Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa masa turunnya Al-Qur'an kepada Nabi ﷺ berlangsung selama kurang lebih dua puluh tahun, terbagi menjadi sepuluh tahun di Makkah dan sepuluh tahun di Madinah. Ini menunjukkan bahwa Al-Qur'an diturunkan secara bertahap, tidak sekaligus, sebagai bentuk kasih sayang Allah dan hikmah yang mendalam untuk menguatkan hati Nabi ﷺ dan memudahkan umat dalam menerima serta mengamalkannya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:
Teks Arab hadits (dengan harakat):
حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى، عَنْ شَيْبَانَ، عَنْ يَحْيَى، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، قَالَ أَخْبَرَتْنِي عَائِشَةُ، وَابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَا: لَبِثَ النَّبِيُّ ﷺ بِمَكَّةَ عَشْرَ سِنِينَ يُنْزَلُ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ وَبِالْمَدِينَةِ عَشْرَ سِنِينَ.
Makna: "Nabi ﷺ tinggal di Makkah selama sepuluh tahun, selama itu Al-Qur'an diturunkan kepadanya; dan beliau tinggal di Madinah selama sepuluh tahun."
Dalil Al-Qur'an yang relevan:
Allah Ta'ala berfirman:
وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَىٰ مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيلًا
"Dan Al-Qur'an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya kepada manusia secara perlahan-lahan, dan Kami menurunkannya secara bertahap." (QS. Al-Isra' [17]: 106)
Ayat ini menegaskan hikmah turunnya Al-Qur'an secara bertahap, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama tafsir dari kalangan salaf.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini memberikan informasi penting tentang periode turunnya wahyu. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa masa turunnya Al-Qur'an seluruhnya adalah dua puluh tiga tahun. Ada yang mengatakan dua puluh dua tahun, dan ada pula yang mengatakan dua puluh lima tahun. Namun, yang masyhur adalah dua puluh tiga tahun, dengan perincian: tiga belas tahun di Makkah dan sepuluh tahun di Madinah. Adapun hadits di atas menyebut sepuluh tahun di Makkah, dan ini adalah pendapat yang diriwayatkan dari Aisyah dan Ibnu Abbas. Perbedaan ini bisa dimaklumi karena ada sebagian ulama yang menghitung masa Makkah sebelum diutusnya beliau atau setelahnya, atau karena perbedaan dalam menghitung tahun.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa hikmah turunnya Al-Qur'an secara bertahap adalah untuk menguatkan hati Nabi ﷺ, sebagaimana firman Allah:
وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً ۚ كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ ۖ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا
"Berkatalah orang-orang yang kafir: 'Mengapa Al-Qur'an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?' Demikianlah, supaya Kami perkuat hatimu dengannya, dan Kami membacakannya secara tartil (berangsur-angsur)." (QS. Al-Furqan [25]: 32)
Imam Ibnul Qayyim juga menekankan bahwa penurunan secara bertahap ini memiliki banyak hikmah, di antaranya: memudahkan penghafalan dan pemahaman, menumbuhkan semangat beramal secara bertahap, dan menjawab berbagai peristiwa yang terjadi dengan bimbingan langsung dari Allah.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa turunnya Al-Qur'an secara berangsur-angsur adalah bukti kasih sayang Allah kepada hamba-Nya, karena mereka tidak akan mampu menerima seluruh syariat sekaligus. Maka Allah menurunkannya sedikit demi sedikit agar mudah dihafal, dipahami, dan diamalkan.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika wahyu pertama turun di Gua Hira, Nabi ﷺ pulang kepada Khadijah dengan gemetar. Beliau bersabda: "Selimutilah aku, selimutilah aku." Kemudian Allah menurunkan firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ * قُمْ فَأَنْذِرْ
"Wahai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan!" (QS. Al-Muddatsir [74]: 1-2)
Dari sini kita belajar bahwa dakwah dimulai secara bertahap. Nabi ﷺ tidak langsung diperintahkan untuk menyampaikan semua ajaran sekaligus, tetapi bertahap sesuai kemampuan dan kondisi. Ini adalah pelajaran besar bagi kita dalam berdakwah dan mendidik: kesabaran dan kebertahapan adalah kunci keberhasilan.
Kesimpulan Praktis
- Al-Qur'an diturunkan secara bertahap selama kurang lebih dua puluh tiga tahun sebagai rahmat dan hikmah dari Allah.
- Kita harus meyakini bahwa setiap tahapan dalam hidup memiliki hikmah, sebagaimana wahyu yang turun bertahap.
- Dalam berdakwah dan mendidik, kita perlu meneladani metode Nabi ﷺ yang bertahap, sabar, dan penuh kasih sayang.
- Hendaknya kita semakin mencintai Al-Qur'an, membacanya, memahami, dan mengamalkannya, karena ia adalah petunjuk hidup yang sempurna.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.