Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ secara khusus menunjuk empat sahabat sebagai rujukan utama dalam mempelajari dan mengambil bacaan Al-Qur'an: Abdullah bin Mas'ud, Salim (mantan budak Abu Hudzaifah), Mu'adz bin Jabal, dan Ubay bin Ka'b. Penunjukan ini bukan berarti mengecilkan sahabat lain, tetapi menegaskan bahwa keempatnya memiliki keunggulan dalam bacaan, hafalan, dan pemahaman Al-Qur'an. Dari sini kita belajar adab: Al-Qur'an diambil dari ahlinya yang terpercaya, dan mencintai ahli Qur'an adalah tanda kecintaan kepada sunnah Nabi ﷺ.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Keutamaan Al-Qur'an, Bab Para Pembaca dari Sahabat Nabi ﷺ (no. 4999), dari jalur Masruq dari Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallahu 'anhuma.
Teks hadits:
<p>خُذُوا الْقُرْآنَ مِنْ أَرْبَعَةٍ مِنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ وَسَالِمٍ وَمُعَاذٍ وَأُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ</p>
Terjemahan: "Ambillah (pelajari) Al-Qur'an dari empat orang: dari Abdullah bin Mas'ud, Salim, Mu'adz, dan Ubay bin Ka'b."
Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan keutamaan mempelajari Al-Qur'an dari ahlinya dan kedudukan orang berilmu:
<p>يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ</p>
QS. Al-Mujadilah [58]: 11 — "Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat."
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini merupakan dalil tentang keutamaan keempat sahabat tersebut dalam bidang Al-Qur'an, dan bahwa perintah "ambil" di sini bermakna ambillah bacaan, hafalan, dan cara membacanya dari mereka. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (ketika membahas hadits serupa) menyebutkan bahwa penunjukan ini karena mereka paling tekun, paling kuat hafalan, dan paling banyak membacanya di hadapan Nabi ﷺ.
Penjelasan Rinci
Hadits ini muncul dari konteks kecintaan Abdullah bin Amr bin al-Ash kepada Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu. Ibnu Hajar menyebutkan dalam Fathul Bari bahwa Abdullah bin Amr mendengar langsung dari Nabi ﷺ penyebutan nama Ibnu Mas'ud dalam empat orang pilihan, sehingga ia pun mencintainya karena kedudukannya sebagai ahli Qur'an.
Siapa keempat sahabat ini?
- Abdullah bin Mas'ud — sahabat yang paling awal masuk Islam di antara para pemuka, dan Nabi ﷺ pernah bersabda bahwa ia ridha jika Ibnu Mas'ud menjadi pemimpin. Ia dikenal sebagai ahli bacaan yang langsung mengambil dari lisan Nabi ﷺ lebih dari tujuh puluh surah.
- Salim maula Abu Hudzaifah — seorang mantan budak yang dimerdekakan, namun Nabi ﷺ memuji bacaannya. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa Nabi ﷺ pernah berkata tentangnya: "Salim adalah orang yang paling tahu tentang Kitabullah di antara kalian." Ini menunjukkan keutamaan ilmu tidak tergantung pada nasab, tetapi pada ketakwaan dan penguasaan Al-Qur'an.
- Mu'adz bin Jabal — sahabat yang Nabi ﷺ puji sebagai orang yang paling tahu halal dan haram, dan diutus ke Yaman sebagai pengajar.
- Ubay bin Ka'b — sahabat Anshar, juru tulis wahyu, dan salah satu yang mengumpulkan Al-Qur'an di masa Nabi ﷺ. Ibnu Katsir dalam Fadha'il Al-Qur'an menyebutkan keutamaannya sebagai imam dalam bacaan.
Makna "khudzu" (ambil): Ibnu Hajar menjelaskan bahwa perintah ini bermakna ambillah bacaan Al-Qur'an, cara membacanya, dan riwayatnya dari mereka. Ini menjadi dasar pentingnya sanad dalam periwayatan Al-Qur'an — sebagaimana ditegaskan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Abdullah bin al-Mubarak, dan Yahya bin Ma'in tentang pentingnya sanad dalam ilmu.
Apakah ini berarti sahabat lain tidak boleh diambil ilmunya? Tidak. Ibnu Hajar menegaskan bahwa penyebutan empat ini bukan pembatasan mutlak, tetapi penekanan pada keutamaan mereka, karena mereka adalah yang paling menonjol dalam bacaan dan pengajaran Al-Qur'an. Sahabat lain seperti Zaid bin Tsabit, Abu Darda, dan Utsman bin Affan juga termasuk ahli Qur'an, namun keempat nama ini disebut secara khusus karena keunggulan mereka dalam hal bacaan dan pengambilan langsung dari Nabi ﷺ.
Pelajaran tentang adab mengambil ilmu: Imam an-Nawawi dalam Al-Minhaj menekankan bahwa hadits ini mengajarkan agar seseorang mengambil Al-Qur'an dari orang yang terpercaya, bukan dari sembarang orang. Ini sejalan dengan kaidah yang disebutkan Abdullah bin al-Mubarak: "Ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian."
Story Telling
Disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim bahwa Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallahu 'anhuma ketika menyebut Abdullah bin Mas'ud, ia berkata dengan penuh kecintaan: "Aku akan selalu mencintainya." Ketika ditanya mengapa, ia menjawab bahwa ia mendengar Nabi ﷺ menyebut Ibnu Mas'ud dalam empat orang yang menjadi rujukan Al-Qur'an.
Dalam riwayat lain, Ibnu Mas'ud sendiri pernah berkata: "Aku telah mengambil langsung dari lisan Rasulullah ﷺ lebih dari tujuh puluh surah." Ini menunjukkan bahwa kecintaan Abdullah bin Amr bukanlah kecintaan tanpa dasar, melainkan karena kedudukan Ibnu Mas'ud sebagai orang yang mengambil Al-Qur'an langsung dari sumbernya.
Hikmahnya: mencintai ahli Qur'an karena keilmuannya adalah bagian dari mencintai sunnah Nabi ﷺ. Imam Fudail bin 'Iyadh pernah berkata tentang pentingnya mencintai ahli ilmu dan ahli Qur'an sebagai bentuk penghormatan kepada wahyu Allah.
Kesimpulan Praktis
- Ambil Al-Qur'an dari ahlinya — belajarlah membaca Al-Qur'an dari guru yang terpercaya sanad dan bacaannya, bukan hanya dari buku atau aplikasi tanpa bimbingan.
- Cintai ahli Qur'an — mencintai orang yang menguasai dan mengamalkan Al-Qur'an adalah tanda kecintaan kepada Nabi ﷺ dan sunnahnya.
- Ilmu tidak tergantung nasab — Salim adalah mantan budak, namun Nabi ﷺ menyebutnya sebagai rujukan Al-Qur'an. Ini mengajarkan bahwa kemuliaan di sisi Allah adalah dengan ilmu dan takwa.
- Hormati sanad dan periwayatan — para ulama seperti Imam Ahmad, Yahya bin Ma'in, dan Abdullah bin al-Mubarak menekankan pentingnya sanad dalam menjaga keaslian Al-Qur'an dan hadits.
- Jangan ghuluw (berlebihan) — penunjukan empat sahabat ini bukan berarti mengecilkan sahabat lain, tetapi menegaskan keutamaan mereka. Sikap Ahlus Sunnah adalah mencintai seluruh sahabat Nabi ﷺ.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.