Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 4989 tentang Pengumpulan Al-Qur'an pada masa Abu Bakar

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan proses pengumpulan Al-Qur'an pada masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu. Zaid bin Tsabit radhiyallahu 'anhu ditugaskan untuk mengumpulkan Al-Qur'an dari berbagai sumber, dan beliau menemukan dua ayat terakhir Surat At-Taubah hanya pada Abu Khuzaimah Al-Anshari. Hadits ini menunjukkan kehati-hatian luar biasa para sahabat dalam menjaga kemurnian Al-Qur'an, serta keutamaan Abu Khuzaimah yang menjadi saksi penyempurna penulisan wahyu.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

Teks Arab hadits (sebagaimana yang Anda cantumkan):

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ، حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، عَنْ يُونُسَ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، أَنَّ ابْنَ السَّبَّاقِ، قَالَ إِنَّ زَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ قَالَ أَرْسَلَ إِلَىَّ أَبُو بَكْرٍ ـ رضى الله عنه ـ قَالَ إِنَّكَ كُنْتَ تَكْتُبُ الْوَحْىَ لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَاتَّبِعِ الْقُرْآنَ. فَتَتَبَّعْتُ حَتَّى وَجَدْتُ آخِرَ سُورَةِ التَّوْبَةِ آيَتَيْنِ مَعَ أَبِي خُزَيْمَةَ الأَنْصَارِيِّ لَمْ أَجِدْهُمَا مَعَ أَحَدٍ غَيْرَهُ {لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ} إِلَى آخِرِهِ.

Ayat yang dimaksud dalam hadits:

QS. At-Taubah [9]: 128-129

Ayat 128:

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

"Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kalanganmu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, dan terhadap orang-orang mukmin dia sangat penyayang dan pengasih."

Ayat 129:

فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

"Maka jika mereka berpaling, maka katakanlah: 'Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Ilah selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Tuhan pemilik 'Arsy yang agung.'"

Penjelasan Ulama:

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini adalah bagian dari rangkaian panjang proses pengumpulan Al-Qur'an yang diprakarsai oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq setelah Perang Yamamah. Beliau menyebutkan bahwa Zaid bin Tsabit adalah penulis wahyu di masa Nabi ﷺ, sehingga beliau adalah orang yang paling tepat untuk tugas ini.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting:

1. Kehati-hatian dalam menjaga Al-Qur'an

Zaid bin Tsabit radhiyallahu 'anhu tidak serta-merta menulis semua yang dihafalnya. Beliau mencari bukti tertulis dari para sahabat yang menulis wahyu di hadapan Nabi ﷺ. Ini menunjukkan bahwa pengumpulan Al-Qur'an dilakukan dengan metode yang sangat ketat: harus ada bukti tulisan yang disaksikan langsung oleh Nabi ﷺ, bukan sekadar hafalan.

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam hadits yang sama (dalam riwayat lain yang lebih panjang) bahwa Abu Bakar berkata kepada Zaid: "Sesungguhnya engkau adalah seorang pemuda yang cerdas, dan kami tidak meragukanmu. Engkau dahulu menulis wahyu untuk Rasulullah ﷺ, maka carilah (kumpulkan) Al-Qur'an."

2. Keutamaan Abu Khuzaimah Al-Anshari

Dua ayat terakhir Surat At-Taubah hanya ditemukan pada Abu Khuzaimah Al-Anshari. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Nabi ﷺ pernah menjadikan kesaksian Abu Khuzaimah setara dengan dua orang saksi (dalam kasus pembelian kuda). Karena itulah, sebagian ulama menyebutnya Dzisy Syahadatain (pemilik dua kesaksian).

Imam Ibnu Hajar menjelaskan bahwa keberadaan dua ayat ini hanya pada Abu Khuzaimah tidak berarti sahabat lain tidak menghafalnya. Banyak sahabat yang menghafal Al-Qur'an, tetapi yang memiliki catatan tertulis yang disaksikan Nabi ﷺ secara khusus untuk dua ayat ini hanyalah Abu Khuzaimah.

3. Pelajaran tentang kejujuran dan amanah

Zaid bin Tsabit tidak merasa malu untuk mengakui bahwa beliau tidak menemukan dua ayat tersebut kecuali pada Abu Khuzaimah. Ini menunjukkan kejujuran ilmiah. Beliau tidak mengklaim bahwa beliau sendiri memiliki catatan tersebut, meskipun beliau adalah penulis wahyu.

4. Hikmah di balik pengumpulan Al-Qur'an

Peristiwa ini terjadi setelah Perang Yamamah yang menewaskan banyak penghafal Al-Qur'an. Umar bin Khattab mengusulkan kepada Abu Bakar untuk mengumpulkan Al-Qur'an dalam satu mushaf karena khawatir Al-Qur'an akan hilang bersama gugurnya para penghafal. Awalnya Abu Bakar ragu karena ini adalah perkara yang tidak pernah dilakukan Nabi ﷺ, tetapi akhirnya Allah melapangkan dadanya.

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menyebutkan bahwa ijma' (kesepakatan) para sahabat atas pengumpulan Al-Qur'an ini adalah bukti bahwa hal tersebut adalah kebaikan yang disepakati.

Story Telling

Ada kisah menarik tentang Abu Khuzaimah Al-Anshari radhiyallahu 'anhu. Beliau adalah sahabat yang mendapat keistimewaan dari Nabi ﷺ. Dalam sebuah riwayat, ketika Nabi ﷺ membeli seekor kuda dari seorang Badui, orang Badui itu mengingkari penjualannya dan menuntut bukti. Tidak ada saksi yang hadir saat itu. Maka Nabi ﷺ bersaksi, dan Abu Khuzaimah pun maju dan berkata, "Aku bersaksi bahwa engkau telah menjual kuda itu kepadanya, wahai Rasulullah."

Nabi ﷺ bertanya, "Bagaimana engkau bisa bersaksi padahal engkau tidak hadir saat transaksi?"

Abu Khuzaimah menjawab, "Kami membenarkan engkau wahai Rasulullah atas berita langit (wahyu), bagaimana kami tidak membenarkanmu atas perkara dunia ini?"

Maka Nabi ﷺ menjadikan kesaksian Abu Khuzaimah setara dengan dua orang saksi. Karena itulah, ketika Zaid bin Tsabit menemukan dua ayat terakhir Surat At-Taubah hanya pada Abu Khuzaimah, beliau menerimanya karena keistimewaan ini. (Kisah ini disebutkan oleh para ulama dalam kitab-kitab sirah dan syarah hadits).

Hikmahnya: Kejujuran dan kepercayaan yang dibangun di atas keimanan akan membawa keberkahan. Abu Khuzaimah mendapatkan kehormatan di dunia dengan menjadi saksi penyempurna penulisan Al-Qur'an, dan di akhirat dengan pahala yang besar.

Kesimpulan Praktis

  1. Menjaga Al-Qur'an adalah tugas setiap muslim — minimal dengan membaca, mempelajari, dan mengamalkannya.
  2. Kehati-hatian dalam ilmu — para sahabat sangat teliti dalam meriwayatkan dan menulis Al-Qur'an. Kita pun harus berhati-hati dalam menyampaikan ilmu agama.
  3. Menghargai jasa para sahabat — pengumpulan Al-Qur'an adalah salah satu nikmat terbesar yang Allah berikan melalui tangan Abu Bakar, Umar, Zaid bin Tsabit, dan para sahabat lainnya.
  4. Kejujuran adalah sifat yang dihargai — Abu Khuzaimah mendapatkan kehormatan karena kejujurannya di hadapan Nabi ﷺ.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.