Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan dua kesalahan besar manusia terhadap Allah: (1) mengingkari kebangkitan setelah mati, dan (2) menisbatkan anak kepada Allah. Keduanya disebut "kedustaan" dan "celaan" karena mengandung tuduhan yang tidak layak bagi Allah. Allah Maha Suci dari segala kekurangan, dan Dialah Ash-Shamad — Yang Maha Sempurna, tidak beranak, tidak dilahirkan, dan tidak ada yang setara dengan-Nya.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang disebutkan dalam hadits:
وَلَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُؤًا أَحَدٌ
"Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya." (QS. Al-Ikhlas [112]: 3–4)
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tafsir, dari sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه, melalui jalur Ma'mar dari Hammam.
Keterkaitan dengan ulama:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini termasuk hadits qudsi yang menegaskan kemuliaan Allah dan bantahan terhadap keyakinan batil.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (ketika membahas hadits serupa) menegaskan bahwa menisbatkan anak kepada Allah adalah kekufuran yang nyata.
- Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa surat Al-Ikhlas adalah jawaban langsung atas pertanyaan tentang sifat Allah, dan hadits ini menguatkan makna tersebut.
- Syeikh Abdurrahman as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menjelaskan makna Ash-Shamad sebagai Yang Maha Sempurna dalam segala sifat-Nya, yang semua makhluk bergantung kepada-Nya.
Penjelasan Rinci
Makna "Mendustakan Allah":
Hadits ini menyebutkan bahwa manusia "mendustakan" Allah ketika ia mengatakan Allah tidak akan menghidupkannya kembali setelah mati. Ini disebut dusta karena:
- Allah telah menciptakan manusia dari ketiadaan. Menciptakan ulang tentu lebih mudah bagi-Nya.
- Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan janji-Nya pasti benar.
Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsirnya bahwa pengingkaran terhadap hari kebangkitan adalah bentuk pendustaan terhadap kekuasaan Allah dan janji-Nya yang pasti.
Makna "Mencela Allah":
Celaan yang dimaksud adalah ketika seseorang mengatakan Allah memiliki anak. Ini adalah celaan karena:
- Menisbatkan anak kepada Allah berarti menisbatkan sifat makhluk kepada Pencipta.
- Allah Maha Kaya dan tidak membutuhkan apa pun, termasuk anak.
- Ash-Shamad berarti Allah adalah tujuan segala kebutuhan, sempurna dalam segala hal, tidak beranak dan tidak dilahirkan.
Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa ucapan "Allah mempunyai anak" adalah kekufuran karena mengandung penyerupaan Allah dengan makhluk, dan menafikan kesempurnaan-Nya.
Ibnu Hajar al-Asqalani menambahkan bahwa hadits ini menunjukkan betapa besarnya dosa mengingkari kebangkitan dan menisbatkan anak kepada Allah, karena keduanya mengandung pendustaan terhadap sifat kesempurnaan Allah.
Perbedaan pendapat ulama:
Para ulama sepakat bahwa kedua perbuatan ini adalah dosa besar. Namun, sebagian ulama membedakan antara orang yang mengingkari kebangkitan karena kebodohan (dan masih beriman secara umum) dengan orang yang mengingkarinya secara sengaja dan menentang. Adapun menisbatkan anak kepada Allah, para ulama sepakat bahwa ini adalah kekufuran yang mengeluarkan seseorang dari Islam jika ia mengetahuinya dan tetap melakukannya.
Pendapat yang paling kuat:
Yang paling kuat adalah pendapat Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim yang menegaskan bahwa kedua perbuatan ini mengandung pendustaan terhadap Allah dan merupakan dosa yang sangat besar. Namun, seseorang yang mengucapkannya karena kebodohan yang sangat dalam (seperti orang awam yang tidak tahu) tidak serta-merta dihukumi kafir, selama ia masih mengakui keberadaan Allah dan kerasulan Nabi Muhammad ﷺ. Wallahu a'lam.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa seorang Arab Badui pernah datang kepada Nabi ﷺ dan bertanya tentang kebangkitan. Nabi ﷺ menjelaskan bahwa Allah yang menciptakan dari ketiadaan pasti mampu menghidupkan kembali. Orang Badui itu kemudian beriman.
Hikmah: Keraguan tentang kebangkitan sering muncul karena manusia lupa bahwa Allah yang menciptakan pertama kali pasti mampu menciptakan ulang. Ini adalah pelajaran agar kita selalu merenungkan kekuasaan Allah dan tidak meragukan janji-Nya.
Kesimpulan Praktis
- Yakinlah pada kebangkitan. Allah yang menciptakan kita dari ketiadaan pasti mampu menghidupkan kita kembali.
- Jauhilah keyakinan bahwa Allah memiliki anak. Ini adalah kekufuran yang nyata.
- Renungkan makna Ash-Shamad. Allah Maha Sempurna, tidak butuh apa pun, dan semua makhluk bergantung kepada-Nya.
- Bertaubatlah jika pernah ragu. Keraguan tentang kebangkitan adalah bisikan setan; lawanlah dengan ilmu dan iman.
- Ajarkan tauhid yang benar. Sampaikan kepada keluarga dan sahabat bahwa Allah Maha Esa, tidak beranak dan tidak dilahirkan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.