Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengabarkan bahwa masa turunnya Al-Qur'an kepada Nabi ﷺ berlangsung selama kurang lebih dua puluh tahun, dengan rincian sepuluh tahun di Makkah dan sepuluh tahun di Madinah. Ini menunjukkan bahwa Al-Qur'an diturunkan secara bertahap, tidak sekaligus, agar mudah dihafal, dipahami, dan diamalkan oleh kaum Muslimin. Penurunan bertahap ini adalah bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:
Hadits yang Anda sebutkan diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Keutamaan Al-Qur'an, Bab Bagaimana Turunnya Wahyu dan Apa yang Pertama Kali Turun, no. 4979. Berikut teks haditsnya:
> حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى، عَنْ شَيْبَانَ، عَنْ يَحْيَى، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، قَالَ أَخْبَرَتْنِي عَائِشَةُ، وَابْنُ، عَبَّاسٍ رضى الله عنهم قَالاَ لَبِثَ النَّبِيُّ ﷺ بِمَكَّةَ عَشْرَ سِنِينَ يُنْزَلُ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ وَبِالْمَدِينَةِ عَشْرَ سِنِينَ.
Makna hadits: Dari Aisyah dan Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, keduanya berkata: "Nabi ﷺ tinggal di Makkah selama sepuluh tahun, selama itu Al-Qur'an diturunkan kepadanya; dan beliau tinggal di Madinah selama sepuluh tahun."
Dalil Al-Qur'an tentang Penurunan Bertahap:
Allah Ta'ala berfirman:
> وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَىٰ مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيلًا
QS. Al-Isra' [17]: 106
Artinya: "Dan Al-Qur'an itu Kami turunkan secara berangsur-angsur agar engkau membacakannya kepada manusia secara perlahan-lahan, dan Kami menurunkannya secara bertahap."
Allah juga berfirman:
> وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً ۚ كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ ۖ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا
QS. Al-Furqan [25]: 32
Artinya: "Orang-orang yang kafir berkata: 'Mengapa Al-Qur'an itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus?' Demikianlah, agar Kami perkuat hatimu dengannya, dan Kami membacakannya secara berangsur-angsur."
Penjelasan Ulama:
- Imam Ibnu Katsir (wafat 774 H) dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa hikmah penurunan Al-Qur'an secara bertahap adalah untuk memperkuat hati Nabi ﷺ, memudahkan hafalan, dan memudahkan pemahaman serta pengamalan. Beliau menukil pendapat para ulama bahwa Al-Qur'an diturunkan dari Lauh Mahfuzh ke Baitul 'Izzah di langit dunia sekaligus, kemudian diturunkan kepada Nabi ﷺ secara bertahap selama dua puluh tahun sesuai dengan peristiwa dan kebutuhan.
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di (wafat 1376 H) dalam Tafsir As-Sa'di (Taisir Al-Karim Ar-Rahman) menjelaskan bahwa penurunan bertahap ini mengandung hikmah besar, yaitu agar kaum Muslimin terbiasa menerima syariat secara bertahap, tidak memberatkan, dan agar hukum-hukum dapat dipahami serta diamalkan dengan mantap.
Penjelasan Rinci
Hadits ini adalah salah satu dalil yang menjelaskan periode turunnya wahyu. Berikut beberapa poin penting yang dijelaskan oleh para ulama dari daftar rujukan kita:
- Masa Turunnya Wahyu: Hadits ini dengan tegas menyebutkan bahwa Nabi ﷺ tinggal di Makkah selama sepuluh tahun setelah beliau diangkat menjadi Rasul, dan selama itu Al-Qur'an turun kepadanya. Kemudian beliau hijrah ke Madinah dan tinggal di sana selama sepuluh tahun, dan selama itu pula Al-Qur'an terus turun. Total masa turunnya wahyu adalah dua puluh tahun. Ini adalah pendapat yang masyhur dan dikuatkan oleh banyak ulama.
- Hikmah Penurunan Bertahap: Para ulama, di antaranya Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah (wafat 751 H) dalam kitabnya, menjelaskan beberapa hikmah besar dari penurunan Al-Qur'an secara bertahap:
- Menguatkan Hati Nabi ﷺ: Setiap kali wahyu turun, hati beliau menjadi lebih tenang dan kuat dalam menghadapi tantangan dakwah. Ini sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Furqan [25]: 32.
- Memudahkan Penghafalan dan Pemahaman: Kaum Muslimin saat itu mayoritas tidak bisa membaca dan menulis. Turunnya secara bertahap memudahkan mereka untuk menghafal, memahami, dan mengamalkan ayat-ayat tersebut.
- Tahapan dalam Menetapkan Hukum: Syariat Islam tidak langsung ditetapkan sekaligus. Contohnya, larangan khamr (minuman keras) diturunkan secara bertahap. Pada awalnya hanya dijelaskan mudharatnya, kemudian dilarang pada waktu-waktu tertentu, hingga akhirnya diharamkan secara total. Ini adalah bentuk kearifan dalam pendidikan dan pembinaan umat.
- Pendapat Ulama Lain: Ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa masa tinggal Nabi ﷺ di Makkah setelah kenabian adalah tiga belas tahun. Namun, hadits yang diriwayatkan Aisyah dan Ibnu Abbas ini menyebutkan sepuluh tahun. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani (wafat 852 H) dalam Fath Al-Bari menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "sepuluh tahun" di sini adalah sepuluh tahun setelah turunnya wahyu pertama kali di Gua Hira, sementara periode sebelumnya (sebelum wahyu) tidak dihitung. Ini menunjukkan bahwa hadits ini tidak bertentangan dengan pendapat yang menyebutkan tiga belas tahun, karena tiga belas tahun itu adalah total masa tinggal beliau di Makkah setelah diangkat menjadi Nabi, sedangkan sepuluh tahun adalah masa turunnya Al-Qur'an secara khusus.
Story Telling
Dahulu, para sahabat sangat memperhatikan bagaimana Al-Qur'an diturunkan dan dipelajari. Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari sahabat Jundub bin Abdillah Al-Bajali radhiyallahu 'anhu, bahwa para sahabat belajar iman (keyakinan) terlebih dahulu, kemudian baru belajar Al-Qur'an. Dengan demikian, keimanan mereka bertambah kokoh, lalu Al-Qur'an pun turun menambah keimanan mereka.
Ini menunjukkan bahwa penurunan Al-Qur'an secara bertahap mengajarkan kita untuk tidak terburu-buru dalam menuntut ilmu dan mengamalkannya. Para sahabat belajar sedikit demi sedikit, tetapi mantap dan mendalam. Mereka tidak hanya menghafal teks, tetapi juga memahami makna dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Inilah teladan terbaik dalam menuntut ilmu agama.
Kesimpulan Praktis
- Yakinlah bahwa Al-Qur'an adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ selama dua puluh tahun, sebagai bukti kebenaran risalahnya.
- Ambil pelajaran tentang pentingnya bertahap dalam belajar, mengajarkan, dan mengamalkan agama. Jangan terburu-buru, tetapi lakukan dengan istiqamah dan penuh pemahaman.
- Jadikan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup, baca, pahami, dan amalkan isinya dalam kehidupan sehari-hari, sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi ﷺ dan para sahabatnya.
- Bersyukurlah atas kemudahan mempelajari Al-Qur'an di zaman ini, dan jangan sia-siakan kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui kitab-Nya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.