Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan keutamaan dan kedudukan istimewa lima surat Al-Qur'an: Bani Isra'il (Al-Isra), Al-Kahfi, Maryam, Thaha, dan Al-Anbiya'. Pernyataan Ibnu Mas'ud bahwa surat-surat ini adalah "harta pertamaku dan harta lamaku" (مِنَ الْعِتَاقِ الأُوَلِ وَهُنَّ مِنْ تِلاَدِي) menunjukkan bahwa beliau termasuk sahabat yang paling awal dan paling banyak menghafal serta memahami Al-Qur'an, khususnya surat-surat yang turun di masa-masa awal dakwah Islam di Makkah. Ini adalah pujian terhadap kedalaman ilmu dan hafalan beliau, serta keutamaan surat-surat tersebut.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:
حَدَّثَنَا آدَمُ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ يَزِيدَ، سَمِعْتُ ابْنَ مَسْعُودٍ، يَقُولُ فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ وَالْكَهْفِ وَمَرْيَمَ وَطَهَ وَالأَنْبِيَاءِ إِنَّهُنَّ مِنَ الْعِتَاقِ الأُوَلِ وَهُنَّ مِنْ تِلاَدِي
Dari Abdullah bin Mas'ud: "Surat Bani Isra'il, Al-Kahfi, Maryam, Thaha, dan Al-Anbiya' adalah termasuk harta pertamaku dan harta lamaku." (HR. Al-Bukhari, no. 4994)
Penjelasan Ulama tentang Makna "Al-'Itaq" dan "Tiladi":
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitabnya Fathul Bari menjelaskan bahwa kata الْعِتَاقِ (al-'itaq) adalah bentuk jamak dari عَتِيق ('atiq) yang berarti sesuatu yang mulia, tua, dan telah lama ada. Sedangkan تِلَادِي (tiladi) berasal dari kata تِلَاد yang berarti harta yang telah dimiliki sejak lama dan diwariskan turun-temurun, lawan dari harta yang baru diperoleh (tharif). Maksud Ibnu Mas'ud adalah bahwa surat-surat ini termasuk bagian Al-Qur'an yang beliau hafal dan pelajari sejak awal masa kenabian, sebelum banyak orang masuk Islam. Ini menunjukkan bahwa beliau termasuk sahabat yang paling dahulu dan paling tekun dalam menghafal wahyu.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa pernyataan Ibnu Mas'ud ini memiliki beberapa makna penting:
- Kedudukan Ibnu Mas'ud yang Tinggi: Pernyataan ini menunjukkan bahwa Abdullah bin Mas'ud adalah salah satu sahabat yang paling awal memeluk Islam dan paling dekat dengan Rasulullah ﷺ. Beliau termasuk as-sabiqun al-awwalun (orang-orang yang pertama kali masuk Islam). Karena itu, beliau memiliki kesempatan lebih banyak untuk mendengar dan menghafal Al-Qur'an langsung dari Nabi ﷺ, terutama surat-surat yang turun di periode Makkah.
- Keutamaan Surat-Surat Tersebut: Surat Al-Isra, Al-Kahfi, Maryam, Thaha, dan Al-Anbiya' adalah surat-surat Makkiyah yang turun di masa-masa awal dakwah. Surat-surat ini mengandung kisah-kisah para nabi, perjuangan mereka, dan pelajaran tentang keesaan Allah, yang menjadi fondasi kuat bagi kaum muslimin yang baru beriman. Menghafal dan merenungkannya adalah bagian dari "harta" berharga yang dimiliki seorang mukmin.
- Pelajaran tentang Menghargai Al-Qur'an: Pernyataan ini juga mengajarkan kita untuk menghargai dan mencintai Al-Qur'an. Sebagaimana Ibnu Mas'ud membanggakan hafalannya sebagai "harta," kita pun seharusnya menjadikan Al-Qur'an sebagai harta paling berharga dalam hidup kita, dengan membacanya, menghafalnya, dan mengamalkannya.
Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim juga menukil riwayat ini untuk menunjukkan keutamaan surat-surat tersebut dan kedalaman pemahaman sahabat terhadap wahyu. Beliau menegaskan bahwa para sahabat sangat perhatian terhadap Al-Qur'an dan berlomba-lomba dalam menghafalnya.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Mas'ud adalah salah satu dari enam sahabat yang paling banyak menghafal Al-Qur'an di kalangan sahabat. Beliau berkata, "Aku telah mengambil (menghafal) langsung dari mulut Rasulullah ﷺ tujuh puluh lebih surat, dan tidak ada seorang pun yang menyaingiku dalam hal itu." (HR. Al-Bukhari).
Suatu ketika, Rasulullah ﷺ bersabda, "Bacalah Al-Qur'an oleh kalian, karena sesungguhnya ia akan datang memberi syafaat pada hari kiamat bagi para pembacanya." (HR. Muslim). Ini menunjukkan betapa besar keutamaan membaca dan menghafal Al-Qur'an. Ibnu Mas'ud adalah contoh nyata seorang sahabat yang menjadikan Al-Qur'an sebagai "harta" yang paling berharga, yang ia pelihara dan ia ajarkan kepada generasi setelahnya.
Kesimpulan Praktis
- Meneladani Semangat Menghafal: Kita harus meneladani semangat Ibnu Mas'ud dalam menghafal dan mencintai Al-Qur'an. Jadikanlah Al-Qur'an sebagai prioritas utama dalam kehidupan kita.
- Merenungkan Makna: Jangan hanya membaca, tetapi juga renungkan dan pahami makna ayat-ayat Al-Qur'an, terutama surat-surat yang penuh dengan kisah dan pelajaran seperti yang disebutkan dalam hadits.
- Mengamalkan Isi Kandungan: Al-Qur'an adalah petunjuk hidup. Amalkanlah apa yang terkandung di dalamnya dalam kehidupan sehari-hari.
- Mengajarkan kepada Orang Lain: Sebagaimana Ibnu Mas'ud mengajarkan Al-Qur'an kepada murid-muridnya, kita pun hendaknya berusaha menyampaikan ilmu Al-Qur'an kepada keluarga dan orang-orang di sekitar kita.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.