Penjelasan Hadits Bukhari No. 4974 tentang Bantahan Allah atas tuduhan dusta dan celaan manusia

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah hadits qudsi (firman Allah yang disampaikan Nabi ﷺ) yang menjelaskan dua kesalahan besar manusia: (1) mengingkari kebangkitan setelah mati, dan (2) menisbatkan anak kepada Allah. Allah menegaskan bahwa menciptakan ulang manusia itu mudah bagi-Nya, dan bahwa Dia Maha Esa, tidak beranak dan tidak diperanakkan. Hadits ini mengajarkan tauhid yang murni dan keyakinan penuh pada hari kebangkitan.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang sangat terkait:

QS. Al-Ikhlas [112]: 1-4

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ۝ اللَّهُ الصَّمَدُ ۝ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ۝ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Terjemahan: "Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah Yang menjadi tumpuan segala sesuatu. Dia tidak melahirkan dan tidak dilahirkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya."

QS. Yasin [36]: 78-79

ضَرَبَ لِي مَثَلًا وَنَسِيَ خَلْقَهُ ۖ قَالَ مَنْ يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ ۝ قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ

Terjemahan: "Dia membuat perumpamaan bagi-Ku dan melupakan penciptaannya sendiri. Dia berkata: 'Siapa yang dapat menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur?' Katakanlah: 'Yang menghidupkannya adalah Allah yang menciptakannya pertama kali, dan Dia Maha Mengetahui segala makhluk.'"

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tafsir, dari Abu Hurairah رضي الله عنه, melalui jalur Abu Al-Yaman → Syu'aib → Abu Az-Zinad → Al-A'raj → Abu Hurairah.

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa hadits ini berkaitan erat dengan surat Al-Ikhlas, dan Allah sendiri yang menyebutkan dua bentuk "kedustaan" dan "celaan" manusia terhadap-Nya.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

Hadits ini termasuk hadits qudsi, yaitu firman Allah yang lafazhnya dari Nabi ﷺ dan maknanya dari Allah. Di dalamnya Allah menyebutkan dua dosa besar lisan manusia:

Pertama: Mendustakan Allah (تكذيب)

Yaitu ucapan sebagian manusia yang mengingkari hari kebangkitan: "Allah tidak akan menghidupkan aku kembali setelah aku mati." Allah membantah dengan firman-Nya: "Padahal penciptaan pertama tidak lebih mudah bagi-Ku daripada mengembalikannya." Artinya, jika Allah mampu menciptakan dari tidak ada, maka menghidupkan kembali tentu lebih mudah — bahkan keduanya sama mudahnya bagi Allah.

Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya menyebutkan bahwa pengingkaran terhadap kebangkitan adalah bentuk pendustaan terhadap kekuasaan Allah, padahal bukti penciptaan pertama sudah sangat jelas.

Kedua: Mencela Allah (شتم)

Yaitu ucapan orang yang menisbatkan anak kepada Allah, seperti ucapan orang Nasrani bahwa Isa adalah anak Allah, atau orang musyrik bahwa malaikat adalah anak-anak Allah. Allah membantah dengan menegaskan sifat-sifat-Nya: "Aku adalah Al-Ahad (Yang Maha Esa), Ash-Shamad (Yang menjadi tumpuan segala sesuatu), tidak melahirkan dan tidak dilahirkan, dan tidak ada yang setara dengan-Ku."

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa surat Al-Ikhlas adalah jawaban langsung Allah terhadap orang-orang yang menisbatkan anak kepada-Nya. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim juga menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan agungnya kedudukan tauhid dan bahayanya syirik.

Perbedaan pendapat ulama:

Sebagian ulama seperti Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa "kedustaan" di sini bukan berarti manusia benar-benar mendustakan Allah dengan pengetahuan, tetapi karena ucapan mereka mengandung pendustaan terhadap kebenaran yang Allah telah tetapkan. Sedangkan Imam Ahmad bin Hanbal menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa Allah berbicara (berfirman) secara hakiki, dan ini adalah bagian dari aqidah Ahlus Sunnah.

Kesimpulan ulama:

  • Imam Al-Bukhari memasukkan hadits ini dalam Kitab Tafsir, menunjukkan kaitan erat dengan penafsiran surat Al-Ikhlas.
  • Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menegaskan bahwa hadits ini mengajarkan tauhid rububiyah (Allah satu-satunya Pencipta dan Pembangkit) dan tauhid asma wa sifat (Allah Maha Esa dan tidak serupa dengan makhluk).

Story Telling

Diriwayatkan bahwa seorang Arab badui pernah datang kepada Nabi ﷺ dan bertanya tentang kebangkitan. Nabi ﷺ membacakan ayat-ayat tentang penciptaan pertama, dan badui itu pun beriman. Kisah ini menunjukkan bahwa hati yang jujur akan menerima kebenaran ketika disampaikan dengan jelas.

Imam Al-Bukhari sendiri, ketika menyusun Shahih-nya, sangat teliti dalam memilih hadits-hadits aqidah seperti ini, karena beliau ingin menegakkan pemahaman Ahlus Sunnah yang murni — bahwa Allah Maha Esa, tidak beranak, dan Maha Kuasa menghidupkan kembali manusia.

Kesimpulan Praktis

  1. Yakinlah pada hari kebangkitan. Allah yang menciptakan kita pertama kali pasti mampu menghidupkan kita kembali.
  2. Jauhi syirik dalam bentuk apa pun, termasuk meyakini Allah punya anak atau setara dengan makhluk.
  3. Hafalkan dan renungkan surat Al-Ikhlas, karena ia adalah jawaban langsung Allah terhadap celaan manusia.
  4. Jaga lisan dari ucapan yang mengandung pendustaan atau celaan terhadap Allah, baik secara sadar maupun tidak.
  5. Pelajari tauhid dari sumber yang benar, yaitu Al-Qur'an, hadits shahih, dan penjelasan ulama Ahlus Sunnah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?