah adalah surat paling agung dalam Al-Qur'an. Surat ini disebut sebagai as-Sab'ul Matsani (tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang) dan Al-Qur'an al-'Azhim (Al-Qur'an yang agung). Hadits ini juga mengingatkan kita untuk mendahulukan panggilan Rasulullah ﷺ, meskipun sedang dalam shalat sunnah, karena ketaatan kepada beliau adalah bagian dari ketaatan kepada Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
Allah ﷻ berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ
"Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul-Nya ketika dia (Rasul) memanggil kamu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu." (QS. Al-Anfal [8]: 24)
Hadits:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 5006) dari sahabat Abu Sa'id bin al-Mu'alla radhiyallahu 'anhu.
Kaitan dengan Ulama:
Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim menjelaskan bahwa Surat Al-Fatihah disebut as-Sab'ul Matsani karena dibaca berulang-ulang dalam setiap rakaat shalat, dan ia adalah induk Al-Qur'an (Ummul Qur'an). Beliau juga menukil perkataan Mujahid bin Jabr rahimahullah bahwa yang dimaksud as-Sab'ul Matsani adalah Surat Al-Fatihah.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki dua pelajaran besar:
Pertama: Adab Menjawab Panggilan Rasulullah ﷺ
Ketika Nabi ﷺ memanggil Abu Sa'id yang sedang shalat sunnah, beliau tidak langsung menjawab karena sedang shalat. Setelah selesai, beliau menjelaskan alasannya. Namun, Nabi ﷺ menegur dengan lembut sambil membacakan firman Allah dalam QS. Al-Anfal ayat 24. Ini menunjukkan bahwa panggilan Rasulullah ﷺ harus didahulukan, bahkan di atas shalat sunnah. Para ulama seperti Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa perintah ini bersifat umum, namun untuk shalat fardhu, panggilan Rasulullah ﷺ tetap harus dijawab dengan cara yang tidak membatalkan shalat (misalnya dengan isyarat). Adapun shalat sunnah, lebih utama dihentikan untuk memenuhi panggilan beliau.
Kedua: Keutamaan Surat Al-Fatihah
Nabi ﷺ kemudian mengajarkan bahwa Surat Al-Fatihah adalah surat paling agung dalam Al-Qur'an. Beliau menyebutnya dengan dua nama:
- As-Sab'ul Matsani: Tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang. Ini karena Al-Fatihah dibaca dalam setiap rakaat shalat fardhu dan sunnah. Al-Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan bahwa makna matsani adalah ayat-ayat yang diulang-ulang karena berisi pujian, permohonan, dan pengagungan kepada Allah.
- Al-Qur'an al-'Azhim: Al-Qur'an yang agung. Ini menunjukkan bahwa seluruh makna Al-Qur'an terkandung dalam Surat Al-Fatihah. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menjelaskan bahwa Al-Fatihah mencakup tauhid (pengakuan terhadap rububiyah, uluhiyah, dan asma' wa sifat Allah), ibadah, dan permohonan petunjuk ke jalan yang lurus.
Imam Ibnu Qayyim al-Jawziyyah rahimahullah dalam Madarij as-Salikin menegaskan bahwa Surat Al-Fatihah adalah obat hati dan penyembuh dari penyakit syubhat dan syahwat. Beliau juga mengutip perkataan sebagian ulama salaf bahwa Al-Fatihah adalah kunci kesembuhan dari segala penyakit, baik fisik maupun spiritual.
Story Telling
Diriwayatkan dari sahabat Abu Sa'id bin al-Mu'alla radhiyallahu 'anhu, beliau berkata:
"Suatu hari aku sedang shalat di masjid, lalu Rasulullah ﷺ memanggilku. Aku tidak menjawab panggilan beliau hingga selesai shalat. Setelah itu aku mendatangi beliau dan berkata, 'Wahai Rasulullah, aku tadi sedang shalat.' Beliau bersabda, 'Tidakkah Allah berfirman: Penuhilah seruan Allah dan Rasul-Nya ketika dia memanggil kalian?' Kemudian beliau bersabda, 'Maukah aku ajarkan kepadamu surat yang paling utama dalam Al-Qur'an sebelum engkau keluar dari masjid?' Lalu beliau memegang tanganku. Ketika kami hendak keluar, aku berkata, 'Wahai Rasulullah, engkau tadi berkata akan mengajariku surat yang paling utama.' Maka beliau bersabda, '(Surat itu adalah) Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin, yaitu as-Sab'ul Matsani dan Al-Qur'an al-'Azhim yang diberikan kepadaku.'" (HR. Bukhari)
Hikmah:
Kisah ini mengajarkan kita bahwa Al-Fatihah bukan sekadar bacaan rutin dalam shalat, tetapi ia adalah surat yang memiliki kedudukan tertinggi. Oleh karena itu, kita harus membacanya dengan penuh penghayatan, tadabbur, dan keyakinan bahwa Allah akan mengabulkan setiap permohonan yang terkandung di dalamnya. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ dalam hadits qudsi: "Aku membagi shalat (Al-Fatihah) antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian..." (HR. Muslim).
Kesimpulan Praktis
- Dahulukan panggilan Rasulullah ﷺ dan ketaatan kepada Allah di atas urusan duniawi, bahkan di atas shalat sunnah.
- Yakini bahwa Surat Al-Fatihah adalah surat paling agung dalam Al-Qur'an. Bacalah dengan penuh tadabbur dan keyakinan.
- Amalkan Al-Fatihah sebagai obat hati dan tubuh. Bacalah dengan niat memohon kesembuhan dari penyakit lahir dan batin.
- Jadikan Al-Fatihah sebagai wirid harian yang dibaca dengan khusyuk, karena ia adalah as-Sab'ul Matsani yang diulang-ulang oleh Allah sebagai rahmat bagi umat ini.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.